<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>109,61 Miliar Tagar Pro-Palestina Bergema di Intagram dan TikTok</title><description>Menurut Humanz, dalam kurun waktu satu bulan lalu, beredar 109,61 miliar unggahan dengan tagar pro-Palestina</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/20/16/2923882/109-61-miliar-tagar-pro-palestina-bergema-di-intagram-dan-tiktok</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/20/16/2923882/109-61-miliar-tagar-pro-palestina-bergema-di-intagram-dan-tiktok"/><item><title>109,61 Miliar Tagar Pro-Palestina Bergema di Intagram dan TikTok</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/20/16/2923882/109-61-miliar-tagar-pro-palestina-bergema-di-intagram-dan-tiktok</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/20/16/2923882/109-61-miliar-tagar-pro-palestina-bergema-di-intagram-dan-tiktok</guid><pubDate>Senin 20 November 2023 17:17 WIB</pubDate><dc:creator>Redaksi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/20/16/2923882/109-61-miliar-tagar-pro-palestina-bergema-di-intagram-dan-tiktok-ObQlbnb5px.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tagar Pro-Palestine menguasai jagat media sosial terutama instagram dan TikTok. </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/20/16/2923882/109-61-miliar-tagar-pro-palestina-bergema-di-intagram-dan-tiktok-ObQlbnb5px.jpg</image><title>Tagar Pro-Palestine menguasai jagat media sosial terutama instagram dan TikTok. </title></images><description>ISRAEL kalah telak dalam hal perang opini di media sosial. Sebuah analisis wacana online di media sosial, yang dilakukan perusahaan Humanz, mengungkapkan hanya 7,39 miliar unggahan dengan tagar pro-Israel beredar di Instagram dan TikTok bulan lalu.
Jumlah tersebut masih kalah jauh dengan tagar pro Palestina. Menurut Humanz, dalam  kurun waktu yang sama, beredar 109,61 miliar unggahan dengan tagar pro-Palestina dipublikasikan di kedua platform tersebut. Artinya, hampir 15 kali lipat lebih banyak dibandingkan Israel.
&quot;Sulit  tidak melihat bahwa ada uang di balik ini,&quot; kata pendiri dan CEO perusahaan, Liav Refael-Chen dikutip dari situs Calcalistech, Senin (20/11/2023). Guna mengidentifikasi segmentasi wacana di TikTok dan Instagram, platform di mana Humanz memfokuskan upayanya , perusahaan ini memetakan tagar yang paling umum digunakan dalam konteks konflik yang sedang berlangsung.
Mereka mengidentifikasi tagar pro-Israel yang berbeda seperti #prayforisrael, #hamaisisis, dan #bringthemback, dan di sisi lain, tagar pro-Palestina seperti #freepalestine, #israelicrimes, dan #gazaunderattack.

BACA JUGA:
5 Tokoh Pendiri Negara Israel, Ada yang Dijuluki Bapak Zionis

Sebagai bagian dari analisis, sekitar 117 miliar unggahan di TikTok dan Instagram dari bulan lalu diidentifikasi menggunakan salah satu dari tagar ini. Namun, distribusi unggahan yang jelas-jelas condong ke arah Israel; hanya 6,3% yang menggunakan tagar pro-Israel, dan 93,7% menggunakan tagar pro-Palestina.
&quot;Ketika kami memposting kampanye pro-Israel di platform kami, para influencer di luar Israel tidak terlibat dengan kampanye tersebut,&quot; kata Refael-Chen.&quot;Mereka ragu-ragu untuk terlihat bekerja sama dengan Israel, mungkin karena kekhawatiran akan keselamatan mereka atau mungkin karena mereka menganggap mendukung Israel sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan,&quot; lanjut analisis tersebut.
Humanz didirikan pada 2017 oleh Refael-Chen, Roi Naaman, Kobi Dalal, Eliran Moyal, dan Shmuel Goldfarb, semuanya adalah mantan programmer dari unit intelijen elit IDF, Unit 8200. Perusahaan ini telah mengembangkan kumpulan algoritme yang dapat mengkategorikan perilaku pengguna, bakat, mengidentifikasi pengikut mereka, dan menyarankan merek yang cocok untuk kolaborasi.

