<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Hadapi Tantangan Digital, Komdigi Tekankan Pentingnya Pengemasan Pesan Publik yang Kreatif</title><description>Komdigi menekankan keatifitas dalam mengemas informasi sehingga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat.&#13;
</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2026/04/30/16/3215617/hadapi-tantangan-digital-komdigi-tekankan-pentingnya-pengemasan-pesan-publik-yang-kreatif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2026/04/30/16/3215617/hadapi-tantangan-digital-komdigi-tekankan-pentingnya-pengemasan-pesan-publik-yang-kreatif"/><item><title>Hadapi Tantangan Digital, Komdigi Tekankan Pentingnya Pengemasan Pesan Publik yang Kreatif</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2026/04/30/16/3215617/hadapi-tantangan-digital-komdigi-tekankan-pentingnya-pengemasan-pesan-publik-yang-kreatif</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2026/04/30/16/3215617/hadapi-tantangan-digital-komdigi-tekankan-pentingnya-pengemasan-pesan-publik-yang-kreatif</guid><pubDate>Kamis 30 April 2026 13:08 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2026/04/30/16/3215617/komdigi_menekankan_keatifitas_dalam_mengemas_informasi_sehingga_bisa_diterima_dan_dipahami_oleh_masyarakat-A52R_large.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Komdigi menekankan keatifitas dalam mengemas informasi sehingga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2026/04/30/16/3215617/komdigi_menekankan_keatifitas_dalam_mengemas_informasi_sehingga_bisa_diterima_dan_dipahami_oleh_masyarakat-A52R_large.JPG</image><title>Komdigi menekankan keatifitas dalam mengemas informasi sehingga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat. </title></images><description>BANDUNG &amp;ndash; Transformasi digital membuat masyarakat kini menuntut pemerintah untuk menyampaikan informasi yang tidak hanya sekedar pesan, tetapi juga dikemas secara kreatif, sederhana, dan relevan. Pasalnya, masyarakat kini cenderung mengonsumsi informasi secara cepat, melakukan scanning, serta lebih menyukai konten audiovisual dibandingkan teks panjang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Intinya bagaimana humas bisa kreatif di tengah terpaan konten digital yang begitu masif, sehingga informasi yang disampaikan tidak hanya sampai, tetapi juga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat,&amp;rdquo; kata Direktorat Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Angki Kusumadewi saat mengisi acara Aksi Bakohumas Masterclass Pengelolaan Konten: Seni Mengemas Pesan Publik menjadi Konten Kreatif.&#13;
&#13;
Ini merupakan bagian dari kontribusi Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) dalam meningkatkan kapasitas humas pemerintah di seluruh Indonesia ini diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat pada Senin, (27/4/2026).&#13;
&#13;
Kegiatan ini diikuti oleh insan humas dari berbagai kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah ini berlangsung secara luring dan daring, sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kompetensi komunikasi publik di tengah tantangan disrupsi digital yang semakin kompleks.&#13;
&#13;
Dalam sambutannya, Angki menekankan bahwa perubahan perilaku audiens, khususnya di era digital, menuntut pendekatan komunikasi yang berbeda. Merespons perubahan perilaku masyarakat ini humas tidak cukup hanya mengandalkan validitas data, tetapi juga harus mampu memastikan pesan tersebut menarik perhatian dan membangun keterlibatan publik.&#13;
&#13;
Pada sesi Masterclass, narasumber dari Katadata, yaitu Muhammad Yana dan Maria Margareta Delviera berbagi pengalaman mereka dalam mengolah data menjadi konten yang menarik dan berdampak.&#13;
&#13;
Yana menyoroti persoalan klasik komunikasi publik, yakni banyaknya data valid yang tidak tersampaikan secara efektif kepada masyarakat karena lemahnya kemasan konten.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bayangkan kita punya data yang sahih dan penting, tapi setelah dipublikasikan tidak ada yang membaca. Pertanyaannya, yang salah datanya atau kemasannya?&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, di tengah arus informasi yang sangat cepat, kemampuan memilah data dan mengemasnya dalam format visual menjadi kunci. Konten berbasis visual dinilai lebih efektif dalam menyederhanakan informasi kompleks, menarik perhatian, serta meningkatkan pemahaman audiens.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ketika kita terjebak pada teks yang panjang dan kompleks, pembaca akan kesulitan. Sebaliknya, visual yang kuat mampu merangkum informasi, membuatnya lebih menarik, dan akhirnya pesan bisa sampai,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Sejalan dengan itu, kegiatan ini menekankan bahwa tujuan utama komunikasi publik tetap sama, yaitu memastikan pesan tersampaikan secara efektif, terlepas dari bentuk medianya. Namun, dalam konteks digital saat ini, keberhasilan tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan humas dalam menggabungkan validitas data dengan kreativitas penyajian.&#13;
&#13;
Melalui Aksi Bakohumas, pemerintah mendorong transformasi peran humas sebagai jembatan strategis antara negara dan masyarakat, tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai kreator pesan publik yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan komunikasi di era digital.&#13;
&#13;
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh peserta, sekaligus memperkuat kualitas komunikasi publik pemerintah agar lebih efektif, inklusif, dan berdampak luas bagi masyarakat.&#13;
</description><content:encoded>BANDUNG &amp;ndash; Transformasi digital membuat masyarakat kini menuntut pemerintah untuk menyampaikan informasi yang tidak hanya sekedar pesan, tetapi juga dikemas secara kreatif, sederhana, dan relevan. Pasalnya, masyarakat kini cenderung mengonsumsi informasi secara cepat, melakukan scanning, serta lebih menyukai konten audiovisual dibandingkan teks panjang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Intinya bagaimana humas bisa kreatif di tengah terpaan konten digital yang begitu masif, sehingga informasi yang disampaikan tidak hanya sampai, tetapi juga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat,&amp;rdquo; kata Direktorat Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Angki Kusumadewi saat mengisi acara Aksi Bakohumas Masterclass Pengelolaan Konten: Seni Mengemas Pesan Publik menjadi Konten Kreatif.&#13;
&#13;
Ini merupakan bagian dari kontribusi Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) dalam meningkatkan kapasitas humas pemerintah di seluruh Indonesia ini diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat pada Senin, (27/4/2026).&#13;
&#13;
Kegiatan ini diikuti oleh insan humas dari berbagai kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah ini berlangsung secara luring dan daring, sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kompetensi komunikasi publik di tengah tantangan disrupsi digital yang semakin kompleks.&#13;
&#13;
Dalam sambutannya, Angki menekankan bahwa perubahan perilaku audiens, khususnya di era digital, menuntut pendekatan komunikasi yang berbeda. Merespons perubahan perilaku masyarakat ini humas tidak cukup hanya mengandalkan validitas data, tetapi juga harus mampu memastikan pesan tersebut menarik perhatian dan membangun keterlibatan publik.&#13;
&#13;
Pada sesi Masterclass, narasumber dari Katadata, yaitu Muhammad Yana dan Maria Margareta Delviera berbagi pengalaman mereka dalam mengolah data menjadi konten yang menarik dan berdampak.&#13;
&#13;
Yana menyoroti persoalan klasik komunikasi publik, yakni banyaknya data valid yang tidak tersampaikan secara efektif kepada masyarakat karena lemahnya kemasan konten.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Bayangkan kita punya data yang sahih dan penting, tapi setelah dipublikasikan tidak ada yang membaca. Pertanyaannya, yang salah datanya atau kemasannya?&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurutnya, di tengah arus informasi yang sangat cepat, kemampuan memilah data dan mengemasnya dalam format visual menjadi kunci. Konten berbasis visual dinilai lebih efektif dalam menyederhanakan informasi kompleks, menarik perhatian, serta meningkatkan pemahaman audiens.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Ketika kita terjebak pada teks yang panjang dan kompleks, pembaca akan kesulitan. Sebaliknya, visual yang kuat mampu merangkum informasi, membuatnya lebih menarik, dan akhirnya pesan bisa sampai,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Sejalan dengan itu, kegiatan ini menekankan bahwa tujuan utama komunikasi publik tetap sama, yaitu memastikan pesan tersampaikan secara efektif, terlepas dari bentuk medianya. Namun, dalam konteks digital saat ini, keberhasilan tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan humas dalam menggabungkan validitas data dengan kreativitas penyajian.&#13;
&#13;
Melalui Aksi Bakohumas, pemerintah mendorong transformasi peran humas sebagai jembatan strategis antara negara dan masyarakat, tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai kreator pesan publik yang adaptif, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan komunikasi di era digital.&#13;
&#13;
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh peserta, sekaligus memperkuat kualitas komunikasi publik pemerintah agar lebih efektif, inklusif, dan berdampak luas bagi masyarakat.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
