<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kenapa Mobil di Indonesia Pakai Setir Sebelah Kanan? Ini Alasannya</title><description>Sebagian besar negara di dunia menerapkan sistem lalu lintas dengan setir kiri dan lajur kanan.&#13;
</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2026/10/14/15/3247883/kenapa-mobil-di-indonesia-pakai-setir-sebelah-kanan-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2026/10/14/15/3247883/kenapa-mobil-di-indonesia-pakai-setir-sebelah-kanan-ini-alasannya"/><item><title>Kenapa Mobil di Indonesia Pakai Setir Sebelah Kanan? Ini Alasannya</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2026/10/14/15/3247883/kenapa-mobil-di-indonesia-pakai-setir-sebelah-kanan-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2026/10/14/15/3247883/kenapa-mobil-di-indonesia-pakai-setir-sebelah-kanan-ini-alasannya</guid><pubDate>Rabu 14 Oktober 2026 16:43 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Fadhil Mubarok</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/10/14/15/3247883/setir_mobil-zBEY_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kenapa Mobil di Indonesia Pakai Setir Sebelah Kanan? Ini Alasannya (Ilustrasi/Okezone/Erha A Ramadhoni)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/10/14/15/3247883/setir_mobil-zBEY_large.jpg</image><title>Kenapa Mobil di Indonesia Pakai Setir Sebelah Kanan? Ini Alasannya (Ilustrasi/Okezone/Erha A Ramadhoni)</title></images><description>JAKARTA - Kenapa mobil di Indonesia pakai setir sebelah Kanan? Artikel ini akan mengulas alasan hingga sejarah setir kanan di Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebagian besar negara di dunia menerapkan sistem lalu lintas dengan setir kiri dan lajur kanan. Sebaliknya, mobil-mobil di Indonesia menggunakan setir kanan dan melaju di lajur kiri. Kebiasaan ini ternyata punya akar sejarah yang menarik.&#13;
&#13;
Fenomena ini ternyata berakar dari faktor sejarah. Di saat banyak negara di dunia memilih setir kiri, Indonesia justru menganut sistem yang berbeda.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Lantas, apa yang melatarbelakangi perbedaan tersebut? Simak ulasan sebagaimana melansir laman World Standards, Rabu (14/10/2026):&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Pengaruh Kolonial Belanda (Mulai 1600-an)&#13;
&#13;
Pada masa penjajahan Belanda, aturan lalu lintas di Hindia Belanda, nama Indonesia kala itu, mengikuti ketentuan yang berlaku di negeri induknya. Belanda disebut menerapkan sistem berkendara di lajur kiri, sehingga posisi kemudi kendaraan berada di sisi kanan.&#13;
&#13;
Pengaruh tersebut tak lepas dari kebiasaan banyak negara Eropa pada era itu, termasuk Inggris, yang memakai sistem setir kanan. Pola ini dimaksudkan agar tangan kanan pengendara lebih leluasa memegang pedang, sebuah tradisi warisan zaman berkuda dan kereta kuda. Ketika kendaraan bermotor mulai masuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20, aturan itu tetap dipertahankan.&#13;
&#13;
&#13;
Interior Wuling Darion&#13;
&#13;
&#13;
2. Peralihan Belanda ke Setir Kiri (akhir abad 18)&#13;
&#13;
Belanda mulai beralih ke setir kiri. Hal ini ditandai era invasi Napoleon Bonaparte pada akhir abad 18 hingga awal abad 19 atau sekitar tahun 1795-1810.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku di Hindia Belanda atau Indonesia. Wilayah ini tetap mempertahankan aturan lama.&#13;
&#13;
3. Pengaruh Pendudukan Jepang (1942-1945)&#13;
&#13;
Selama Perang Dunia II, Jepang menduduki Indonesia dan memberi pengaruh pada sejumlah aspek, termasuk transportasi. Jepang sendiri menerapkan aturan berkendara di lajur kiri dengan setir di sisi kanan, sistem yang masih berlaku di negara tersebut hingga kini.&#13;
&#13;
Namun, karena masa pendudukan hanya berlangsung beberapa tahun, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi. Aturan berlalu lintas di Indonesia tetap melanjutkan kebiasaan yang telah berlaku sejak era kolonial Belanda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
4. Usai Kemerdekaan (1945-Sekarang)&#13;
&#13;
Usai Indonesia merdeka, pemerintah tidak mengubah aturan berkendara yang sudah berlaku, meski banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, menggunakan sistem setir kiri.&#13;
&#13;
Sejumlah faktor membuat Indonesia bertahan dengan setir kanan hingga kini. Berikut rinciannya:&#13;
&#13;
Efisiensi biaya: Mengubah sistem kemudi dan pola lalu lintas secara nasional membutuhkan biaya sangat besar. Dengan kondisi ekonomi Indonesia yang belum stabil pasca kemerdekaan, langkah tersebut tidak masuk daftar prioritas.&#13;
&#13;
Penyesuaian infrastruktur: Perubahan tidak hanya menyangkut kendaraan. Jalan raya, marka jalan, dan berbagai infrastruktur penunjang transportasi lainnya juga harus disesuaikan, yang tentu memerlukan investasi besar dan waktu panjang.&#13;
&#13;
Keselarasan dengan negara tetangga: Sejumlah negara di sekitar Indonesia, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, juga menerapkan setir kanan. Kesamaan standar ini memudahkan perdagangan kendaraan serta perjalanan lintas negara.&#13;
