<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Adopsi BEV Bakal Memakan Waktu Lama, Kenapa?</title><description>Sama seperti produsen otomotif lainnya, Toyota kini sedang menghadapi tekanan untuk mengurangi jejak karbon pada kendaraanya</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/16/52/2921771/adopsi-bev-bakal-memakan-waktu-lama-kenapa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/16/52/2921771/adopsi-bev-bakal-memakan-waktu-lama-kenapa"/><item><title>Adopsi BEV Bakal Memakan Waktu Lama, Kenapa?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/16/52/2921771/adopsi-bev-bakal-memakan-waktu-lama-kenapa</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/16/52/2921771/adopsi-bev-bakal-memakan-waktu-lama-kenapa</guid><pubDate>Kamis 16 November 2023 19:11 WIB</pubDate><dc:creator>Redaksi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/16/52/2921771/adopsi-bev-bakal-memakan-waktu-lama-kenapa-sPd3oe4rRO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi kendaraan listrik. (Doc. freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/16/52/2921771/adopsi-bev-bakal-memakan-waktu-lama-kenapa-sPd3oe4rRO.jpg</image><title>Ilustrasi kendaraan listrik. (Doc. freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNi8xLzE3Mzc4NC81L3g4cG9oZDg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Sama seperti produsen otomotif lainnya, Toyota kini sedang menghadapi tekanan untuk mengurangi jejak karbon pada jajaran kendaraanya, dengan mematuhi regulasi emisi yang semakin ketat.
Namun, Presiden Toyota, Akio Toyoda, percaya bahwa penerimaan penuh terhadap kendaraan listrik masih memerlukan waktu yang cukup lama.
&quot;Saya percaya kita perlu realistis tentang kapan masyarakat akan benar-benar menerima kendaraan listrik baterai, dan kapan infrastruktur kita bisa mendukungnya secara luas,&quot; kata Akio, dikutip dari carmag, Kamis (16/11/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Chery Sukses Masuk 10 Besar Merek Mobil Terlaris di Tanah Air

&quot;Saya pikir Kendaraan listrik baterai akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi mainstream. Dan jujur saja, kendaraan listrik baterai bukan satu-satunya cara untuk mencapai tujuan netralitas karbon dunia,&quot; ucapnya lebih lanjut.
Dalam menghadapi keterbatasan penerimaan kendaraan listrik, Toyota mengeksplorasi alternatif lain. Pabrikan asal Jepang itu menggunakan pendekatan multi-lintasan, termasuk aktif mencari solusi lingkungan yang beragam.
Toyota bersama pabrikan lain, telah melihat hidrogen sebagai alternatif mobilitas yang lebih terjangkau daripada BEV.
Hal ini didorong oleh berbagai faktor, seperti ketersediaan listrik yang tidak stabil di beberapa wilayah, keterbatasan finansial pembeli, serta harga tinggi kendaraan listrik yang membuatnya tidak cocok untuk beberapa pasar global.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rolls-Royce Ghost Disulap jadi Mobil Pengantar Jenazah, Super Mewah!

Meskipun Toyota telah konsisten dalam penawaran kendaraan listrik sepenuhnya, perusahaan juga mengembangkan kendaraan bertenaga hidrogen.
Mereka diketahui juga telah memperkenalkan sedan Mirai bertenaga hidrogen serta menampilkan ekosistem pengisian bahan bakar hidrogen.Meskipun demikian, pendekatan ini memiliki tantangan, terutama terkait dengan infrastruktur pendukung kendaraan hidrogen. Toyota berusaha mengatasi masalah ini dengan menggandeng pemasok gas industri seperti Sasol dan Air Products dari Afrika Selatan.
Sayangnya, Mirai dinilai oleh kepala teknis Toyota Motors, Hiroki Nakajima, sebagai upaya yang belum berhasil dalam memimpin kendaraan bertenaga hidrogen sejauh ini.

BACA JUGA:
MG Gelontorkan Investasi Rp4 Triliun untuk Rakit Mobil Listrik di Cikarang

Kedepannya, Toyota akan evaluasi ulang pendekatannya terhadap mobilitas hidrogen. Selain itu, Toyota juga telah menguji teknologi hidrogen dalam balapan, menggunakan Toyota GR Corolla bertenaga hidrogen.
Hingga kini Toyota masih berusaha menentukan apakah teknologi hidrogen dapat menjadi solusi yang berhasil bagi perusahaan, atau apakah solusi terbaiknya dengan mengembangkan kendaraan hibrida sebagai jembatan antara masa kini dan masa depan.


Alvitho Devano</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNi8xLzE3Mzc4NC81L3g4cG9oZDg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Sama seperti produsen otomotif lainnya, Toyota kini sedang menghadapi tekanan untuk mengurangi jejak karbon pada jajaran kendaraanya, dengan mematuhi regulasi emisi yang semakin ketat.
Namun, Presiden Toyota, Akio Toyoda, percaya bahwa penerimaan penuh terhadap kendaraan listrik masih memerlukan waktu yang cukup lama.
&quot;Saya percaya kita perlu realistis tentang kapan masyarakat akan benar-benar menerima kendaraan listrik baterai, dan kapan infrastruktur kita bisa mendukungnya secara luas,&quot; kata Akio, dikutip dari carmag, Kamis (16/11/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Chery Sukses Masuk 10 Besar Merek Mobil Terlaris di Tanah Air

&quot;Saya pikir Kendaraan listrik baterai akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi mainstream. Dan jujur saja, kendaraan listrik baterai bukan satu-satunya cara untuk mencapai tujuan netralitas karbon dunia,&quot; ucapnya lebih lanjut.
Dalam menghadapi keterbatasan penerimaan kendaraan listrik, Toyota mengeksplorasi alternatif lain. Pabrikan asal Jepang itu menggunakan pendekatan multi-lintasan, termasuk aktif mencari solusi lingkungan yang beragam.
Toyota bersama pabrikan lain, telah melihat hidrogen sebagai alternatif mobilitas yang lebih terjangkau daripada BEV.
Hal ini didorong oleh berbagai faktor, seperti ketersediaan listrik yang tidak stabil di beberapa wilayah, keterbatasan finansial pembeli, serta harga tinggi kendaraan listrik yang membuatnya tidak cocok untuk beberapa pasar global.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Rolls-Royce Ghost Disulap jadi Mobil Pengantar Jenazah, Super Mewah!

Meskipun Toyota telah konsisten dalam penawaran kendaraan listrik sepenuhnya, perusahaan juga mengembangkan kendaraan bertenaga hidrogen.
Mereka diketahui juga telah memperkenalkan sedan Mirai bertenaga hidrogen serta menampilkan ekosistem pengisian bahan bakar hidrogen.Meskipun demikian, pendekatan ini memiliki tantangan, terutama terkait dengan infrastruktur pendukung kendaraan hidrogen. Toyota berusaha mengatasi masalah ini dengan menggandeng pemasok gas industri seperti Sasol dan Air Products dari Afrika Selatan.
Sayangnya, Mirai dinilai oleh kepala teknis Toyota Motors, Hiroki Nakajima, sebagai upaya yang belum berhasil dalam memimpin kendaraan bertenaga hidrogen sejauh ini.

BACA JUGA:
MG Gelontorkan Investasi Rp4 Triliun untuk Rakit Mobil Listrik di Cikarang

Kedepannya, Toyota akan evaluasi ulang pendekatannya terhadap mobilitas hidrogen. Selain itu, Toyota juga telah menguji teknologi hidrogen dalam balapan, menggunakan Toyota GR Corolla bertenaga hidrogen.
Hingga kini Toyota masih berusaha menentukan apakah teknologi hidrogen dapat menjadi solusi yang berhasil bagi perusahaan, atau apakah solusi terbaiknya dengan mengembangkan kendaraan hibrida sebagai jembatan antara masa kini dan masa depan.


Alvitho Devano</content:encoded></item></channel></rss>
