JAKARTA - Pertumbuhan dunia automotif khususnya roda empat di Tanah Air terus mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan populasi kendaraan juga diikuti dengan kecerdasan pasar dalam memilih kendaraan idaman.
"Kalau bicara mobil itu sangat bervariasi ada beberapa macam, di kelas mobil kompak itu pun juga macam-macam ada segmen A, B dan lain-lain. Intinya orang Indonesia lebih mengarah ke lifestyle, menurut saya yang paling perpengaruh itu di situ. Karena orang Indonesia itu bukan tipe orang yang mencari barang murah, bukan yang cari barang murahan," terang Mark Yoshua Widjaja, Senior Styling Designer R&D Astra Daihatsu Motor (ADM).
Menurutnya, selera orang Indonesia itu berselera tinggi. Walaupun tidak mempunyai uang lebih tetapi ia ingin punya barang dengan harga tinggi.
"Barang jelek dipasarin tidak akan laku, walaupun bermerek. Ada beberapa merek Jepang yang terkenal, walaupun dia kasih model baru tapi tidak bagus, tidak bakal laku juga," ujar pria asal Surabaya, Jawa Timur ini.
Melihat situasi seperti ini, sebagai bagian dari pabrikan dirinya mengaku terpacu untuk membuat produk yang disukai pasar.
"Kita desainer dan sebagai pabrikan tidak bisa tenang-tenang seperti dulu. Makin ke sini mereka semakin teredukasi oleh beberapa referensi seperti majalah-majalah Eropa dan mobil-mobil Eropa yang datang ke Indonesia," kata jebolan Desain Produk Industri ITS tersebut.
"Walaupun kita tidak punya sejarah mobil, tetapi kita punya sense. Sense ini yang bahaya kalau kita tidak mengerti. Dibilang seleranya mobil Eropa bukan, dibilang seleranya mobil Jepang juga bukan. Jadi kita mesti pinter-pinter memainkan kombinasi," katanya lagi.
Menurutnya, orang Indonesia lebih suka kombinasi antara model Eropa dan Jepang. Mobil Jepang dan Eropa memiliki ciri khas sendiri.
"Orang Eropa lebih suka desain yang cantik dan sementara Jepang lebih suka garis-garis tegas. Kalau Indonesia sendiri saya lihat suka kombinasinya, kalau terlalu polos dianggap murahan atau biasa, akhirnya harus ada striping line-nya sedikit. Jadi harus ada sesuatu yang berbeda," tuntasnya.
(Azwar Ferdian)