Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lupakan 3D, Ini Dia Quantum Dot (QD) TV

Susetyo Dwi Prihadi , Jurnalis-Selasa, 13 Desember 2011 |10:44 WIB
Lupakan 3D, Ini Dia Quantum Dot (QD) TV
Ilustrasi (Foto: Telegraph)
A
A
A

MANCHESTER - Sekelompok peneliti tengah mengembangkan kristal pemancar cahaya baru, yang biasa disebut quantum dot. Teknologi anyar ini mampu menciptakan televisi ultra tipis atau bakal disebut quantum dot (QD) TV.

Kristal kecil ini 100 ribu kali lebih kecil dari lebar rambut manusia, dan dapat dicetak ke lembaran plastik fleksibel untuk menghasilkan tampilan kerta tipis yang dapat dengan mudah dibawa berkeliling, atau bahkan diubah menjadi wallpaper untuk menciptakan layar berukuran raksasa.

Oleh para ilmuwan itu menyebutkan QD TV pertama akan mirip dengan TV layar datar seperti saat ini, namun dengan tingkat rasio ketajaman warna yang jauh lebih tinggi dengan tingkat ketipisan yang bahkan hampir meyerupai ketipisan kertas. Diharapkan QD TV akan tersedia di toko-toko pada akhir tahun 2012.

Michael Edelman, CEO Nanoco, perusahaan yang didirikan oleh para ilmuwan asal Machester University mengatakan, "Kami bekerja sama dengan beberapa perusahaan elektronik rakasasa asal asia. Kami berharap titik kuantum ini akan menjadi genarasi berikutnya dari televisi layar datar."

"Keuntungan nyata yang disediakan oleh titik-titik kuantum ini bahwa dapat dicetak di atas selembar plastik yang dapat digulung, sehingga bukan tidak mungkin dalam perkembangannya akan ada TV yang mampu digulung dan dimasukkan ke dalam tas," terangnya, seperti dilansir Telegraph, Selasa (13/12/2011).

Walaupun Edelman tidak bisa menyebutkan perusahaan mana saja yang bakal digandeng Nanoco, namun diyakini produsen TV komersial seperti Sony, Sharp, Samsung dan LG bakal bekerja sama untuk menciptakan televisi quantum dot.

Televisi saat ini berbasis layar kristal cair (LCD) yang diterangi dengan Light-emitting diode (LED), dengan layar mencapai ketebalan dua sampai tiga inci. Mengganti LED dengan titik kuantuk tentunya dapat mengurangi ketebalan.

"Dengan mengubah ukuran kristal kita mampu mengubah warna yang bakal dihasilkan," tukas Paul O'Brien, salah ilmuwan yang ikut dalam mengembangkan teknologi ini.

(Susetyo Dwi Prihadi)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita ototekno lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement