<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pemenang Penghargaan Buku Bergengsi Ngaku Gunakan ChatGPT, Tuai Respons Beragam</title><description>Pemenang Penghargaan Buku Bergengsi Ngaku Gunakan ChatGPT, Tuai Respons Beragam
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/20/54/2957741/pemenang-penghargaan-buku-bergengsi-ngaku-gunakan-chatgpt-tuai-respons-beragam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/20/54/2957741/pemenang-penghargaan-buku-bergengsi-ngaku-gunakan-chatgpt-tuai-respons-beragam"/><item><title>Pemenang Penghargaan Buku Bergengsi Ngaku Gunakan ChatGPT, Tuai Respons Beragam</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/20/54/2957741/pemenang-penghargaan-buku-bergengsi-ngaku-gunakan-chatgpt-tuai-respons-beragam</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/20/54/2957741/pemenang-penghargaan-buku-bergengsi-ngaku-gunakan-chatgpt-tuai-respons-beragam</guid><pubDate>Sabtu 20 Januari 2024 19:18 WIB</pubDate><dc:creator>Redaksi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/20/54/2957741/pemenang-penghargaan-buku-bergengsi-ngaku-gunakan-chatgpt-tuai-respons-beragam-uFjiwe0b4n.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemenang penghargaan buku bergengsi ngaku pakai ChatGPT. (Ilustrasi/Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/20/54/2957741/pemenang-penghargaan-buku-bergengsi-ngaku-gunakan-chatgpt-tuai-respons-beragam-uFjiwe0b4n.jpg</image><title>Pemenang penghargaan buku bergengsi ngaku pakai ChatGPT. (Ilustrasi/Reuters)</title></images><description>
TOKYO - Penulis Jepang Rie Kudan mengaku menggunakan ChatGPT dalam pembuatan novel futuristiknya yang baru-baru ini meraih penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang, Akutagawa Prize.
Menurut Kudan, penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif membantu untuk menemukan kreativitasnya. Novel berjudul &quot;Tokyo-to Dojo-to&quot; (Menara Simpati Tokyo) dengan latar futuristik ini mendapatkan pujian dari para juri sebagai novel yang &amp;ldquo;nyaris tanpa cacat&amp;rdquo; dan &amp;ldquo;dapat dinikmati secara universal&amp;rdquo;.

Dilansir melalui RT News pada Jumat (19/1/2024), setelah pengumuman pemenang pada penghargaan yang diselenggarakan setiap dua tahun ini, Rie Kudan secara terbuka mengakui bahwa sekitar 5% dari buku berasal dari kalimat yang dihasilkan oleh AI.
Selain menggunakannya sebagai pembantu dalam menulis novelnya, Kudan mengatakan sering menggunakan ChatGPT untuk menuangkan curahan hatinya yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain. Beberapa tanggapan ChatGPT menginspirasinya untuk dijadikan sebuah dialog dalam novelnya.





BACA JUGA:
OpenAI Buka Kembali Pendaftaran ChatGPT Plus, Apa Keuntungannya?











Kudan menambahkan,ia berniat untuk menjaga hubungan baik dengan AI dan menyatakan teknologi telah membantu mendorong kreativitasnya. Pengakuan Rie Kudan alhasil mendapatkan berbagai respon, mulai dari memuji pemanfaatan teknologi sebagai kreativitasnya, hingga menyebut bahwa ia tidak layak atas penghargaan tersebut.





BACA JUGA:
Pertama di Dunia, Volkswagen Golf Dilengkapi Fitur Chatbot ChatGPT&amp;nbsp;










Penggunaan AI sebagai penulisan untuk karya sastra hingga penelitian ini memang masih menjadi isu akan keabsahan etika serta hak cipta.

Tahun lalu, sebuah kelompok yang terdiri dari 1.100 peneliti AI, tokoh teknologi termasuk miliarder Elon Musk dan salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak, menandatangani sebuah surat terbuka yang menuntut moratorium selama enam bulan sebagai eksperimen AI besar-besaran untuk menghasilkan pedoman tentang bagaimana teknologi ini harus dikembangkan dan digunakan.








BACA JUGA:
ChatGPT Akan Miliki Fitur Dukungan Video















Di sisi lain Presiden Urusan Global perusahaan Meta, Nick Clegg menganggap bahwa model AI saat ini jauh dari ancaman bagi umat manusia. Tetap saja teknologi-teknologi ini memerlukan sebuah batasan untuk menghindari penyalahgunaan dan kebijakan pada setiap pemakaiannya. (Hana Mufidah)

</description><content:encoded>
TOKYO - Penulis Jepang Rie Kudan mengaku menggunakan ChatGPT dalam pembuatan novel futuristiknya yang baru-baru ini meraih penghargaan sastra paling bergengsi di Jepang, Akutagawa Prize.
Menurut Kudan, penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif membantu untuk menemukan kreativitasnya. Novel berjudul &quot;Tokyo-to Dojo-to&quot; (Menara Simpati Tokyo) dengan latar futuristik ini mendapatkan pujian dari para juri sebagai novel yang &amp;ldquo;nyaris tanpa cacat&amp;rdquo; dan &amp;ldquo;dapat dinikmati secara universal&amp;rdquo;.

Dilansir melalui RT News pada Jumat (19/1/2024), setelah pengumuman pemenang pada penghargaan yang diselenggarakan setiap dua tahun ini, Rie Kudan secara terbuka mengakui bahwa sekitar 5% dari buku berasal dari kalimat yang dihasilkan oleh AI.
Selain menggunakannya sebagai pembantu dalam menulis novelnya, Kudan mengatakan sering menggunakan ChatGPT untuk menuangkan curahan hatinya yang tidak bisa diceritakan kepada orang lain. Beberapa tanggapan ChatGPT menginspirasinya untuk dijadikan sebuah dialog dalam novelnya.





BACA JUGA:
OpenAI Buka Kembali Pendaftaran ChatGPT Plus, Apa Keuntungannya?











Kudan menambahkan,ia berniat untuk menjaga hubungan baik dengan AI dan menyatakan teknologi telah membantu mendorong kreativitasnya. Pengakuan Rie Kudan alhasil mendapatkan berbagai respon, mulai dari memuji pemanfaatan teknologi sebagai kreativitasnya, hingga menyebut bahwa ia tidak layak atas penghargaan tersebut.





BACA JUGA:
Pertama di Dunia, Volkswagen Golf Dilengkapi Fitur Chatbot ChatGPT&amp;nbsp;










Penggunaan AI sebagai penulisan untuk karya sastra hingga penelitian ini memang masih menjadi isu akan keabsahan etika serta hak cipta.

Tahun lalu, sebuah kelompok yang terdiri dari 1.100 peneliti AI, tokoh teknologi termasuk miliarder Elon Musk dan salah satu pendiri Apple, Steve Wozniak, menandatangani sebuah surat terbuka yang menuntut moratorium selama enam bulan sebagai eksperimen AI besar-besaran untuk menghasilkan pedoman tentang bagaimana teknologi ini harus dikembangkan dan digunakan.








BACA JUGA:
ChatGPT Akan Miliki Fitur Dukungan Video















Di sisi lain Presiden Urusan Global perusahaan Meta, Nick Clegg menganggap bahwa model AI saat ini jauh dari ancaman bagi umat manusia. Tetap saja teknologi-teknologi ini memerlukan sebuah batasan untuk menghindari penyalahgunaan dan kebijakan pada setiap pemakaiannya. (Hana Mufidah)

</content:encoded></item></channel></rss>
