JAKARTA – "Jam Kiamat" yang mengevaluasi keadaan dunia setiap tahunnya kembali bergerak ke posisi 85 detik menuju tengah malam, yang merupakan posisi terdekat yang pernah ada untuk menandai bencana global buatan manusia.
Bulletin of the Atomic Scientists, organisasi yang memperbarui Jam Kiamat, menyebut ancaman perang nuklir, perubahan iklim, dan kecerdasan buatan (AI) sebagai faktor utama yang mendorong pergerakan Jam Kiamat tahun ini.
"Lintasan kita saat ini tidak bisa dilanjutkan," tulis buletin tersebut dalam laporan mereka, sebagaimana dilansir Live Science. "Para pemimpin nasional — khususnya di Amerika Serikat, Rusia, dan China— harus memimpin dalam menemukan jalan keluar dari jurang kehancuran."
Kompetisi senjata nuklir antara negara-negara besar, termasuk dilanjutkannya uji coba nuklir oleh Amerika Serikat, semakin mempercepat perlombaan senjata. Konflik yang meningkat ini terjadi di tengah percepatan perubahan iklim, yang juga gagal dikendalikan oleh berbagai negara, turut berkontribusi pada pergerakan maju Jam Kiamat.
Seperti tahun lalu, buletin juga memperingatkan tentang teknologi yang tidak diatur, khususnya penciptaan "kehidupan cermin" atau mirror life — kehidupan yang disintesis secara kimia dan secara molekuler merupakan gambaran cermin dari kehidupan yang berevolusi secara alami di Bumi. Kekhawatiran yang muncul adalah bahwa organisme cermin dapat menggantikan mikroba alami atau organisme lain, serta dapat menghindari sistem kekebalan tubuh, yang berpotensi menyebabkan pandemi mematikan.
Menurut para penulis laporan tersebut, AI merupakan ancaman lain, baik karena kemampuannya memperkuat disinformasi maupun karena pengintegrasiannya ke dalam sektor pertahanan negara-negara. Peringatan terhadap AI juga muncul dari tokoh-tokoh teknologi, termasuk CEO Anthropic, Dario Amodei, yang mengatakan bahwa AI memiliki “kekuatan tak terbayangkan” dengan risiko besar untuk melampaui manusia dan bertindak secara otonom.
Memperbaiki masalah-masalah ini tampaknya tidak mudah, dan meningkatnya otokrasi secara global melemahkan upaya untuk mengatasi krisis internasional, demikian kesimpulan para penulis laporan tersebut.
(Rahman Asmardika)