KEBERADAAN chatbot besutan OpenAI, ChatGPT, memang menjadi penolong bagi banyak pekerja, apalagi mereka yang berhubungan dengan pemrograman. Sayangnya bagi beberapa perusahaan chatbot ini malah menjadi malapetaka.
Pasalnya, ketika seorang karyawan menggunakan ChatGPT untuk membantu pekerjaannya, maka secara tidak langsung dia mengirimkan informasi rahasia perusahaan pada OpenAI. Tidak heran jika beberapa perusahaan besar pun melarang karyawannya menggunakan ChatGPT.
Ya, chatbot bertenaga artificial intelligence (AI) ini memang rawan sekali melakukan pelanggaran privasi. Melihat hal ini, lantas sampai dititik mana pengguna boleh berbagi informasi dengan ChatGPT? Untuk menjawabnya simak paparan berikut, sebagaimana dilansir dari Techradar.
CEO OpenAI Sam Altman mengakui adanya risiko tersebut kebocoran data dari para penggunanya tersebut. Ia pun memperingatkan para pengguna bahwa salah jika mengandalkan ChatGPT untuk hal penting dan bersifat rahasia.
Pengguna harus mendekati ChatGPT dengan cara yang sama seperti platform lain seperti Facebook atau Twitter. Jika tidak ingin masyarakat umum membaca apa yang dirahasiakan, maka jangan sesekali memasukannya ke ChatGPT.
Jangan tertipu dengan sikap chatbot yang ramah. Pasalnya semua informasi yang diberikan akan digunakan kembali untuk melatih chatbot sehingga bisa memberikan informasi yang lebih baik bagi pengguna lainnya.
Meskipun banyak orang sudah menggunakan ChatGPT dan bot AI serupa untuk meningkatkan pekerjaan profesional mereka, ingatlah bahwa mereka juga setelahnya akan mengalami masalah, contohnya adalah karyawan Samsung.
Mereka tanpa sengaja telah membocorkan data rahasia perusahaan saat mencoba menggunakan ChatGPT untuk membantu mereka dalam bertugas. Parahnya lagi, ini terjadi berulang dalam jangka waktu sebulan.
Beberapa karyawan tersebut justru turut memasukkan data rahasia, untuk membantu memperbaiki masalah dengan kode sumber mereka. Data tersebut kini dipegang OpenAI dan pada akhirnya mereka harus menerima sanksi dari perusahaan.
Jadi, gunakan ChatGPT sewajarnya. Tetap berpegang pada informasi yang lebih umum, tanpa harus membagikan data yang sensitif ke AI.
(Martin Bagya Kertiyasa)