BACA JUGA:
Viral Tentara Israel Kabur Ketakutan saat Dengar Adzan dari Masjid di Palestina


Sejak awal perang di Gaza, seluruh platform telah dikonversi untuk tujuan advokasi, menghubungkan kampanye yang diprakarsai proyek-proyek yang dipimpin warga sipil, termasuk oleh Brothers in Arms, dan berbagai perusahaan teknologi Israel.
Menurut Refael-Chen, ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kesenjangan yang signifikan dalam advokasi online. Ditambahkan Refael-Chen, viralitas dan populisme adalah aspek penting dari aktivitas influencer di Instagram dan TikTok.
Sehingga, influencer berusaha memperluas basis pengikut mereka dan menghasilkan lebih banyak keterlibatan di sekitar unggahan mereka. &quot;Di dunia di mana umat Islam terdiri dari 25% dari populasi dan Yahudi hanya 0,2%, akan lebih mudah untuk mencapai viralitas di sisi Muslim,&quot; pungkasnya. (Salsabila Nur Azizah)</description><content:encoded>ISRAEL kalah telak dalam hal perang opini di media sosial. Sebuah analisis wacana online di media sosial, yang dilakukan perusahaan Humanz, mengungkapkan hanya 7,39 miliar unggahan dengan tagar pro-Israel beredar di Instagram dan TikTok bulan lalu.
Jumlah tersebut masih kalah jauh dengan tagar pro Palestina. Menurut Humanz, dalam  kurun waktu yang sama, beredar 109,61 miliar unggahan dengan tagar pro-Palestina dipublikasikan di kedua platform tersebut. Artinya, hampir 15 kali lipat lebih banyak dibandingkan Israel.
&quot;Sulit  tidak melihat bahwa ada uang di balik ini,&quot; kata pendiri dan CEO perusahaan, Liav Refael-Chen dikutip dari situs Calcalistech, Senin (20/11/2023). Guna mengidentifikasi segmentasi wacana di TikTok dan Instagram, platform di mana Humanz memfokuskan upayanya , perusahaan ini memetakan tagar yang paling umum digunakan dalam konteks konflik yang sedang berlangsung.
Mereka mengidentifikasi tagar pro-Israel yang berbeda seperti #prayforisrael, #hamaisisis, dan #bringthemback, dan di sisi lain, tagar pro-Palestina seperti #freepalestine, #israelicrimes, dan #gazaunderattack.

BACA JUGA:
5 Tokoh Pendiri Negara Israel, Ada yang Dijuluki Bapak Zionis

Sebagai bagian dari analisis, sekitar 117 miliar unggahan di TikTok dan Instagram dari bulan lalu diidentifikasi menggunakan salah satu dari tagar ini. Namun, distribusi unggahan yang jelas-jelas condong ke arah Israel; hanya 6,3% yang menggunakan tagar pro-Israel, dan 93,7% menggunakan tagar pro-Palestina.
&quot;Ketika kami memposting kampanye pro-Israel di platform kami, para influencer di luar Israel tidak terlibat dengan kampanye tersebut,&quot; kata Refael-Chen.&quot;Mereka ragu-ragu untuk terlihat bekerja sama dengan Israel, mungkin karena kekhawatiran akan keselamatan mereka atau mungkin karena mereka menganggap mendukung Israel sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan,&quot; lanjut analisis tersebut.
Humanz didirikan pada 2017 oleh Refael-Chen, Roi Naaman, Kobi Dalal, Eliran Moyal, dan Shmuel Goldfarb, semuanya adalah mantan programmer dari unit intelijen elit IDF, Unit 8200. Perusahaan ini telah mengembangkan kumpulan algoritme yang dapat mengkategorikan perilaku pengguna, bakat, mengidentifikasi pengikut mereka, dan menyarankan merek yang cocok untuk kolaborasi.

BACA JUGA:
Viral Tentara Israel Kabur Ketakutan saat Dengar Adzan dari Masjid di Palestina


Sejak awal perang di Gaza, seluruh platform telah dikonversi untuk tujuan advokasi, menghubungkan kampanye yang diprakarsai proyek-proyek yang dipimpin warga sipil, termasuk oleh Brothers in Arms, dan berbagai perusahaan teknologi Israel.
Menurut Refael-Chen, ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kesenjangan yang signifikan dalam advokasi online. Ditambahkan Refael-Chen, viralitas dan populisme adalah aspek penting dari aktivitas influencer di Instagram dan TikTok.
Sehingga, influencer berusaha memperluas basis pengikut mereka dan menghasilkan lebih banyak keterlibatan di sekitar unggahan mereka. &quot;Di dunia di mana umat Islam terdiri dari 25% dari populasi dan Yahudi hanya 0,2%, akan lebih mudah untuk mencapai viralitas di sisi Muslim,&quot; pungkasnya. (Salsabila Nur Azizah)</content:encoded></item></channel></rss>
