<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Dampak Negatif Penggunaan Gadget yang Tidak Tepat kepada Kesehatan Anak</title><description>&quot;&quot;Jika menggunakan gadget dengan posisi yang meyebabkan adanya tekukan pada leher, maka akan ada beban yang ditanggung.&quot;</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/01/56/2912204/ini-dampak-negatif-penggunaan-gadget-yang-tidak-tepat-kepada-kesehatan-anak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/01/56/2912204/ini-dampak-negatif-penggunaan-gadget-yang-tidak-tepat-kepada-kesehatan-anak"/><item><title>Ini Dampak Negatif Penggunaan Gadget yang Tidak Tepat kepada Kesehatan Anak</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/01/56/2912204/ini-dampak-negatif-penggunaan-gadget-yang-tidak-tepat-kepada-kesehatan-anak</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/11/01/56/2912204/ini-dampak-negatif-penggunaan-gadget-yang-tidak-tepat-kepada-kesehatan-anak</guid><pubDate>Rabu 01 November 2023 10:41 WIB</pubDate><dc:creator>Redaksi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/01/56/2912204/ini-dampak-negatif-penggunaan-gadget-yang-tidak-tepat-kepada-kesehatan-anak-vJ13oJKmhX.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Insiator GGSI, Ridha Dharmaja (Foto: Istimewa)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/01/56/2912204/ini-dampak-negatif-penggunaan-gadget-yang-tidak-tepat-kepada-kesehatan-anak-vJ13oJKmhX.jpeg</image><title>Insiator GGSI, Ridha Dharmaja (Foto: Istimewa)</title></images><description>JAMBI - Inisiator Gerakan Gadget Sehat Indonesia (GGSI), Profesor Dr dr Ridha Dharmajaya Sp BS (K) mengajak para guru mencetak generasi sehat, pintar dan bermoralitas yang baik. Salah satunya adalah membatasi penggunaan gadget.
Hal itu disampaikannya di hadapan 500 lebih insan pendidikan baik pelajar dan guru yang hadir dalam agenda road show hari pertama, yang berlangsung di Gedung Pemuda Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, pada Selasa (31/10/2023).&amp;nbsp;
&quot;Kami berharap dengan hadirnya kami di sini (Jambi) dan mensosialisasikan gadget sehat, bapak dan ibu guru dapat mengambil manfaatnya. Mengingat, bapak dan ibu guru adalah ujung tombak dalam mempersiapkan anak negeri ini menuju bonus demografi agar bisa berhasil melahirkan generasi yang berkualitas,&quot; ujar Prof Ridha.

BACA JUGA:
5 Aksesoris Gadget yang Wajib Dimiliki untuk Aktivitas Sehari-hari

Guru Besar Fakultas Kedokteran USU itu memperingatkan jika bonus demografi bisa berubah menjadi bencana jika disia-siakan karena prilaku penggunaan gadget yang tidak benar.
Prof Ridha pun menerangkan bahaya penggunaan gadget yang tidak tepat. Di mana ada dua faktor penyebab penggunaan gadget yang bisa mengakibatkan dampak negatif. Yakni, posisi dan durasi.
&quot;Jika menggunakan gadget dengan posisi yang meyebabkan adanya tekukan pada leher, maka akan ada beban yang ditanggung. Semakin dalam tekukan itu, maka akan semakin berat beban yang ditanggung leher,&quot; terang Prof Ridha.

BACA JUGA:
Meta Umumkan Paket Langganan Bebas Iklan untuk Instagram dan Facebook, Berapa Harganya?

Jika ini berlangsung singkat atau hanya beberapa menit lanjut Prof Ridha, hal itu tidak begitu berdampak.
&quot;Tapi jika tekukan itu terjadi lebih dari dua jam dan secara terus menerus, ini menjadi masalah. Maka akan terjadi gangguan yakni saraf kejepit pada bagian leher. Gejalanya yakni berat di pundak, leher pegal, tangan kesemutan, dan bangun tidur tidak segar,&quot; ujarnya.
Jika dulunya gejala ini sering dialami orang tua usia 60 tahun ke atas, tapi sekarang bilang Prof Ridha sering dialami remaja baik tingkat SMA, SMP bahkan anak SD.
&quot;Parahnya lagi, jika gejala awal itu diabaikan dan terus menggunakan gadget dengan posisi yang salah dan dalam durasi waktu yang lama maka yang terjadi adalah kematian saraf,&quot; ucapnya lagi.Kematian saraf ini ungkap Prof Ridha jauh lebih berbahaya dan berujung cacat dengan gejala yang dialami adalah kelumpuhan pada tangan dan kaki, buang air kecil loss atau tidak terasa dan sekualitas bagi kaum lelaki hilang.
&quot;Jika seperti ini maka tidak ada obat yang menyembuhkan dan tidak ada operasi yang bisa mengembalikan,&quot; sebutnya.
Sehingga yang terjadi, 5 hingga 10 tahun ke depan Indonesia akan melahirkan generasi yang cacat.

