Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jokowi: Indonesia Menyadari Pentingnya Teknologi Antariksa untuk Mendukung Pemantauan SDA hingga Perubahan Iklim

Tim Okezone , Jurnalis-Senin, 24 Oktober 2022 |20:43 WIB
Jokowi: Indonesia Menyadari Pentingnya Teknologi Antariksa untuk Mendukung Pemantauan SDA hingga Perubahan Iklim
Teknologi antariksa (Foto: Space)
A
A
A

INDONESIA adalah salah satu negara yang mendukung Regional Space Application Programme (RESAP) for Sustainable Development yang dicanangkan oleh negara-negara anggota United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP) pada the first ministerial conference on space applications for sustainable development in Asia and the Pacific di Beijing, 19-24 September 1994. Strategi dan Rencana Aksi RESAP bertujuan mengatasi sejumlah masalah, termasuk koordinasi, kerja sama dan interaksi, pengembangan sumber daya manusia; standarisasi perangkat keras dan perangkat lunak; dan pertukaran informasi di bidang keantariksaan.

UN ESCAP berkepentingan memastikan tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 di kawasan Asia Pasifik. Bersamaan dengan itu, Sekjen PBB mengemukakan peran penting strategi yang berdasarkan data yang akurat dan tepat waktu. Data yang dimaksud mencakup data spasial (penginderaan jauh) untuk pemanfaatan keantariksaan.

Pada 10 Oktober 2018, para Menteri dan pimpinan komunitas antariksa dari lebih 30 negara berkumpul di Bangkok dalam acara Third Ministerial Conference on Space Applications for Sustainable Development (MC-3 SASD) dan mengadopsi dua dokumen yaitu: (1) Deklarasi tingkat Menteri tentang Aplikasi Antariksa untuk Pembangunan Berkelanjutan, dan (2) Rencana Aksi Asia Pasifik tentang Aplikasi Antariksa untuk Pembangunan Berkelanjutan (2018-2030). Rencana aksi tersebut terbagi dalam tiga fase yaitu 2018-2022, 2022-2026, dan 2026-2030.

Empat tahun kemudian, Fourth Ministerial Conference on Space Applications for Sustainable Development in Asia and the Pacific (MC-4 SASD) dengan tema “Space+ for our Earth and future” direncanakan diselenggarakan di Jakarta secara hybrid pada tanggal 26 Oktober 2022 yang rencananya akan dihadiri oleh sekitar 60 negara, untuk membahas kemajuan pelaksanaan rencana aksi fase pertama (2018-2022). Pada pertemuan tersebut Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko akan berperan sebagai Chair of the Conference, didampingi oleh 2 Vice-Chair yang akan ditentukan kemudian oleh UN ESCAP.

Sekretaris Eksekutif ESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana menyebutkan, konferensi tingkat Menteri ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperbaharui komitmen dan juga menyepakati inisiatif kolaborasi baru yang mempercepat implementasi Plan of Action saat memasuki Tahap II (2022-2026).

“Saya yakin bahwa semangat kerjasama dan solidaritas yang sama seperti saat konferensi tingkat menteri sebelumnya di tahun 2018, ketika kita mengadopsi rencana aksi, akan bertahan saat kita memulai implementasi Asia-Pacific Plan of Action tahap kedua (2022-2026),” sebutnya.

 Jokowi

Hal senada juga pernah disampaikan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang mengatakan, sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia menyadari pentingnya penggunaan teknologi dan inovasi termasuk teknologi antariksa untuk mendukung kajian dan pemantauan sumberdaya alam, perubahan iklim, bencana alam, dan pembangunan sosial.

Presiden juga menyampaikan berbagai pemanfaatan data satelit yang telah dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi di seluruh wilayah Indonesia untuk pemantauan penutup lahan, hutan, dan perkebunan, fase pertumbuhan padi, zona potensi penangkapan ikan, dampak perubahan iklim, dan untuk informasi tanggap darurat bencana seperti tsunami di Palu tahun 2018, letusan Gunung Krakatau tahun 2019, banjir di Banten tahun 2020, dan gempa bumi di Sulawesi Barat tahun 2021.

 BACA JUGA:Layanan Jaringan 5G dari Antariksa Diuji Pesaing SpaceX

Tahun ini Indonesia juga ditunjuk sebagai tuan rumah dari Kelompok 20 atau Forum G20. Forum G20 juga dimanfaatkan untuk menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang, khususnya di bidang kesehatan, transformasi digital, transisi energi, dan ketahanan pangan. Bidang-bidang tersebut sangat sejalan dengan target Pembangunan Berkelanjutan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), Suharso Monoarfa mengucapkan bahwa salah satu tantangan dalam rencana aksi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah basis data dan metadata yang belum terintegrasi secara global, regional, dan nasional diantara negara-negara anggota.

Dengan adanya Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (2021-2024), Asia-Pacific Plan of Action tahap kedua (2022 – 2026), pemanfaatan teknologi keantariksaan, inovasi dan terobosan-terobosan baru termasuk inisiatif Space+, kerangka infomasi geospasial terintegrasi dengan kerangka informasi non-geospasial, dukungan teknologi dijital, serta kerjasama dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik diharapkan dapat mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia.

Kepala BRIN mengapresiasi negara-negara anggota ESCAP yang telah mengusulkan dibentuknya ad hoc scientific advisory group terkait inisiatif Indonesia untuk meningkatkan rencana implementasi Asia-Pacific Plan of Action tahap kedua (2022-2026) dan inisiatif Space+.

Rencana implementasi tersebut diantaranya, pertama, pengembangan model berbasis open-source yang mudah digunakan untuk menghasilkan data tren historis banjir, kebakaran lahan/hutan, dan peta risikonya di wilayah Asia-Pasifik yang bertujuan untuk mitigasi bencana.

Kedua, Pengembangan Virtual Constellation for Disaster Risk Management (VCDRM) yang memungkinkan pengguna di kawasan Asia-Pasifik untuk mendapatkan akses data satelit penginderaan jauh secara terbuka dan near-real time untuk manajemen risiko bencana. Ketiga, terbentuknya forum pemuda (youth forum) pemanfaatan keantariksaan untuk pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.

“Melalui konferensi tingkat Menteri yang ke-4 (MC-4 SASD) ini, BRIN mendukung penuh kegiatan Rencana Aksi Asia Pasifik tentang Aplikasi Antariksa untuk Pembangunan Berkelanjutan (2018–2030) baik dari sisi riset dan inovasi, maupun dari sisi perumusan rekomendasi kebijakan terkait pemanfaatan keantariksaan,” ujar Handoko.

(Dyah Ratna Meta Novia)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement