JAKARTA - Selain China, sistem komputer Indonesia juga menjadi sasaran empuk negara-negara lain seperti, Rusia dan Amerika Serikat. Meski begitu, ID-SIRTII tidak menjamin kalau pelakunya berasal dari negara tersebut.
Karena, menurut Ketua ID-SIRTII Richardus Eko Indrajit, penyerobotan IP masih mungkin terjadi. Sehingga, seolah-olah negara tertentu melakukannya, padahal tidak.
"China, Amerika Serikat, dan Rusia yang paling sering muncul dalam pantauan kami. Walaupun, bisa jadi pelakunya bukan mereka," terang Eko, kepada okezone saat dihubungi melalui ponsel, Senin (30/3/2009).
Ditambahkan pula oleh Eko, sistem keamanan perusahaan dan instansi pemerintah masih tergolong rentan untuk dibobol. Pasalnya, minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) sering menjadi pemicu utama. Padahal, selama ini ID-SIRTI, hanya mengawasi sampai sebatas Internet service provider (ISP) saja.
"Mereka (SDM) banyak yang mengabaikan pentingnya sistem keamanan. Sehingga, antara dokumen yang sangat penting sering tercampur dengan dokumen biasa. Seharusnya, dokumen sangat penting itu memiliki sistem keamanan yang berbeda," cetusnya.
Sedangkan, urusan keamanan komputer instansi pemerintah. ID-SIRTII telah melakukan kerjasama dengan memberikan semacam peringatan (alarm), jika sewaktu-waktu ada serangan mendadak yang coba menyusup, dan mengambil dokumen negara.
Terkait dengan aksi spionase yang terbongkar, Eko memberikan solusi untuk meminimalisir terjadinya serangan tersebut. Di antaranya, peningkatan firewall dan antivirus. Yang paling penting, namun sering terabaikan adalah, pergantian password secara berkala.
(Sarie )