BACA JUGA:
Ini 5 Gadget yang Berguna di Cuaca Panas, Nomor 1 Cuma Rp50 Ribuan

Untuk itulah dirinya menganggap pentingnya gerakan gadget sehat hadir di Indonesia termasuk Batang Hari, Jambi, dalam upaya menyelamatkan generasi muda dari situasi bonus demografi
&quot;Sekali lagi saya ajak agar memanfaatkan bonus demografi agar Indonesia bisa masuk jajaran lima besar dunia,&quot; ucapnya.
Sementara itu salah satu peserta yang hadir mengaku mengapresiasi isi materi yang didapatnya dalam acara tersebut.
&quot;Kita merasa bersyukur mendapatkan informasi tambahan, karena selama ini kita tidak menyadari hal-hal yang menggunakan kesehatan, khususnya anak-anak yang mengalami gangguan akibat penggunaan gadget,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>JAMBI - Inisiator Gerakan Gadget Sehat Indonesia (GGSI), Profesor Dr dr Ridha Dharmajaya Sp BS (K) mengajak para guru mencetak generasi sehat, pintar dan bermoralitas yang baik. Salah satunya adalah membatasi penggunaan gadget.
Hal itu disampaikannya di hadapan 500 lebih insan pendidikan baik pelajar dan guru yang hadir dalam agenda road show hari pertama, yang berlangsung di Gedung Pemuda Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, pada Selasa (31/10/2023).&amp;nbsp;
&quot;Kami berharap dengan hadirnya kami di sini (Jambi) dan mensosialisasikan gadget sehat, bapak dan ibu guru dapat mengambil manfaatnya. Mengingat, bapak dan ibu guru adalah ujung tombak dalam mempersiapkan anak negeri ini menuju bonus demografi agar bisa berhasil melahirkan generasi yang berkualitas,&quot; ujar Prof Ridha.

BACA JUGA:
5 Aksesoris Gadget yang Wajib Dimiliki untuk Aktivitas Sehari-hari

Guru Besar Fakultas Kedokteran USU itu memperingatkan jika bonus demografi bisa berubah menjadi bencana jika disia-siakan karena prilaku penggunaan gadget yang tidak benar.
Prof Ridha pun menerangkan bahaya penggunaan gadget yang tidak tepat. Di mana ada dua faktor penyebab penggunaan gadget yang bisa mengakibatkan dampak negatif. Yakni, posisi dan durasi.
&quot;Jika menggunakan gadget dengan posisi yang meyebabkan adanya tekukan pada leher, maka akan ada beban yang ditanggung. Semakin dalam tekukan itu, maka akan semakin berat beban yang ditanggung leher,&quot; terang Prof Ridha.

BACA JUGA:
Meta Umumkan Paket Langganan Bebas Iklan untuk Instagram dan Facebook, Berapa Harganya?

Jika ini berlangsung singkat atau hanya beberapa menit lanjut Prof Ridha, hal itu tidak begitu berdampak.
&quot;Tapi jika tekukan itu terjadi lebih dari dua jam dan secara terus menerus, ini menjadi masalah. Maka akan terjadi gangguan yakni saraf kejepit pada bagian leher. Gejalanya yakni berat di pundak, leher pegal, tangan kesemutan, dan bangun tidur tidak segar,&quot; ujarnya.
Jika dulunya gejala ini sering dialami orang tua usia 60 tahun ke atas, tapi sekarang bilang Prof Ridha sering dialami remaja baik tingkat SMA, SMP bahkan anak SD.
&quot;Parahnya lagi, jika gejala awal itu diabaikan dan terus menggunakan gadget dengan posisi yang salah dan dalam durasi waktu yang lama maka yang terjadi adalah kematian saraf,&quot; ucapnya lagi.Kematian saraf ini ungkap Prof Ridha jauh lebih berbahaya dan berujung cacat dengan gejala yang dialami adalah kelumpuhan pada tangan dan kaki, buang air kecil loss atau tidak terasa dan sekualitas bagi kaum lelaki hilang.
&quot;Jika seperti ini maka tidak ada obat yang menyembuhkan dan tidak ada operasi yang bisa mengembalikan,&quot; sebutnya.
Sehingga yang terjadi, 5 hingga 10 tahun ke depan Indonesia akan melahirkan generasi yang cacat.

BACA JUGA:
Ini 5 Gadget yang Berguna di Cuaca Panas, Nomor 1 Cuma Rp50 Ribuan

Untuk itulah dirinya menganggap pentingnya gerakan gadget sehat hadir di Indonesia termasuk Batang Hari, Jambi, dalam upaya menyelamatkan generasi muda dari situasi bonus demografi
&quot;Sekali lagi saya ajak agar memanfaatkan bonus demografi agar Indonesia bisa masuk jajaran lima besar dunia,&quot; ucapnya.
Sementara itu salah satu peserta yang hadir mengaku mengapresiasi isi materi yang didapatnya dalam acara tersebut.
&quot;Kita merasa bersyukur mendapatkan informasi tambahan, karena selama ini kita tidak menyadari hal-hal yang menggunakan kesehatan, khususnya anak-anak yang mengalami gangguan akibat penggunaan gadget,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
