<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Arkeolog Temukan Kota Kuno yang Hilang, Berawal dari Ketidaksengajaan</title><description>Arkeolog menemukan kompleks tersembunyi yang mereka namai Valeriana menggunakan Lidar.&#13;
</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/11/10/56/3084239/cerita-arkeolog-temukan-kota-kuno-yang-hilang-berawal-dari-ketidaksengajaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2024/11/10/56/3084239/cerita-arkeolog-temukan-kota-kuno-yang-hilang-berawal-dari-ketidaksengajaan"/><item><title>Cerita Arkeolog Temukan Kota Kuno yang Hilang, Berawal dari Ketidaksengajaan</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/11/10/56/3084239/cerita-arkeolog-temukan-kota-kuno-yang-hilang-berawal-dari-ketidaksengajaan</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2024/11/10/56/3084239/cerita-arkeolog-temukan-kota-kuno-yang-hilang-berawal-dari-ketidaksengajaan</guid><pubDate>Senin 11 November 2024 07:04 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/11/10/56/3084239/kota_kuno_yang_hilang_ditemukan_berawal_dari_ketidaksengajaan-Xlj7_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kota kuno yang hilang ditemukan berawal dari ketidaksengajaan (BBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/11/10/56/3084239/kota_kuno_yang_hilang_ditemukan_berawal_dari_ketidaksengajaan-Xlj7_large.jpg</image><title>Kota kuno yang hilang ditemukan berawal dari ketidaksengajaan (BBC)</title></images><description>JAKARTA - Kota Maya kuno yang hilang ditemukan setelah berabad-abad tersembunyi di balik hutan Meksiko. Para arkeolog menemukan piramida, lapangan olahraga, jalur-jalur yang menghubungkan distrik dan amfiteater di Campeche, bagian tenggara Meksiko.&#13;
&#13;
Mereka menemukan kompleks tersembunyi yang mereka namai Valeriana menggunakan Lidar. Lidar merupakan teknik menggunakan laser untuk menyurvei struktur yang terkubur di bawah vegetasi.&#13;
&#13;
Mereka meyakini kepadatannya berada di urutan kedua setelah Calakmul, yang dianggap sebagai situs Maya terbesar di Amerika Latin kuno.&#13;
&#13;
Tim arkeolog menemukan tiga situs secara keseluruhan&amp;mdash;yang ukurannya sebesar Edinburgh, ibu kota Skotlandia&amp;mdash;&amp;quot;secara tidak sengaja&amp;quot; ketika salah satu arkeolog menjelajah data di internet.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya menjelajah sampai halaman 16 di mesin pencarian Google dan menemukan survei laser untuk pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh organisasi Meksiko,&amp;quot; kata mahasiswa S-3 arkeologi di Tulane University di AS, Luke Auld-Thomas, melansir BBC, Senin (11/11/2024).&#13;
&#13;
Survei yang dimaksud Auld-Thomas adalah survei Lidar, teknik penginderaan jarak jauh yang menembakkan ribuan laser dari pesawat dan memetakan objek di bawahnya menggunakan waktu yang dibutuhkan sinyal untuk kembali.&#13;
&#13;
Namun, ketika Auld-Thomas memproses data dengan metode yang digunakan para arkeolog, dia menemukan apa yang terlewat oleh orang-orang&amp;mdash;kota besar kuno yang diperkirakan menjadi rumah bagi 30-50.000 orang sekitar tahun 750 hingga 850.&#13;
&#13;
Menurut para peneliti, jumlah penduduk itu lebih dari populasi yang tinggal di wilayah itu saat itu.&#13;
&#13;
Auld-Thomas dan para rekannya menamai kota itu Valeriana, sesuai dengan nama laguna yang berada di dekatnya.&#13;
&#13;
Salah satu penulis penelitian tersebut, Profesor Marcello Canuto, mengatakan temuan ini membantu mengubah gagasan dalam pemikiran Barat bahwa daerah Tropis adalah tempat kematian peradaban.&#13;
&#13;
Sebaliknya, ia menjelaskan, bagian dunia ini merupakan rumah bagi budaya yang kaya dan kompleks.&#13;
&#13;
Valeriana memiliki &amp;quot;ciri khas ibu kota&amp;quot; dan menempati urutan kedua dalam kepadatan bangunan setelah situs Calakmul yang spektakuler, yang berjarak sekitar 100 km.&#13;
&#13;
Situs ini &amp;quot;tersembunyi di tempat yang mudah terlihat&amp;quot;, kata para arkeolog, karena hanya berjarak 15 menit berjalan kaki dari jalan utama dekat Xpujil yang kini menjadi tempat tinggal sebagian besar suku Maya.&#13;
&#13;
Hingga kini belum ada foto atau gambar mengenai kota yang hilang tersebut karena &amp;quot;tidak ada seorang pun yang pernah ke sana&amp;quot;, kata para peneliti, meskipun penduduk setempat mungkin menduga ada reruntuhan di bawah gundukan tanah yang mereka tempati.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kota Valeriana, yang memiliki luas 16,6 kilometer persegi, memiliki dua pusat bangunan berjarak 2km satu sama lain, dihubungkan oleh rumah-rumah dan jalan lintas yang padat.&#13;
&#13;
Di sana terdapat dua plaza dengan piramida kuil, tempat orang Maya beribadah, menyimpan harta karun seperti topeng giok, dan menguburkan orang mati.&#13;
&#13;
Di sana juga terdapat lapangan tempat orang memainkan permainan bola kuno.&#13;
&#13;
Ada juga bukti adanya waduk, yang menunjukkan bahwa orang memanfaatkan lanskap tersebut untuk mendukung populasi yang besar.&#13;
&#13;
Secara keseluruhan, Auld-Thomas dan Prof Canuto menyurvei tiga lokasi berbeda di hutan. Mereka menemukan 6.764 bangunan dengan berbagai ukuran.&#13;
&#13;
Profesor Elizabeth Graham dari University College London, yang tak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan temuan ini mendukung klaim bahwa Maya tinggal di kota-kota atau desa-desa yang kompleks, bukan di desa-desa terpencil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Intinya adalah bahwa lanskapnya sudah pasti berpenghuni - menetap di masa lalu - dan tidak, seperti yang terlihat oleh mata telanjang, tidak berpenghuni atau &amp;#39;liar&amp;#39;,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika peradaban Maya runtuh sejak 800 M dan seterusnya, hal itu terjadi sebagian karena populasi mereka sangat padat dan tidak dapat bertahan hidup dari masalah iklim.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hal itu menunjukkan bahwa lanskap tersebut benar-benar penuh dengan orang pada awal musim kemarau dan tidak memiliki banyak fleksibilitas lagi. Jadi mungkin seluruh sistem pada dasarnya hancur ketika orang pindah semakin jauh,&amp;quot; kata Auld-Thomas.&#13;
&#13;
Perang dan penaklukan oleh penjajah Spanyol di wilayah tersebut pada abad ke-16 juga berkontribusi terhadap pemusnahan negara-kota Maya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kota Maya kuno yang hilang ditemukan setelah berabad-abad tersembunyi di balik hutan Meksiko. Para arkeolog menemukan piramida, lapangan olahraga, jalur-jalur yang menghubungkan distrik dan amfiteater di Campeche, bagian tenggara Meksiko.&#13;
&#13;
Mereka menemukan kompleks tersembunyi yang mereka namai Valeriana menggunakan Lidar. Lidar merupakan teknik menggunakan laser untuk menyurvei struktur yang terkubur di bawah vegetasi.&#13;
&#13;
Mereka meyakini kepadatannya berada di urutan kedua setelah Calakmul, yang dianggap sebagai situs Maya terbesar di Amerika Latin kuno.&#13;
&#13;
Tim arkeolog menemukan tiga situs secara keseluruhan&amp;mdash;yang ukurannya sebesar Edinburgh, ibu kota Skotlandia&amp;mdash;&amp;quot;secara tidak sengaja&amp;quot; ketika salah satu arkeolog menjelajah data di internet.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya menjelajah sampai halaman 16 di mesin pencarian Google dan menemukan survei laser untuk pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh organisasi Meksiko,&amp;quot; kata mahasiswa S-3 arkeologi di Tulane University di AS, Luke Auld-Thomas, melansir BBC, Senin (11/11/2024).&#13;
