“AI memiliki preferensi, cultural values yang dibawa dari lingkungannya. LLM yang dibentuk adalah refleksi dari pengetahuan relevan dengan budayanya. Ketika dipakai di tempat lain, hasilnya sering tidak nyambung dan banyak biasnya,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Indonesia perlu memiliki platform AI sendiri yang dibuat berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa.
“Untuk mencapai sovereign AI dibutuhkan landasan nilai dan norma dasar. Contohnya kita punya Pancasila, saya kira ini menarik sekali untuk dikembangkan lebih lanjut,” tuturnya.
Wamen Nezar berharap riset-riset tentang AI yang dilakukan akademisi dapat berdampak nyata bagi masyarakat serta bermanfaat untuk mewujudkan tata kelola teknologi AI dan transformasi digital yang berkeadilan.
(Rahman Asmardika)