JAKARTA - Media sosial diramaikan dengan penemuan dua jenazah yang kain kafannya masih utuh padahal sudah belasan tahun dikubur. Ini terjadi di Dusun Mindi, Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro.
Dikabarkan bahwa semula keluarga melakukan penggalian untuk pemindahan kedua jenazah karena curah hujan yang tinggi sehingga khawatir mengalami longsor. Namun saat digali, ditemukan kafan keduanya masih utuh.
Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar di publik kenapa itu bisa terjadi. Tidak sedikit yang menghubungkannya dengan hal-hal berbau spiritual. Lantas bagaimana menurut sains? Begini penjelasannya.
Seperti dirangkum dari berbagai sumber, sebenarnya setiap benda yang ditanam di dalam tanah sejatinya akan terurai seiring berjalannya waktu. Hal ini disampaikan oleh dokter forensik Edi Suyanto.
Namun menurutnya, ada dua faktor yang bisa menyebabkan kain kafan jenazah utuh meski sudah belasan tahun dikubur, yakni karena faktor alam dan karena memang sengaja dibuat oleh manusia.
Edi memaparkan bahwa faktor alam bisa karena jenazah dikubur di daerah berkapur, tinggi asam garam, daerah yang kering, atau daerah dengan suhu rendah. Kata Edi, faktor alam ini bisa membuat kain kafan awet.
Sementara faktor kedua yakni memang memang disengaja oleh manusia adalah penggunaan bahan pengawet seperti formalin dan sebagainya sehingga kain kafan sulit untuk terurai sebagaimana mestinya.
Hal serupa pun dijelaskan dalam situs berita Gizmodo dan ini tidak hanya berlaku bagi kain kafan saja tapi juga bagi jenazah. Kedua faktor tersebut bisa membuat jenazah terhindar dari pembusukan.
Disampaikan bahwa fenomena itu dikenal dengan istilah adiposera atau adipocere. Istilah adiposera diambil dari nama zat yang populer disebut lilin mayat. Nama ilmiah zat itu berasal dari kata Latin untuk lemak (adeps) dan lilin (cere).
Lilin mayat merupakan zat putih tebal yang muncul dan keluar dari beberapa tubuh jenazah, kemudian melindungi dari proses pembusukan. Substansi lilin ini kemungkinan besar terbentuk dari lingkungan yang lembap dan basa, kemudian beraksi ketika air bersentuhan dengan jaringan lemak lunak dari jenazah.
Lokasi pemakaman yang tanahnya agak basah dan berpasir tidak banyak mengandung udara atau oksigen. Sehingga bakteri penguraian tidak bisa bertahan hidup.
(Ahmad Muhajir)