JAKARTA - PT Bank OCBC NISP memilih virtualisasi data center sebagai solusi TI-nya. Melalui virtualisasi server ini infrastruktur fisik server jadi terkonsolidasi dan diklaim bisa memangkas biaya.
"Alasan utama kami pindah ke virtualisasi adalah melakukan signifikasi. Dengan virtualisasi kami bisa mensentralisasi apa yang tersebar sehingga mudah dimanage IT, serta membuat sistem yang bisa diakses seketika," ujar Filipus Suwarno, Kepala Divisi TI OCBC NISP, di hotel Shangri-La, Kamis (8/3/2012).
"Membuka aplikasi jadi bisa dilakukan di mana saja. Kami juga bisa switch dengan sangat cepat. Aplikasi core banking kami siapkan di Jakarta dan Bandung, jadi bisa saling mendukung ketika salah satunya bermasalah," tambahnya.
Pasalnya, menurut Filipus, perusahaan tidak mungkin terus menerus menggunakan server fisik, dan ketika perlu menggunakan yang baru harus menunggu 6 minggu lebih untuk membangun server.
Sedangkan dengan virtualisasi, mereka bisa memperoleh efisiensi mencapai 60 persen, diantaranya dalam hal tempat, listrik, dan tenaga kerja. Virtualisasi tersebut juga diklaim memudahkan pengiriman data antar cabang. Misalkan pengiriman yang dilakukan sore hari terkendala putusnya arus listrik di tempat yang dituju, data akan tetap bisa diakses.
Dari sisi infrastruktur, Andreas Kagawa, Country Manager VMware Indonesia menjelaskan, "Secara tradisional kalau punya aplikasi atau program, masing-masing perlu server. Padahal belum tentu aplikasi itu load-nya tinggi, bisa saja cuma load di akhir bulan. Tapi dia menghabiskan listrik dan ruang. Nah kita lakukan virtualisasi, server fisik kita ubah ke dalam file sehingga kalau awalnya perlu 10 server fisik, setelah virtualisasi cuma perlu 1 server. Ini akan menghemat sumber daya."
"Dan yang bikin orang jatuh cinta itu otomatisasinya, jadi kalau servernya down bisa otomatis pindah ke server lain," tambahnya.
Senada dengan pernyataan Andreas, Filipus juga mengungkap bahwa, "Cost hardware dan software perusahaan berkurang sampai 80 persen. Dari sisi lisensi juga berkurang karena terkonsolidasi dalam satu server."
Virtualisasi data center tersebut juga mempermudah manajemen IT, yang menurutnya, "Kalau sekarang ada masalah, IT tidak harus selalu datang ke lokasi karena bisa diselesaikan dari pusat."
(Susetyo Dwi Prihadi)