Namun, artikel Guardian tersebut mengatakan, banyak ilmuwan tidak nyaman menggunakan jenis pengujian genetik yang dikutip oleh para peneliti, yang dikenal sebagai "skor risiko poligenik," untuk menunjukkan kemungkinan seseorang mengembangkan gangguan tersebut.
"Skor risiko poligenik memberi tahu Anda sesuatu tentang populasi secara umum, bukan tentang individu," ujar profesor kehormatan David Curtis dari Institut Genetika University College London kepada Guardian.
"Jika tes menunjukkan Anda berada di persentil atas risiko poligenik, risiko sebenarnya untuk tertular suatu kondisi mungkin masih sangat rendah, bahkan untuk kondisi yang sangat dipengaruhi oleh faktor genetik."
Tim peneliti menekankan, kondisi tersebut, bahkan jika Hitler memang mengalaminya, juga tidak dapat menjelaskan atau membenarkan kebijakan rasis atau hasutan perang pemimpin Nazi tersebut.
Lebih dari 50 juta orang diperkirakan tewas dalam Perang Dunia II, termasuk enam juta orang Yahudi yang dibunuh secara sistematis.
Ahli genetika Turi King, yang dikenal karena mengidentifikasi jenazah raja abad pertengahan Richard III juga terlibat dalam proyek tersebut. Ia mengatakan, gen Hitler menempatkannya dalam kategori orang-orang yang sering dikirim ke kamar gas oleh Nazi.
"Kebijakan Hitler sepenuhnya berpusat pada eugenika," kata pakar DNA kuno dan forensik di Universitas Bath di Inggris bagian barat.
"Jika dia bisa melihat DNA-nya sendiri... dia hampir pasti akan mengirim dirinya sendiri," katanya.
Hasil DNA juga mengesampingkan kemungkinan Hitler memiliki kakek Yahudi melalui neneknya, yang dikabarkan telah hamil oleh seorang majikan tempat neneknya bekerja.
"Analisis DNA membantah mitos ini dengan menunjukkan data kromosom Y cocok dengan DNA kerabat laki-laki Hitler. Jika dia memiliki keturunan Yahudi (melalui hubungan di luar), kecocokan itu tidak akan ada," tambah Blink Films.
Teori keturunan Yahudi Hitler sempat diutarakan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada 2022 saat ia membela invasi besar-besaran Moskow ke Ukraina, yang secara tidak berdasar diklaim oleh Kremlin bertujuan untuk "denazifikasi" negara tetangga tersebut, yang dipimpin oleh Presiden Yahudi Volodymyr Zelenskyy.
(Erha Aprili Ramadhoni)