Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indocomtech 2018 Pamerkan Aplikasi Buatan Siswa SMK hingga Mahasiswa

Pernita Hestin Untari , Jurnalis-Kamis, 01 November 2018 |15:00 WIB
Indocomtech 2018 Pamerkan Aplikasi Buatan Siswa SMK hingga Mahasiswa
Dzaki dan beberapa peserta SMK Corner di Indocomtech 2018 (Foto: Pernita Hestin Untari/ Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Dalam gelaran Indocomtech 2018, Okezone berkesempatan bertemu dengan Dzaki Mahfuzh H di SMK Corner, JCC Senayan. Dzaki merupakan Project Co-Lead Daeng Indonesia sekaligus mahasiswa semester 7 Teknik Informatika Sekolah Tinggi Terpadu (STT) Nurul Fikri di Lenteng Agung.

Dalam standnya, dia mengenalkan HTML Puzzle Box yang merupakan pengenalan membuat halaman web atau coding dengan menggunakan balok-balok. Tidak hanya itu ada juga program Lab On Bike, yakni lab komputer keliling yang dapat disewa-sewa untuk siswa sekolah.

"Di Garut kan masih belum banyak lab komputer di sekolah, jadi ini memprovide lab komputer yang bisa di bawa kemana-mana. Jadi CPUnya itu kecil, jadi bisa disewa satu anak sebulan 10 ribu," kata dia saat ditemui oleh Okezone, Rabu (31/10/2018).

Lebih lanjut, dia mengatakan jika sistemnya semacam perpustakan keliling, namun ini berbentuk lab komputer.

"Jadi sekolah hanya menyediakan layar dan keyboard," imbuh dia.

HTML Puzzle Box

Baca Juga: Intip Bocoran Desain Lenovo Z5 Pro dengan Kamera Pop Up

Tak hanya sampai disitu, dia bersama enam timnya pun saat ini tengah mengembangkan aplikasi Weblocker. Aplikasi ini dibuat berangkat dari pesatnya perkembangan teknologi saat ini yang berdampak pada penggunaan gadget pada anak.

Meski banyak hal positif juga, namun seringkali konten negatif menjadi keresahaan para orang tua.

"Kami membuat aplikasi parental control, ini merupakan pencegahan dengan maraknya anak-anak yang sering main gadget dan lepas dari pengawasan," kata Dzaki.

Dia menjelaskan jika konsep aplikasi tersebut, seperti aplikasi pasangan, di mana orang tua secara real time mampu mengawasi apa yang dilakukan anaknya di internet.

"Kita ada bukan untuk menghalangi, tapi untuk memberikan coaching ke orang tua. Di mana anaknya terpapar atau tidak, kita punya datanya anak anda buka apa sekian-sekian, kita ajukan untuk konsultasi. Aplikasi kita untuk memantau semuanya, jadi semua screenshotnya akan dikirim ke orang tua secara real time," lanjut dia.

Lebih lanjut, dia menuturkan cara kerja aplikasi yakni disaat anak bermain game dan terdapat konten negatif. Kemudian nantinya orang tua dapat melihat hal tersebut dalam laporan yang dikirimkan terus menerus oleh aplikasi.

Kemudian, orang tua dapat mengirimkan pesan ke anak (jika tak berada di dekat sang anak), saat mengirim pesan tersebut, layar gadget si anak akan di freeze. Tak hanya sampai disitu, Weblocker juga memberika solusi lebih lanjut untuk orang tua yang merasa kewalahan menghadapi anak yang sudah terpapar konten negatif.

Indocomtech 2018

Baca Juga: Wiko Luncurkan Dua Ponsel dengan Fitur SIM Virtual

"Terus kalau misalnya anaknya udah ngelawan, itu kita akan bawa ke konsultan rekanan kita. Kita akan beri tips dan trik bagaimana menghadapi anak yang seperti itu. Nanti kita akan menggunakan Artificial Inteigent mbak. Jadi orang tua jangan khawatir jika anakanya lihat yang buruk tapi konteksnya buruk itu bisa terdeteksi," kata dia.

Sebagai informasi, aplikasi Weblocker sudah dibuat sejak 2014 dan saat ini masih dalam tahap penyempurnaan. Serta verifikasi dengan beberapa stakeholder yang salah satunya Pemerintah melalui Komisi Perlindungan Anak (KPAI).

Weblocker juga pernah menjadi finalis dalam Asia Pacific Information and Communication Technology (APICTA) Award di Guangzhou China pada Oktober 2018.

(Ahmad Luthfi)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement