<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Temukan Bahan Alternatif Pengganti Litium-ion, Microsoft Manfaatkan AI</title><description>Temukan Bahan Alternatif Pengganti Litium-ion, Microsoft Manfaatkan AI</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/13/57/2954167/temukan-bahan-alternatif-pengganti-litium-ion-microsoft-manfaatkan-ai</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/13/57/2954167/temukan-bahan-alternatif-pengganti-litium-ion-microsoft-manfaatkan-ai"/><item><title>Temukan Bahan Alternatif Pengganti Litium-ion, Microsoft Manfaatkan AI</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/13/57/2954167/temukan-bahan-alternatif-pengganti-litium-ion-microsoft-manfaatkan-ai</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2024/01/13/57/2954167/temukan-bahan-alternatif-pengganti-litium-ion-microsoft-manfaatkan-ai</guid><pubDate>Sabtu 13 Januari 2024 22:04 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/13/57/2954167/temukan-bahan-alternatif-pengganti-litium-ion-microsoft-manfaatkan-ai-FrzRS7gOlc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Microsoft temukan bahan pengganti Lithium-ion. (Techspot)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/13/57/2954167/temukan-bahan-alternatif-pengganti-litium-ion-microsoft-manfaatkan-ai-FrzRS7gOlc.jpg</image><title>Microsoft temukan bahan pengganti Lithium-ion. (Techspot)</title></images><description>




JAKARTA - Microsoft berkolaborasi dengan Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi dan dibantu artificial intelligence (AI) berhasil menemukan bahan alternatif pengganti litium-ion. Bahan alternatif ini diklaim bisa mengurangi ketergantungan dunia akan litium-ion dalam memproduksi baterai.


Baterai litium-ion mengandalkan litium dan logam tanah sebagai bahan bakunya. Meskipun bahan tersebut menawarkan sumber energi yang efisien dengan siklus hidup yang lebih lama, tapi tetap dapat menimbulkan masalah dan sulit didaur ulang.


Microsoft dan Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi memanfaatkan AI dan platform cloud Azure Quantum Elements demi mempercepat proses penelitian yang memakan waktu terhadap material yang tidak ditemukan di alam. Akhirnya mereka berhasil menemukan bahan baru tersebut.


Melansir Techspot, Sabtu (12/1/2024), dalam menghasilkan temuan, Microsoft melatih model AI menggunakan jutaan titik data dari simulasi, sehingga menghasilkan prediksi properti material 1.500 kali lebih cepat dibandingkan penghitungan teori fungsional kepadatan tradisional.


Proses seleksi dimulai dengan 32,6 juta kandidat material dan algoritma AI yang mengidentifikasi 500.000 material yang diprediksi stabil. Setelah menyaring properti fungsional, kelompok tersebut selanjutnya dipersempit menjadi 800 kandidat potensial.  Memanfaatkan simulasi &quot;yang dipercepat AI&quot; untuk mengeksplorasi sifat dinamis seperti difusivitas ionik, tim Microsoft Quantum mempersempit pilihan menjadi 150 material.








BACA JUGA:
Aplikasi Seeing AI Microsoft untuk Bantu Pengguna Tunanetra Kini Hadir di Android













Dengan sinergi AI, platform Azure Quantum Elements, dan keahlian ilmiah yang mapan, Microsoft mengklaim teknologi modern dapat menyingkat inovasi ilmu kimia dan material dalam 250 tahun ke depan menjadi 25 tahun mendatang. Pertimbangan praktis, termasuk kebaruan, mekanika, dan ketersediaan elemen, kemudian diperhitungkan untuk mengidentifikasi 18 kandidat teratas.


Memanfaatkan keahlian dan wawasan untuk parameter penyaringan tambahan, peneliti Microsoft menunjuk kandidat terakhir, yakni bahan elektrolit yang menggunakan litium sekitar 70 persen lebih sedikit dibandingkan baterai li-ion yang ada, menggantikan sebagian litium dengan natrium.







BACA JUGA:
Catut Microsoft, Penjabat Siber Kirim QR Palsu via Email















Bahan baru ini lantas disintesis Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi, dan pengujian tambahan direncanakan untuk memverifikasi stabilitas dan efisiensinya.


Chief Digital Officer di Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi, Brian Abrahamson, mengatakan pengembangan baterai baru merupakan tantangan global yang penting.








BACA JUGA:
Kolaborasi dengan Microsoft, Ponsel Samsung Bakal Bisa Difungsikan sebagai Webcam PC














Abrahamson menyatakan menyintesis dan menguji bahan pada skala manusia adalah proses yang memakan banyak tenaga dan pada dasarnya sangat terbatas.





Dengan sinergi AI, platform Azure Quantum Elements, dan keahlian ilmiah yang mapan, Microsoft mengklaim bahwa teknologi modern dapat menyingkat inovasi ilmu kimia dan material secara lebih efisien. AI akan merevolusi setiap industri, membuka era baru penemuan ilmiah.





</description><content:encoded>




JAKARTA - Microsoft berkolaborasi dengan Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi dan dibantu artificial intelligence (AI) berhasil menemukan bahan alternatif pengganti litium-ion. Bahan alternatif ini diklaim bisa mengurangi ketergantungan dunia akan litium-ion dalam memproduksi baterai.


Baterai litium-ion mengandalkan litium dan logam tanah sebagai bahan bakunya. Meskipun bahan tersebut menawarkan sumber energi yang efisien dengan siklus hidup yang lebih lama, tapi tetap dapat menimbulkan masalah dan sulit didaur ulang.


Microsoft dan Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi memanfaatkan AI dan platform cloud Azure Quantum Elements demi mempercepat proses penelitian yang memakan waktu terhadap material yang tidak ditemukan di alam. Akhirnya mereka berhasil menemukan bahan baru tersebut.


Melansir Techspot, Sabtu (12/1/2024), dalam menghasilkan temuan, Microsoft melatih model AI menggunakan jutaan titik data dari simulasi, sehingga menghasilkan prediksi properti material 1.500 kali lebih cepat dibandingkan penghitungan teori fungsional kepadatan tradisional.


Proses seleksi dimulai dengan 32,6 juta kandidat material dan algoritma AI yang mengidentifikasi 500.000 material yang diprediksi stabil. Setelah menyaring properti fungsional, kelompok tersebut selanjutnya dipersempit menjadi 800 kandidat potensial.  Memanfaatkan simulasi &quot;yang dipercepat AI&quot; untuk mengeksplorasi sifat dinamis seperti difusivitas ionik, tim Microsoft Quantum mempersempit pilihan menjadi 150 material.








BACA JUGA:
Aplikasi Seeing AI Microsoft untuk Bantu Pengguna Tunanetra Kini Hadir di Android













Dengan sinergi AI, platform Azure Quantum Elements, dan keahlian ilmiah yang mapan, Microsoft mengklaim teknologi modern dapat menyingkat inovasi ilmu kimia dan material dalam 250 tahun ke depan menjadi 25 tahun mendatang. Pertimbangan praktis, termasuk kebaruan, mekanika, dan ketersediaan elemen, kemudian diperhitungkan untuk mengidentifikasi 18 kandidat teratas.


Memanfaatkan keahlian dan wawasan untuk parameter penyaringan tambahan, peneliti Microsoft menunjuk kandidat terakhir, yakni bahan elektrolit yang menggunakan litium sekitar 70 persen lebih sedikit dibandingkan baterai li-ion yang ada, menggantikan sebagian litium dengan natrium.







BACA JUGA:
Catut Microsoft, Penjabat Siber Kirim QR Palsu via Email















Bahan baru ini lantas disintesis Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi, dan pengujian tambahan direncanakan untuk memverifikasi stabilitas dan efisiensinya.


Chief Digital Officer di Laboratorium Nasional Pacific Northwest Departemen Energi, Brian Abrahamson, mengatakan pengembangan baterai baru merupakan tantangan global yang penting.








BACA JUGA:
Kolaborasi dengan Microsoft, Ponsel Samsung Bakal Bisa Difungsikan sebagai Webcam PC














Abrahamson menyatakan menyintesis dan menguji bahan pada skala manusia adalah proses yang memakan banyak tenaga dan pada dasarnya sangat terbatas.





Dengan sinergi AI, platform Azure Quantum Elements, dan keahlian ilmiah yang mapan, Microsoft mengklaim bahwa teknologi modern dapat menyingkat inovasi ilmu kimia dan material secara lebih efisien. AI akan merevolusi setiap industri, membuka era baru penemuan ilmiah.





</content:encoded></item></channel></rss>
