Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Uang dan Perdagangan Era Peradaban Muslim

Arsan Mailanto , Jurnalis-Rabu, 02 November 2016 |06:14 WIB
Mengenal Uang dan Perdagangan Era Peradaban Muslim
(Foto: Souqalmal)
A
A
A

JAKARTA - Perdagangan adalah bagian besar dalam kehidupan peradaban Muslim awal. Barang-barang dagangan diperjualbelikan di tiga benua. Perdagangan dianggap sangat penting sehingga para penguasa Muslim menciptakan sistem hukum, kontrak, pinjaman, dan lainnya yang hingga kini masih memengaruhi dunia perdagangan.

Pembeli dan penjual di peradaban Muslim menggunakan cek. Kata "cek" berasal dari bahasa Arab syak, yang berarti janji tertulis untuk membayar barang setelah diantar.

Di dunia Muslim, tempat peristirahatan yang dalam bahasa Persia disebut "karwansara" ada setiap sekira 30 kilometer di setiap jalur perdagangan penting. Tempat peristirahatan menyediakan makanan, tempat bernaung bagi para musafir sampai tiga hari.

Untuk perdagangan di darat umumnya, dilakukan sepanjang Jalur Sutra, jalur perdagangan sepanjang 11.000 kilometer yang menghubungkan Tiongkok ke pasar-pasar dunia Muslim dan Eropa.

Banyak barang-barang yang diperjualbelikan di Dunia Muslim berharga tinggi, seperti kain, logam, kerajian kulit, permadani, naskah bergambar, dan kaca berlapis enamel, seperti dirangkum “1001 Penemuan dan Fakta Mempesona Peradaban Muslim,” Rabu (2/11/2016).

Baca selengkapnya: Fakta Unik Sutra & Permadani dalam Peradaban Muslim

Para kafilah-kafilah dengan unta besar menempuh jarak yang luar biasa jauh untuk berdagang ke negeri asing. Dulu pedagang di dunia Muslim menggunakan koin emas dan perak, dinar dan dirham sebagai mata uang internasional.

Khalifah pertama yang membuat koinnya sendiri adalah Khalifah Abdul-Malik bin Marwan, yang berkuasa dari tahun 685 hingga 705. Koinnya juga merupakan koin emas pertama dengan tulisan Arab.

Setelah itu, koin-koin dari peradaban Muslim zaman Pertengahan telah ditemukan di Jerman, Finlandia, dan Skandinavia pada zaman modern, yang menunjukkan betapa meluasnya perdagangan pada zaman dulu.

(Kemas Irawan Nurrachman)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement