PENDETEKSI kebakaran atau alarm asap biasanya terdapat di tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan, restoran, hingga hotel. Namun, tidak jarang juga ditemui di dalam ruangan rumah yang relatif lebih kecil dan dihuni sedikit orang.
Alarm ini dapat mendeteksi kebakaran sedini mungkin untuk mencegah api menyebarluas. Ada dua jenis utama alarm asap yang digunakan di rumah, yakni detektor ionisasi dan detektor fotolistrik.
(Baca juga: Kasus Kebakaran Hutan Menurun 60% pada 2020)
Dilansir dari Mental Floss, Kamis (17/12/2020), detektor ionisasi memiliki memiliki dua pelat dan sumber radiasi pengion. Baterai akan mengirimkan tegangan ke pelat dan mengisi daya satu positif dan negatif. Sejumlah kecil isotop yang disebut Americium-241 akan meluruh dan memancarkan partikel subatomik yang terbuat dari dua proton dan dua neutron.
Elektron bebas yang bermuatan negatif akan tertarik ke pelat positif. Sebaliknya, muatan positif akan ditarik ke pelat negatif. Ini kemudian mempertahankan arus kecil konstan di antara dua pelat. Asap yang masuk ke ruangan akan mengganggu gerakan ionisasi dan menurunkan arus antar lempeng yang kemudian memicu alarm.
Detektor ionisasi ini sangat sensitif mendeteksi panas, bahkan asap yang sangat sedikit sekalipun. Alarm jenis ini sangat rentan terhadap “bunyi palsu” karena debu atau uap lainnya.
(Baca juga: Cegah Kebakaran Rumah dengan Detektor Asap)
Jenis alarm lainnya, detektor fotolistrik berisi dioda pemancar cahaya yang mengirim berkas cahaya ke bagian atas ruang T. Bagian dalam ruang T ini memiliki fotosel yang mendeteksi cahaya. Asap yang masuk ke ruangan mengenai cahaya, kemudian menyebar ke ruang T dan menyerang fotosel.
Cahaya yang mengenai sel akan memicu arus listrik dan mematikan alarm. Detektor ini tidak sepeka ionisasi karena dirancang untuk mendeteksi kebakaran yang lambat, membara, dan lebih berasap.
(Amril Amarullah (Okezone))