<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waspada! Spyware Buatan Israel Kembali Beraksi Lewat 12 Aplikasi Chat Ini</title><description>Jika Anda memiliki salah satu dari 12 aplikasi chat ini, sebaiknya Anda ssgera menghapusnya.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/02/06/54/2966339/waspada-spyware-buatan-israel-kembali-beraksi-lewat-12-aplikasi-chat-ini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2024/02/06/54/2966339/waspada-spyware-buatan-israel-kembali-beraksi-lewat-12-aplikasi-chat-ini"/><item><title>Waspada! Spyware Buatan Israel Kembali Beraksi Lewat 12 Aplikasi Chat Ini</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/02/06/54/2966339/waspada-spyware-buatan-israel-kembali-beraksi-lewat-12-aplikasi-chat-ini</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2024/02/06/54/2966339/waspada-spyware-buatan-israel-kembali-beraksi-lewat-12-aplikasi-chat-ini</guid><pubDate>Selasa 06 Februari 2024 13:28 WIB</pubDate><dc:creator>Hana Mufidah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/06/54/2966339/waspada-spyware-buatan-israel-kembali-beraksi-lewat-12-aplikasi-chat-ini-p4wDmd6Rxh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Reuters.</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/06/54/2966339/waspada-spyware-buatan-israel-kembali-beraksi-lewat-12-aplikasi-chat-ini-p4wDmd6Rxh.jpg</image><title>Foto: Reuters.</title></images><description>JAKARTA - Sebuah malware sangat berbahaya bernama Pegasus milik NSO Group asal Israel yang digunakan untuk memata-matai para jurnalis, aktivis, hingga pejabat, terdeteksi pada beberapa aplikasi Android. Meskipun sebelumnya penggugat malware Pegasus merupakan pengguna Apple, ada aplikasi Android yang tampak tidak berbahaya namun ternyata mengambil data sensitif dari ponsel orang biasa.

BACA JUGA:
Fakta Pegasus, Spyware Canggih Milik Perusahaan Israel

Pakar keamanan di ESET menemukan setidaknya ada 12 aplikasi Android yang disisipkan trojan. Sebagian besar aplikasinya menyamar sebagai aplikasi obrolan. Ponsel yang terjangkit Trojan kemudian dicuri data privasinya seperti panggilan dan pesan, mengendalikan kamera dari jarak jauh, dan bahkan mengekstrak detail obrolan dari platform yang dienkripsi ujung ke ujung seperti WhatsApp.
Aplikasi yang dimaksud berdasarkan lansiran Digitaltrends pada Selasa (6/2/2024) adalah YohooTalk, TikTalk, Privee Talk, MeetMe, Nidus, GlowChat, Let's Chat, Quick Chat, Rafaqat, Chit Chat, Hello Chat, dan Wave Chat. Jika Anda memiliki salah satu dari aplikasi ini terinstal di perangkat, segeralah untuk menghapusnya.

BACA JUGA:
Wartawan dan Aktivis Jadi Sasaran Empuk Spyware Pegasus Israel

Tercatat, enam dari aplikasi tersebut tersedia di Google Play Store. Hal ini meningkatkan nilai risiko karena pengguna menaruh kepercayaan pada protokol keamanan yang diterapkan oleh Google. Remote Access Trojan (RAT) bernama Vajra Spy merupakan pusat dari aktivitas spionase aplikasi-aplikasi ini.Ini bukan kali pertama Vajra Spy menimbulkan kekhawatiran. Pada 2023, Scroll melaporkan bagaimana mata-mata ini memanfaatkan jebakan manis untuk memancing para ilmuwan dan anggota militer India. Mereka menggali informasi sensitif dengan menggunakan perpaduan antara rayuan gombal dan upaya pemerasan.
Seorang staf Gedung Putih dikabarkan pernah kehilangan lebih dari setengah juta dolar dalam satu jebakan semacam itu. Bahkan di 2022, malware Pegasus sempat menembus perangkat milik 12 pejabat senior Indonesia dan banyak terdeteksi pada situs milik negara.
Digitaltrends juga melaporkan bahwa para pelaku kejahatan menyalahgunakan notifikasi push pada ponsel dan menjual datanya kepada lembaga pemerintah. Saat ini satu-satunya cara yang sangat mudah untuk menghentikan hal tersebut adalah dengan menonaktifkan akses notifikasi untuk aplikasi.

</description><content:encoded>JAKARTA - Sebuah malware sangat berbahaya bernama Pegasus milik NSO Group asal Israel yang digunakan untuk memata-matai para jurnalis, aktivis, hingga pejabat, terdeteksi pada beberapa aplikasi Android. Meskipun sebelumnya penggugat malware Pegasus merupakan pengguna Apple, ada aplikasi Android yang tampak tidak berbahaya namun ternyata mengambil data sensitif dari ponsel orang biasa.

BACA JUGA:
Fakta Pegasus, Spyware Canggih Milik Perusahaan Israel

Pakar keamanan di ESET menemukan setidaknya ada 12 aplikasi Android yang disisipkan trojan. Sebagian besar aplikasinya menyamar sebagai aplikasi obrolan. Ponsel yang terjangkit Trojan kemudian dicuri data privasinya seperti panggilan dan pesan, mengendalikan kamera dari jarak jauh, dan bahkan mengekstrak detail obrolan dari platform yang dienkripsi ujung ke ujung seperti WhatsApp.
Aplikasi yang dimaksud berdasarkan lansiran Digitaltrends pada Selasa (6/2/2024) adalah YohooTalk, TikTalk, Privee Talk, MeetMe, Nidus, GlowChat, Let's Chat, Quick Chat, Rafaqat, Chit Chat, Hello Chat, dan Wave Chat. Jika Anda memiliki salah satu dari aplikasi ini terinstal di perangkat, segeralah untuk menghapusnya.

BACA JUGA:
Wartawan dan Aktivis Jadi Sasaran Empuk Spyware Pegasus Israel

Tercatat, enam dari aplikasi tersebut tersedia di Google Play Store. Hal ini meningkatkan nilai risiko karena pengguna menaruh kepercayaan pada protokol keamanan yang diterapkan oleh Google. Remote Access Trojan (RAT) bernama Vajra Spy merupakan pusat dari aktivitas spionase aplikasi-aplikasi ini.Ini bukan kali pertama Vajra Spy menimbulkan kekhawatiran. Pada 2023, Scroll melaporkan bagaimana mata-mata ini memanfaatkan jebakan manis untuk memancing para ilmuwan dan anggota militer India. Mereka menggali informasi sensitif dengan menggunakan perpaduan antara rayuan gombal dan upaya pemerasan.
Seorang staf Gedung Putih dikabarkan pernah kehilangan lebih dari setengah juta dolar dalam satu jebakan semacam itu. Bahkan di 2022, malware Pegasus sempat menembus perangkat milik 12 pejabat senior Indonesia dan banyak terdeteksi pada situs milik negara.
Digitaltrends juga melaporkan bahwa para pelaku kejahatan menyalahgunakan notifikasi push pada ponsel dan menjual datanya kepada lembaga pemerintah. Saat ini satu-satunya cara yang sangat mudah untuk menghentikan hal tersebut adalah dengan menonaktifkan akses notifikasi untuk aplikasi.

</content:encoded></item></channel></rss>
