Orang yang selalu aktif di media sosial biasanya menjadi orang yang paling tahu lebih dulu tentang apa yang terjadi. Dia bisa membagikan informasi tersebut dengan cepat kepada orang lain. Sebagai contoh, kata Nuning, ketika ada berita gempa, banjir, macet, masyarakat dunia maya (netizen) membagikan berita tersebut secara real time kepada orang lain hingga mengkritisinya melalui media sosialnya.
Penyebaran informasi yang cepat, menyebabkan netizen bereaksi secara cepat juga terhadap sebuah fenomena. Tidak jarang reaksi netizen menjadi trending topic atau viral sehingga bisa sampai mempengaruhi kebijakan pemerintah. Dari sisi negatif, ketergantungan masyarakat terhadap media sosial bisa jadi dianggap mengurangi waktu produktif, sehingga pekerjaan menjadi terganggu.
Menyebabkan masalah fisik seperti kurang tidur dan mata terus menatap gadget mengakibatkan kesehatan fisik terganggu. ”Orang dengan tingkat ketergantungan yang tinggi bisa dianggap memiliki masalah mental. Terganggunya real life (dunia nyata) sehingga kehidupan nyata menjadi kacau,” terang Nuning.
Sulitnya seseorang membedakan kehidupan nyata dan dunia maya akibat media sosial menimbulkan berbagai dampak negatif. Penggunaan media sosial yang semakin berkembang di China dituding menjadi salah satu penyebab meningkatnya perceraian. Laporan kantor hukum Shuangli di Beijing -yang antara lain menangani kasus perceraian- menyebut 9 dari 10 perceraian mencakup pertengkaran yang dipicu oleh media sosial.
Sementara itu, menurut survei yang dilakukan terhadap 2.000 pasangan suami-istri di Inggris, media sosial ternyata bisa memicu perceraian. Seperti dikutip dari Digital Trends, dalam survei yang dilakukan biro hukum Slater and Gordon tersebut ditemukan bahwa satu dari tujuh orang yang menikah menyatakan mereka mempertimbangkan untuk bercerai karena pasangannya mulai bertingkah di media sosial ataupun aplikasinya.
Media sosial yang digunakan beragamdari Facebook, Snapchat, Skype, Whatsapp, serta Twitter. Sementara itu satu dari empat pasangan yang menikah terlibat pertengkaran rutin setiap minggu yang terkait dengan aktivitas di media sosial. Temuan lainnya adalah 17% menyatakan bahwa mereka bertengkar dengan pasangannya setiap hari karena aktivitas di media sosial.