PONSEL anyar Huawei Mate 60 Pro dan Mate 60 Pro+ mencuri perhatian di sela-sela peluncuran iPhone 15 pada Rabu (13/9/2023). Pasalnya mereka mampu comeback dari sanksi yang diberlakukan oleh pemerintah AS.
Sebagai pengingat, Huawei Mate 60 Pro diperkenalkan pertama kali lewat program pre-sale pada 8 September lalu. Uniknya perusahaan asal China itu tidak melakukan banyak publikasi, tapi langsung melakukan penjualan ke toko fisik dan online di Negeri Tirai Bambu.
Namun demikian, salah satu fitur yang paling mencolok dan disebut-sebut akan membuat produsen sekelas Apple ketar-ketir adalah kemampuan ponsel tersebut untuk mengubungkan dua setelit secara bersamaan.
Hal inilah yang kemudian membuat pemerintah AS juga khawatir produk Apple tidak akan laku di China. Terobosan Huawei Mate 60 Pro juga membuktikan terobosan mereka di tengah sanksi yang diberikan pemerintah AS pada tahun 2019 lalu.
Bagaimana tidak, Huawei Mate 60 Pro sudah punya jaringan 5G sendiri tanpa ketergantungan dari chip 5G milik AS. Ponsel ini juga punya kamera yang cukup bagus dan desain layaknya ponsel flagship.
Yang mencengangkannya lagi harganya dibanderol dengan cukup terjangkau yakni mulai dari Rp16-Rp18 jutaan saja. Tak pelak jika hal ini membuat iPhone 15 sekali pun cukup ketar-ketir.
Di sisi lain, chipset canggih Huawei dikabarkan berasal dari Semiconductor International Manufacturing Corp (SMIC). Nah, menurut AS teknologi chipset itu berasa dari negara mereka.
"Chip kemungkinan besar tidak bisa diproduksi tanpa teknologi AS dan oleh itu SMIC mungkin telah melanggar Peraturan Produk Asing Langsung Departemen Perdagangan," kata Perwakilan Partai Republik. Mike Gallagher, dilansir dari Reuters, Rabu (13/9/2023).
Imbasnya AS berencana memblokir semua ekspor teknologi AS, baik ke Huawi dan SMIC. Mereka beralasan hal karena adanya pelanggaran dan merusak keamanan nasional AS.
"Waktunya telah tiba mengakhiri seluruh ekspor teknologi AS ke Huawei dan SMIC, bahwa perusahaan manapun yang melanggar hukum AS dan merusak keamanan nasional kita akan diputus dari teknologi," ujarnya.
Tentunya menarik untuk ditunggu bagaimana kelanjutan polemik tersebut. Pasalnya Pemerintah China juga baru-baru ini dikabarkan melarang pegawai negeri di sana untuk menggunakan iPhone. Apakah hal ini respons untuk mendongkrak penjualan Huawei? Atau sengaja membuat Apple merugi?
(Saliki Dwi Saputra )