Karyawan ChatGPT Curhat, Cuma Digaji Rp221 Ribu

Anjasman Situmorang, Jurnalis
Rabu 10 Mei 2023 17:12 WIB
ChatGPT. (Foto: Freepik)
Share :

CHATBOT buatan OpenAI, ChatGPT, memang tengah populer saat ini. Dimotori Artificial Intellegence (AI) terbaru, ChatGPT memang bisa melakukan banyak hal, bahkan disebut bakal menggantikan peran manusia.

Tapi, meskipun sudah menerapkan machine learning, nyatanya beberapa bagian sistem itu masih membutuhkan tenaga manusia dalam pengembangannya. Tentu saja, dalam bayangan kita dengan kecanggihan yang diusung oleh ChatGPT maka gaji yang diterima karyawan pun akan besar.

Sayangnya, pikiran itu hanyalah angan-angan semata. Pasalnya, beberapa pekerja di dalam OpenAI justru kurang sejahtera. Laporan dari NBC News menyebutkan bahwa kontraktor AS yang bekerja di sana tidak diberi upah yang layak.

Dilansir dari Gizmodo, karyawan ini memiliki tugas pelabelan data, yaitu sebuah proses pelatihan perangkat lunak ChatGPT untuk merespons permintaan pengguna dengan lebih baik.

Meski peran mereka cukup penting dalam pengembangan AI, para karyawan ini hanya dibayar USD15 per jam atau sekitar Rp221 ribu. Angka ini kecil untuk ukuran warga AS.

Karyawan ini pun sempat curhat dengan mengatakan bahwa ChatGPT tidak akan pernah dikenal seperti sekarang tanpa adanya peran mereka. "Kami adalah pekerja kasar tetapi tidak akan ada sistem bahasa AI tanpanya," kata seorang pekerja, Alexej Savreux.

"Anda dapat merancang semua jaringan saraf yang Anda inginkan, Anda dapat melibatkan semua peneliti yang Anda inginkan, tetapi tanpa pemberi label, Anda tidak memiliki ChatGPT. Kamu tidak punya apa-apa," tambahnya.

Sederhananya, pelabelan data merupakan sebuab proses integral dari penguraian sampel data untuk membantu sistem otomatis mengidentifikasi item tertentu dengan lebih baik dalam kumpulan data.

Pemberi label akan menandai item tertentu, baik gambar visual atau teks, sehingga mesin dapat belajar mengidentifikasinya sendiri.

Dengan kata lain, karyawan tersebut membantu sistem otomatis ChatGPT untuk merespons permintaan pengguna dengan lebih akurat. Peran ini sangat besar dalam pelatihan model machine learning.

NBC News juga melaporkan bahwa sebagian besar moderator tidak diberi kompensasi yang sesuai untuk pekerjaan mereka. Demikian yang terjadi di OpenAI, para pemberi label tidak diberi tunjangan dan dibayar sedikit lebih banyak dari upah minimum.

Dalam kasus ini, Savreux masih beruntung di antara rekannya yang lain. Dia tinggal di wilayah Kansas dengan upah minimal USD7,25.

ChatGPT sendiri diluncurkan ke publik pada November 2022 lalu. Sejak saat itu, banyak yang mengganggap ChatGPT sebagai kiblat AI. Mereka semakin populer berkat chatbot AI yang banyak membantu kegiatan manusia.

Meski terlihat canggih, aspek manusia di belakangnya tetap harus diperhatikan. Bahkan tak jarang peran mereka begitu penting dalam pengembangan sistem, seperti pelabelan data ini.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Ototekno lainnya