JAKARTA - Electronic Arts (EA) menutup studio game legendaris BioWare, yang berada di balik waralaba sukses dan ikonik seperti Dragon Age, Baldur's Gate, dan Mass Effect. Penutupan ini diumumkan hanya beberapa minggu setelah akuisisi perusahaan tersebut oleh sebuah konsorsium firma rampung dan statusnya berubah menjadi perusahaan privat.
EA menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk menata ulang bisnis demi mendorong “pertumbuhan berkelanjutan” serta menentukan prioritas ulang terhadap proyek-proyek dalam portofolio gim mereka yang akan datang. Sebagai bagian dari upaya perampingan ini, EA dikabarkan akan memangkas 400 posisi pekerjaan di seluruh perusahaan.
Langkah pengurangan tenaga kerja, yang pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg pada Rabu (21/10/2026), berujung pada penutupan BioWare—sebuah studio gim bersejarah yang pernah menggarap judul-judul legendaris penentu arah industri, seperti Baldur's Gate dan Star Wars: Knights of the Old Republic, sebelum meraih kesuksesan lebih luas melalui waralaba Dragon Age dan Mass Effect.
EA juga mengumumkan pembatalan gim Mass Effect berikutnya, yang saat itu tengah dalam tahap pengembangan awal oleh sebuah tim kecil di BioWare. Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber internal perusahaan, seluruh anggota tim BioWare yang berjumlah sekitar 50 orang akan diberhentikan.
“BioWare adalah studio legendaris yang turut mendefinisikan genre permainan peran (RPG), dan kami tidak mengambil keputusan ini dengan mudah,” ujar EA dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir Gadgets 360.
“Selama lebih dari 30 tahun, BioWare bukan sekadar studio. Tempat ini telah menjadi rumah bagi para pencerita, pengembang, dan para pemain yang menghidupkan dunia-dunia ciptaan kami,” tulis BioWare dalam sebuah pesan yang dibagikan melalui berbagai platform media sosial.
“Kini, setelah lebih dari tiga dekade berbagi petualangan, BioWare resmi ditutup dan pengembangan awal untuk proyek Mass Effect berikutnya pun dihentikan. Tidaklah mudah untuk menuliskan kata-kata ini. Fokus kami saat ini tertuju pada tim kami yang sangat berbakat—mereka yang telah mencurahkan segenap hati ke dalam gim-gim ini—serta saling memberikan dukungan satu sama lain selama masa transisi ini.”
EA menyatakan akan menata ulang prioritas investasi pada waralaba-waralaba utamanya yang mencakup genre shooter, olahraga, dan aksi-petualangan. Ini termasuk Battlefield, Apex Legends, gim Star Wars Jedi berikutnya, serta dua proyek EA Sports baru—salah satunya adalah gim American Football dunia terbuka yang mengedepankan aspek sosial (dengan nama kode “Project Gridiron”) dan satu judul baru dalam seri gim tinju Fight Night.
Dua studio EA—Respawn dan DICE—akan berkolaborasi dalam sebuah proyek mendatang yang akan memperluas portofolio gim shooter perusahaan, di samping pengembangan judul-judul Battlefield di masa depan. Untuk genre aksi-petualangan, EA menyatakan akan lebih berfokus pada jumlah proyek berskala besar yang lebih sedikit agar setiap proyek benar-benar "dipersiapkan untuk meraih kesuksesan".
Selain itu, perusahaan mengonfirmasi penghentian pengembangan Project Lotus—judul The Sims versi multiplayer untuk perangkat seluler—guna memusatkan upaya pada Project Evergreen, yang diperkirakan akan menjadi penerus The Sims 4.
Langkah pengurangan ini dilakukan EA hanya berselang dua bulan setelah perusahaan tersebut merampungkan akuisisi oleh konsorsium yang terdiri dari Public Investment Fund Arab Saudi, firma ekuitas swasta Silver Lake, dan perusahaan investasi Amerika Affinity Partners, yang sekaligus mengubah status EA menjadi perusahaan tertutup. Akuisisi ini dilakukan melalui kesepakatan leveraged buyout (pembelian dengan utang) yang memecahkan rekor, dengan nilai mencapai USD55 miliar.
Namun, sebagai bagian dari akuisisi tersebut, EA juga menanggung utang sebesar USD20 miliar yang berasal dari pendanaan yang disediakan oleh JPMorgan. Sebelum akuisisi rampung, utang non-konvertibel EA yang jatuh tempo pada tahun 2026 tercatat sebesar USD1,485 miliar.
Pada Mei 2025, EA membatalkan pengembangan gim Black Panther dan menutup studio pengembang Cliffhanger Games sebagai bagian dari rangkaian pengurangan besar-besaran di perusahaan tersebut. Beberapa minggu sebelumnya, perusahaan juga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawan di Respawn dan membatalkan sebuah gim Titanfall. Selain PHK di tingkat perusahaan induk, pengurangan staf di BioWare juga menyisakan kurang dari 100 karyawan di studio tersebut, menyusul peluncuran Dragon Age: The Veilguard pada tahun 2024 yang dinilai kurang memuaskan.
(Rahman Asmardika)