&#13;
Selain Indonesia, sejumlah negara dan wilayah di berbagai benua juga menerapkan posisi kemudi di sisi kanan dan melaju di lajur kiri jalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di kawasan Asia, sistem ini digunakan di Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Brunei Darussalam, serta Hong Kong.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara di kawasan Oseania, aturan serupa berlaku di Australia dan Selandia Baru. Di Eropa, sistem ini dipakai di Inggris dan Irlandia, sedangkan di benua Afrika diterapkan di Afrika Selatan.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kenapa mobil di Indonesia pakai setir sebelah Kanan? Artikel ini akan mengulas alasan hingga sejarah setir kanan di Indonesia.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sebagian besar negara di dunia menerapkan sistem lalu lintas dengan setir kiri dan lajur kanan. Sebaliknya, mobil-mobil di Indonesia menggunakan setir kanan dan melaju di lajur kiri. Kebiasaan ini ternyata punya akar sejarah yang menarik.&#13;
&#13;
Fenomena ini ternyata berakar dari faktor sejarah. Di saat banyak negara di dunia memilih setir kiri, Indonesia justru menganut sistem yang berbeda.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Lantas, apa yang melatarbelakangi perbedaan tersebut? Simak ulasan sebagaimana melansir laman World Standards, Rabu (14/10/2026):&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Pengaruh Kolonial Belanda (Mulai 1600-an)&#13;
&#13;
Pada masa penjajahan Belanda, aturan lalu lintas di Hindia Belanda, nama Indonesia kala itu, mengikuti ketentuan yang berlaku di negeri induknya. Belanda disebut menerapkan sistem berkendara di lajur kiri, sehingga posisi kemudi kendaraan berada di sisi kanan.&#13;
&#13;
Pengaruh tersebut tak lepas dari kebiasaan banyak negara Eropa pada era itu, termasuk Inggris, yang memakai sistem setir kanan. Pola ini dimaksudkan agar tangan kanan pengendara lebih leluasa memegang pedang, sebuah tradisi warisan zaman berkuda dan kereta kuda. Ketika kendaraan bermotor mulai masuk ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20, aturan itu tetap dipertahankan.&#13;
&#13;
&#13;
Interior Wuling Darion&#13;
&#13;
&#13;
2. Peralihan Belanda ke Setir Kiri (akhir abad 18)&#13;
&#13;
Belanda mulai beralih ke setir kiri. Hal ini ditandai era invasi Napoleon Bonaparte pada akhir abad 18 hingga awal abad 19 atau sekitar tahun 1795-1810.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku di Hindia Belanda atau Indonesia. Wilayah ini tetap mempertahankan aturan lama.&#13;
&#13;
3. Pengaruh Pendudukan Jepang (1942-1945)&#13;
&#13;
Selama Perang Dunia II, Jepang menduduki Indonesia dan memberi pengaruh pada sejumlah aspek, termasuk transportasi. Jepang sendiri menerapkan aturan berkendara di lajur kiri dengan setir di sisi kanan, sistem yang masih berlaku di negara tersebut hingga kini.&#13;
&#13;
Namun, karena masa pendudukan hanya berlangsung beberapa tahun, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi. Aturan berlalu lintas di Indonesia tetap melanjutkan kebiasaan yang telah berlaku sejak era kolonial Belanda.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
4. Usai Kemerdekaan (1945-Sekarang)&#13;
&#13;
Usai Indonesia merdeka, pemerintah tidak mengubah aturan berkendara yang sudah berlaku, meski banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, menggunakan sistem setir kiri.&#13;
&#13;
Sejumlah faktor membuat Indonesia bertahan dengan setir kanan hingga kini. Berikut rinciannya:&#13;
&#13;
Efisiensi biaya: Mengubah sistem kemudi dan pola lalu lintas secara nasional membutuhkan biaya sangat besar. Dengan kondisi ekonomi Indonesia yang belum stabil pasca kemerdekaan, langkah tersebut tidak masuk daftar prioritas.&#13;
&#13;
Penyesuaian infrastruktur: Perubahan tidak hanya menyangkut kendaraan. Jalan raya, marka jalan, dan berbagai infrastruktur penunjang transportasi lainnya juga harus disesuaikan, yang tentu memerlukan investasi besar dan waktu panjang.&#13;
&#13;
Keselarasan dengan negara tetangga: Sejumlah negara di sekitar Indonesia, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand, juga menerapkan setir kanan. Kesamaan standar ini memudahkan perdagangan kendaraan serta perjalanan lintas negara.&#13;
&#13;
Selain Indonesia, sejumlah negara dan wilayah di berbagai benua juga menerapkan posisi kemudi di sisi kanan dan melaju di lajur kiri jalan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Di kawasan Asia, sistem ini digunakan di Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Brunei Darussalam, serta Hong Kong.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Sementara di kawasan Oseania, aturan serupa berlaku di Australia dan Selandia Baru. Di Eropa, sistem ini dipakai di Inggris dan Irlandia, sedangkan di benua Afrika diterapkan di Afrika Selatan.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
