JAKARTA - Sejarah PO Doa Ibu dimulai Budi Budiman, di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada era '90-an. Ia merupakan seorang guru SMA yang memutuskan menjadi pengusaha angkutan kota pada 1990.
Di tangan Budi, Doa Ibu mampu menempel ketat dua 'jagoan' jalur selatan, PO Budiman dan PO Primajasa. Seiring perkembangan bisnisnya, PO bus ini kemudian menjadi bagian dari Grup Mayasari, yang juga dimiliki oleh Budi.

Sejarah PO Doa Ibu. (Foto: Instagram/@jahdan_1632)
Berbekal ratusan armada, Doa Ibu memakai sasis Hino RK8 dengan bodi Legacy SR1 Sky garapan karoseri Laksana. Armada bus ini identik dengan warna biru dengan livery garis warna kuning.
Soal fasilitas, setiap armada bus ini memiliki AC, toilet, smoking area, kabin bagasi, hingga bagasi bawah. Masing-masing kursi pada bus Doa Ibu diperlengkapi dengan charger port, fitur hiburan berupa TV dan musik, selimut, dan juga bantal.

Sejarah PO Doa Ibu. (Foto: Instagram/@poetrahazar_2)
Tak hanya big bus berkapasitas 54-62 penumpang, PO Doa Ibu juga menawarkan layanan mini bus yang mampu menumpang 12-17 penumpang serta medium bus berkapasitas 20 hingga 33 penumpang.
Terkait trayek, PO bus ini melayani rute dari Jakarta menuju Bandung, Banjar, Tasikmalaya, Garut, Karang Pucung, hingga Cilacap. Sementara dari Tasikmalaya, bus ini melayani trayek menuju Depok, Cikarang, dan Jakarta.*
(Siska Maria Eviline)