<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kendaraan Listrik Mulai Menjamur di Indonesia, Berdampak ke Produsen Oli?</title><description>Dengan mulai maraknya kendaraan listrik, apakah bakal berdampak pada produsen oli?</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/03/04/52/2978906/null</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2024/03/04/52/2978906/null"/><item><title>Kendaraan Listrik Mulai Menjamur di Indonesia, Berdampak ke Produsen Oli?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/03/04/52/2978906/null</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2024/03/04/52/2978906/null</guid><pubDate>Senin 04 Maret 2024 20:16 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Fadli Ramadan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/03/04/52/2978906/kendaraan-listrik-mulai-menjamur-di-indonesia-berdampak-ke-produsen-oli-TBLjyzBzvD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kendaraan listrik mulai menjamur, berdampak ke produsen oli? (Ilustrasi/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/03/04/52/2978906/kendaraan-listrik-mulai-menjamur-di-indonesia-berdampak-ke-produsen-oli-TBLjyzBzvD.jpg</image><title>Kendaraan listrik mulai menjamur, berdampak ke produsen oli? (Ilustrasi/Freepik)</title></images><description>


JAKARTA - Industri otomotif Indonesia saat ini dibanjiri kendaraan listrik sesuai dengan kebijakan pemerintah guna menekan polusi udara. Dengan mulai maraknya kendaraan listrik, apakah bakal berdampak pada produsen oli?

Managing Director Shell Lubricants Indonesia, Andri Pratiwa mengungkapkan, saat ini permintaan dan minat masyarakat terhadap mobil listrik memang cukup tinggi. Namun, angka penjualannya masih sangat rendah dibandingkan mobil konvensional.

&amp;ldquo;Kami rasa terlalu terburu-buru kalau kita bilang sekarang EV (electric vehicle-red) sudah sepenuhnya berkembang,&amp;rdquo; kata Andri kepada wartawan di Jakarta Selatan, Senin (4/3/2024).

&amp;ldquo;Kalau kita lihat China saja yang perkembangan EV-nya sangat pesat, penjualan mobil per-tahunnya itu masih 40 persen EV. Tapi kalau kita lihat populasi mobil secara total, populasi ICE (di China) masih sangat tinggi,&amp;rdquo; sambungnya.








BACA JUGA:
Honda Ungkap Kendala Mobil Listrik di Daerah









Menurut Andri, saat ini infrastruktur di Indonesia belum memadai sehingga populasi kendaraan listrik belum masif seperti kendaraan konvensional. Ia menyebut, hal ini membuat konsumen belum nyaman menggunakan kendaraan ramah lingkungan tersebut.

&amp;ldquo;Elektrifikasi ini juga tergantung dari infrastruktur, sudah siap atau belum. Karena kalau infrastuktur dan ekosistemnya belum siap, artinya mobil EV masih belum bisa digunakan dengan nyaman oleh konsumen,&amp;rdquo; ujarnya.






BACA JUGA:
Masih Belum Jualan Mobil Listrik, Honda Bakal Luncurkan Model Hybrid Terbaru?











Karena itu, Shell Indonesia memilih mengikuti kebutuhan konsumen di Tanah Air. Menurut Andri, apabila bergerak terlalu jauh akan berisiko dalam hal bisnis mereka di Indonesia.

&amp;ldquo;Target kami di sini sangat simpel. Kami ingin membantu konsumen dan memenuhi kebutuhannya. Kalau perkembangannya terlalu lambat pasti merepotkan konsumen, kalau terlalu cepat juga menyusahkan, jadi linear saja,&amp;rdquo; ucapnya.



Soal elektrifikasi, Shell Indonesia mengikuti tren dan keputusan pemerintah. Namun, Andri memastikan,secara global pihaknya memiliki produk untuk digunakan pada kendaraan listrik.






BACA JUGA:
Intip Kecanggihan Pabrik Mobil Listrik BYD di Changzhou China














&amp;ldquo;Beda negara, beda juga rencana elektrifikasinya. Ada yang cepat ada juga yang lama. Bahkan berdasarkan data, ada beberapa negara yang mempertimbangkan ulang soal percepatan program elektrifikasi,&amp;rdquo; ungkapnya.



Shell memiliki cairan khusus untuk kendaraan listrik yang digunakan untuk motor penggerak. Selain itu, terdapat cairan pendingin khusus baterai. Teknologi ini sudah digunakan pada mobil balap Formula E.



</description><content:encoded>


JAKARTA - Industri otomotif Indonesia saat ini dibanjiri kendaraan listrik sesuai dengan kebijakan pemerintah guna menekan polusi udara. Dengan mulai maraknya kendaraan listrik, apakah bakal berdampak pada produsen oli?

Managing Director Shell Lubricants Indonesia, Andri Pratiwa mengungkapkan, saat ini permintaan dan minat masyarakat terhadap mobil listrik memang cukup tinggi. Namun, angka penjualannya masih sangat rendah dibandingkan mobil konvensional.

&amp;ldquo;Kami rasa terlalu terburu-buru kalau kita bilang sekarang EV (electric vehicle-red) sudah sepenuhnya berkembang,&amp;rdquo; kata Andri kepada wartawan di Jakarta Selatan, Senin (4/3/2024).

&amp;ldquo;Kalau kita lihat China saja yang perkembangan EV-nya sangat pesat, penjualan mobil per-tahunnya itu masih 40 persen EV. Tapi kalau kita lihat populasi mobil secara total, populasi ICE (di China) masih sangat tinggi,&amp;rdquo; sambungnya.








BACA JUGA:
Honda Ungkap Kendala Mobil Listrik di Daerah









Menurut Andri, saat ini infrastruktur di Indonesia belum memadai sehingga populasi kendaraan listrik belum masif seperti kendaraan konvensional. Ia menyebut, hal ini membuat konsumen belum nyaman menggunakan kendaraan ramah lingkungan tersebut.

&amp;ldquo;Elektrifikasi ini juga tergantung dari infrastruktur, sudah siap atau belum. Karena kalau infrastuktur dan ekosistemnya belum siap, artinya mobil EV masih belum bisa digunakan dengan nyaman oleh konsumen,&amp;rdquo; ujarnya.






BACA JUGA:
Masih Belum Jualan Mobil Listrik, Honda Bakal Luncurkan Model Hybrid Terbaru?











Karena itu, Shell Indonesia memilih mengikuti kebutuhan konsumen di Tanah Air. Menurut Andri, apabila bergerak terlalu jauh akan berisiko dalam hal bisnis mereka di Indonesia.

&amp;ldquo;Target kami di sini sangat simpel. Kami ingin membantu konsumen dan memenuhi kebutuhannya. Kalau perkembangannya terlalu lambat pasti merepotkan konsumen, kalau terlalu cepat juga menyusahkan, jadi linear saja,&amp;rdquo; ucapnya.



Soal elektrifikasi, Shell Indonesia mengikuti tren dan keputusan pemerintah. Namun, Andri memastikan,secara global pihaknya memiliki produk untuk digunakan pada kendaraan listrik.






BACA JUGA:
Intip Kecanggihan Pabrik Mobil Listrik BYD di Changzhou China














&amp;ldquo;Beda negara, beda juga rencana elektrifikasinya. Ada yang cepat ada juga yang lama. Bahkan berdasarkan data, ada beberapa negara yang mempertimbangkan ulang soal percepatan program elektrifikasi,&amp;rdquo; ungkapnya.



Shell memiliki cairan khusus untuk kendaraan listrik yang digunakan untuk motor penggerak. Selain itu, terdapat cairan pendingin khusus baterai. Teknologi ini sudah digunakan pada mobil balap Formula E.



</content:encoded></item></channel></rss>
