<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dari Baterai hingga SPKLU, Ini Alasan Masyarakat Enggan Beli Mobil Listrik</title><description>Ada sejumlah kendala untuk masyarakat bisa segera beralih ke kendaraan ramah lingkungan. &#13;
</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2025/07/02/52/3151984/dari-baterai-hingga-spklu-ini-alasan-masyarakat-enggan-beli-mobil-listrik</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2025/07/02/52/3151984/dari-baterai-hingga-spklu-ini-alasan-masyarakat-enggan-beli-mobil-listrik"/><item><title>Dari Baterai hingga SPKLU, Ini Alasan Masyarakat Enggan Beli Mobil Listrik</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2025/07/02/52/3151984/dari-baterai-hingga-spklu-ini-alasan-masyarakat-enggan-beli-mobil-listrik</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2025/07/02/52/3151984/dari-baterai-hingga-spklu-ini-alasan-masyarakat-enggan-beli-mobil-listrik</guid><pubDate>Rabu 02 Juli 2025 11:54 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/07/02/52/3151984/spklu-x2Xd_large.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Dari Baterai hingga SPKLU, Ini Alasan Masyarakat Enggan Beli Mobil Listrik (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/07/02/52/3151984/spklu-x2Xd_large.jpeg</image><title>Dari Baterai hingga SPKLU, Ini Alasan Masyarakat Enggan Beli Mobil Listrik (Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Mobil listrik kian populer di masyarakat Indonesia. Meski begitu, bukan berarti keberadaan mobil listrik tidak menghadapi hambatan. Ada sejumlah kendala untuk masyarakat bisa segera beralih ke kendaraan ramah lingkungan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Kendaraan Listrik&#13;
&#13;
Lembaga riset Populix menyampaikan temuannya soal pasar kendaraan listrik di Indonesia. Associate Head of Research for Automotive Populix, Susan Adi Putra, menyebutkan sejak mulai diperkenalkan di Indonesia tahun 2010-an, saat ini pasar kendaraan listrik di Indonesia sedang berkembang &amp;nbsp;sangat pesat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bahkan menurut penelitian, pasar Indonesia sudah termasuk ke kategori &amp;ldquo;Emerging EV Markets&amp;rdquo;, melampaui negara berkembang lain yang masih dalam tahap awal,&amp;quot; kata Adi Putra di Jakarta, Selasa (1/7/2025).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
2. Hambatan Mobil Listrik&#13;
&#13;
Meski begitu, dalam perkembangannya, eksistensi mobil listrik di Indonesia juga menemui sejumlah hambatan. Hambatan terbesar adalah kendala perawatan yang disebabkan keterbatasan jumlah bengkel yang menerima perbaikan kendaraan listrik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pasalnya, meskipun sudah hadir lebih dari satu dekade, hingga saat ini masih banyak bengkel yang belum menerima servis kendaraan listrik. Bahkan untuk permasalahan selain kelistrikan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Workshop, jaringan diler atau bengkel resmi. Jarak antar diler masih jauh,&amp;quot; ucapnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hambatan kedua adalah keterbatasan akses Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Hal ini terjadi karena saat ini mayoritas masyarakat masih bergantung pada SPKLU untuk mengisi daya kendaraan listrik mereka.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Keberadaan SPKLU ini sangat penting. Barrier utama kenapa responden enggak mau beli mobil listrik,&amp;quot; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut data Populix, setidaknya 63% pengguna kendaraan listrik roda empat dan 29% pengguna kendaraan listrik roda dua memilih mengisi daya di SPKLU. Itu karena pengisian daya di SPKLU dipilih karena dinilai lebih cepat dibanding mengisi daya di rumah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Aspek baterai, karena mobil listrik ada limit jarak dan kecepatan. Ini jadi perhatian bagi mereka kenapa enggak beli EV,&amp;quot; tutur Adi Putra.&#13;
&#13;
Hambatan lainnya adalah subsidi dari pemerintah. Ia menilai subsidi dari pemerintah juga masih relatif kecil.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
3. Beralih ke EV&#13;
&#13;
Di sisi lain, ada beberapa faktor masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Pertama, masyarakat kini lebih melek dengan lingkungan. &amp;nbsp;&amp;quot;Yang paling dasar terkait aspek lingkungan. Orang Indonesia mulai melek soal lingkungan,&amp;quot; ucapnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal lain yang membuat konsumen membeli mobil listrik adalah perawatannya lebih mudah serta biaya operasionalnya lebih rendah.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Insentif dari pemerintah ini juga mendukung mereka untuk beli akhirnya, ini sangat memengaruhi mereka, ini memegang peranan penting juga selain dari aspek lingkungan,&amp;rdquo; kata Adi Putra.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Mobil listrik kian populer di masyarakat Indonesia. Meski begitu, bukan berarti keberadaan mobil listrik tidak menghadapi hambatan. Ada sejumlah kendala untuk masyarakat bisa segera beralih ke kendaraan ramah lingkungan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Kendaraan Listrik&#13;
&#13;
Lembaga riset Populix menyampaikan temuannya soal pasar kendaraan listrik di Indonesia. Associate Head of Research for Automotive Populix, Susan Adi Putra, menyebutkan sejak mulai diperkenalkan di Indonesia tahun 2010-an, saat ini pasar kendaraan listrik di Indonesia sedang berkembang &amp;nbsp;sangat pesat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bahkan menurut penelitian, pasar Indonesia sudah termasuk ke kategori &amp;ldquo;Emerging EV Markets&amp;rdquo;, melampaui negara berkembang lain yang masih dalam tahap awal,&amp;quot; kata Adi Putra di Jakarta, Selasa (1/7/2025).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
2. Hambatan Mobil Listrik&#13;
&#13;
Meski begitu, dalam perkembangannya, eksistensi mobil listrik di Indonesia juga menemui sejumlah hambatan. Hambatan terbesar adalah kendala perawatan yang disebabkan keterbatasan jumlah bengkel yang menerima perbaikan kendaraan listrik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pasalnya, meskipun sudah hadir lebih dari satu dekade, hingga saat ini masih banyak bengkel yang belum menerima servis kendaraan listrik. Bahkan untuk permasalahan selain kelistrikan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Workshop, jaringan diler atau bengkel resmi. Jarak antar diler masih jauh,&amp;quot; ucapnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hambatan kedua adalah keterbatasan akses Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Hal ini terjadi karena saat ini mayoritas masyarakat masih bergantung pada SPKLU untuk mengisi daya kendaraan listrik mereka.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Keberadaan SPKLU ini sangat penting. Barrier utama kenapa responden enggak mau beli mobil listrik,&amp;quot; katanya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut data Populix, setidaknya 63% pengguna kendaraan listrik roda empat dan 29% pengguna kendaraan listrik roda dua memilih mengisi daya di SPKLU. Itu karena pengisian daya di SPKLU dipilih karena dinilai lebih cepat dibanding mengisi daya di rumah.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Aspek baterai, karena mobil listrik ada limit jarak dan kecepatan. Ini jadi perhatian bagi mereka kenapa enggak beli EV,&amp;quot; tutur Adi Putra.&#13;
&#13;
Hambatan lainnya adalah subsidi dari pemerintah. Ia menilai subsidi dari pemerintah juga masih relatif kecil.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
3. Beralih ke EV&#13;
&#13;
Di sisi lain, ada beberapa faktor masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Pertama, masyarakat kini lebih melek dengan lingkungan. &amp;nbsp;&amp;quot;Yang paling dasar terkait aspek lingkungan. Orang Indonesia mulai melek soal lingkungan,&amp;quot; ucapnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal lain yang membuat konsumen membeli mobil listrik adalah perawatannya lebih mudah serta biaya operasionalnya lebih rendah.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Insentif dari pemerintah ini juga mendukung mereka untuk beli akhirnya, ini sangat memengaruhi mereka, ini memegang peranan penting juga selain dari aspek lingkungan,&amp;rdquo; kata Adi Putra.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