&#13;
Survei yang dimaksud Auld-Thomas adalah survei Lidar, teknik penginderaan jarak jauh yang menembakkan ribuan laser dari pesawat dan memetakan objek di bawahnya menggunakan waktu yang dibutuhkan sinyal untuk kembali.&#13;
&#13;
Namun, ketika Auld-Thomas memproses data dengan metode yang digunakan para arkeolog, dia menemukan apa yang terlewat oleh orang-orang&amp;mdash;kota besar kuno yang diperkirakan menjadi rumah bagi 30-50.000 orang sekitar tahun 750 hingga 850.&#13;
&#13;
Menurut para peneliti, jumlah penduduk itu lebih dari populasi yang tinggal di wilayah itu saat itu.&#13;
&#13;
Auld-Thomas dan para rekannya menamai kota itu Valeriana, sesuai dengan nama laguna yang berada di dekatnya.&#13;
&#13;
Salah satu penulis penelitian tersebut, Profesor Marcello Canuto, mengatakan temuan ini membantu mengubah gagasan dalam pemikiran Barat bahwa daerah Tropis adalah tempat kematian peradaban.&#13;
&#13;
Sebaliknya, ia menjelaskan, bagian dunia ini merupakan rumah bagi budaya yang kaya dan kompleks.&#13;
&#13;
Valeriana memiliki &amp;quot;ciri khas ibu kota&amp;quot; dan menempati urutan kedua dalam kepadatan bangunan setelah situs Calakmul yang spektakuler, yang berjarak sekitar 100 km.&#13;
&#13;
Situs ini &amp;quot;tersembunyi di tempat yang mudah terlihat&amp;quot;, kata para arkeolog, karena hanya berjarak 15 menit berjalan kaki dari jalan utama dekat Xpujil yang kini menjadi tempat tinggal sebagian besar suku Maya.&#13;
&#13;
Hingga kini belum ada foto atau gambar mengenai kota yang hilang tersebut karena &amp;quot;tidak ada seorang pun yang pernah ke sana&amp;quot;, kata para peneliti, meskipun penduduk setempat mungkin menduga ada reruntuhan di bawah gundukan tanah yang mereka tempati.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Kota Valeriana, yang memiliki luas 16,6 kilometer persegi, memiliki dua pusat bangunan berjarak 2km satu sama lain, dihubungkan oleh rumah-rumah dan jalan lintas yang padat.&#13;
&#13;
Di sana terdapat dua plaza dengan piramida kuil, tempat orang Maya beribadah, menyimpan harta karun seperti topeng giok, dan menguburkan orang mati.&#13;
&#13;
Di sana juga terdapat lapangan tempat orang memainkan permainan bola kuno.&#13;
&#13;
Ada juga bukti adanya waduk, yang menunjukkan bahwa orang memanfaatkan lanskap tersebut untuk mendukung populasi yang besar.&#13;
&#13;
Secara keseluruhan, Auld-Thomas dan Prof Canuto menyurvei tiga lokasi berbeda di hutan. Mereka menemukan 6.764 bangunan dengan berbagai ukuran.&#13;
&#13;
Profesor Elizabeth Graham dari University College London, yang tak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan temuan ini mendukung klaim bahwa Maya tinggal di kota-kota atau desa-desa yang kompleks, bukan di desa-desa terpencil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Intinya adalah bahwa lanskapnya sudah pasti berpenghuni - menetap di masa lalu - dan tidak, seperti yang terlihat oleh mata telanjang, tidak berpenghuni atau &amp;#39;liar&amp;#39;,&amp;quot; katanya.&#13;
&#13;
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketika peradaban Maya runtuh sejak 800 M dan seterusnya, hal itu terjadi sebagian karena populasi mereka sangat padat dan tidak dapat bertahan hidup dari masalah iklim.&#13;
&#13;
&amp;quot;Hal itu menunjukkan bahwa lanskap tersebut benar-benar penuh dengan orang pada awal musim kemarau dan tidak memiliki banyak fleksibilitas lagi. Jadi mungkin seluruh sistem pada dasarnya hancur ketika orang pindah semakin jauh,&amp;quot; kata Auld-Thomas.&#13;
&#13;
Perang dan penaklukan oleh penjajah Spanyol di wilayah tersebut pada abad ke-16 juga berkontribusi terhadap pemusnahan negara-kota Maya.&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
