Gunung Es Terbesar Dunia Terus Meluncur, Berpotensi Ancam Habitat Penguin

Anjasman Situmorang, Jurnalis
Kamis 17 Desember 2020 09:02 WIB
Gunung es terbesar terus meluncur, ancam habitat pinguin.(Foto:Ist)
Share :

JAKARTA - Gunung es raksasa terbesar dunia telah lepas dan melayang dari pantai Antartika menuju ke utara sejak 2017 lalu.

Meski tepiannya sudah runtuh, gunung es bernama A-68a ini masih terus meluncur pulau suaka margasatwa di Samudera Atlantik Selatan. Hal ini berpotensi mengancam habitat penguin.

Royal Air Force (RAF) Inggris melalui rekaman udara, mencoba mengungkap kemungkinan yang akan terjadi pada pulau tersebut di masa mendatang.

Gunung es A-68a berukuran sekitar 2.000 mil persegi atau 5.100 kilometer persegi. Dinding gunung es ini, curam yang menjulang sekitar 30 meter. Tidak hanya itu, di dalamnya juga terdapat terowongan, celah, dan gua.

Baca Juga: Gunung Es Terbesar di Dunia Berpotensi Tabrak Wilayah Inggris

Menurut laporan RAF, bongkahan es yang sangat besar dapat meninggalkan jejak puing yang berpotensi menghalangi lalu lintas kapal di masa yang akan datang. Namun, yang menjadi fokus utama peneliti adalah seberapa dalam gunung es itu mencelup ke bawah permukaan laut.

Baca Juga: Gunung Es Besar Hancurkan Lapisan Es Antartika

Dilansir dari Live Science pada Senin (14/12/2020), ketika A-68a memisahkan diri dari Larsen C Ice Shelf tiga tahun lalu, titik paling bawahnya diukur lebih dari 200 meter di bawah permukaan laut. Gunung es ini kemungkinan telah menyusut secara vertikal maupun horizontal sejak saat itu.

Kedalaman gunung es penting untuk diktahui saat mencapai Georgia Selatan. Wilayah ini dihuni oleh jutaan penguin, anjing laut, burung laut, dan paus yang bermigrasi. Jika A-68a mendarat di dasar laut dekat pantai Georgia Selatan, ini akan membuat penghalang besar antara hewan dan tempat makan mereka.

“Jarak yang sebenarnya ditempuh hewan untuk menemukan makanannya sangat penting. Jika mereka mengambil jalan memutar jauh, itu artinya mereka tidak akan kembali ke tempat semulanya untuk mencegah mereka mati kelaparan sementara waktu,” kata ahli ekologi dari British Antarctic Society, Geraint Tarling.

(Sazili Mustofa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Ototekno lainnya