Pengamat Sebut Mobil Listrik Bakal Lebih Terjangkau: Harga Baterai Sudah Turun

Muhamad Fadli Ramadan, Jurnalis
Rabu 09 Agustus 2023 11:09 WIB
Harga mobil listrik bakal lebih terjangkau. (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA – Penjualan mobil listrik di Indonesia secara berlahan mulai tumbuh, meski belum begitu signifikan.

Ini karena masih ada tantangan yang menganjar laju kendaraan listrik di Indonesia, mulai dari keterbatasan insfrastruktur, hingga harganya yang mahal.

Saat ini, mobil listrik yang dijual di bawah harga Rp300 juta hanya Wuling Air ev. Sayangnya, mobil ini terbilang mungil, sehingga tidak memiliki kabin yang luas.

Sementara mobil listrik yang memiliki dimensi lebih besar dijual dengan harga yang sangat tinggi. Pasalnya, produsen menanamkan teknologi canggih di dalamnya, hingga baterai dengan kapasitas yang besar.

Merespons hal itu, Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), Riyanto, menilai mobil listrik bisa dijual dengan harga lebih murah di masa depan, dengan kisaran harga Rp300 juta sampai Rp400 jutaan.

“Harga mobil listrik turun kalau baterainya turun. Tapi tren harga baterai memang sudah turun. Jadi 40-50 persen biaya produksi mobil listrik itu memang ada di baterai,” kata Riyanto di kantor Kemenperin, Jakarta Selata, belum lama ini.

Seperti diketahui, baterai memang menjadi komponen dengan biaya produksi terbesar dalam mobil listrik. Bahkan, harga paket baterai bisa setengah dari harga baru mobil yang membuat produsen kesulitan dalam menekan harga jual.

“Kalau kita lihat penelitian dari Bloomberg, harga baterai lithium-ion terus terun. Kalau sebelumnya 200-an dolar AS per kWh, nanti pada 2030 menjadi hanya 60-an dolar AS per kWh. Itu pasti berpengaruh ke harga mobill (listrik),” ujar Riyanto.

Kemudian Riyanto meyakini peminat mobil listrik di Indonesia sangat besar apabila dijual dengan harga lebih rendah. Itu bisa dilihat dari peminat Wuling Air ev yang cukup signifikan.

“Menurut survei LBM pada 2022, dari 100 orang, 30 persennya berniat beli mobil berbasis BEV (Battery Electric Vehicle) dan ini menarik. Jadi pasar di Indonesia itu gemuk, di harga 30 ribu dolar AS atau Rp400 jutaan lah. Sementara yang paling diminati tujuh seat dengan rentan harga Rp300 jutaan. Jadi kalau mau bidik pasar lebih banyak, maka jual BEV harga segitu dengan fungsi yang mirip,” tuturnya.

Namun, ada banyak alasan mengapa masyarakat Indonesia masih enggan beralih ke mobil listrik berbasis baterai. Selain harga, alasan lain seperti lamanya pengisian dan harga jual kembali yang belum terbentuk pasarnya juga memengaruhi hal tersebut.

“Orang Indonesia kalau mau beli mobil sudah tanya juga, nanti kalau saya jual harga second-nya jatuh nggak? Jadi pasar bekasnya belum tercipta. Pertimbangan konsumen membeli kendaraan itu ada dua, mampu dan mau,” ucapnya.

(Imantoko Kurniadi)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya