<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Dampak Artificial Intelligence untuk Kesehatan Mental</title><description></description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/07/56/2896874/ini-dampak-artificial-intelligence-untuk-kesehatan-mental</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/07/56/2896874/ini-dampak-artificial-intelligence-untuk-kesehatan-mental"/><item><title>Ini Dampak Artificial Intelligence untuk Kesehatan Mental</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/07/56/2896874/ini-dampak-artificial-intelligence-untuk-kesehatan-mental</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/07/56/2896874/ini-dampak-artificial-intelligence-untuk-kesehatan-mental</guid><pubDate>Sabtu 07 Oktober 2023 18:01 WIB</pubDate><dc:creator>Chindy Aprilia Pratiwi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/07/56/2896874/ini-dampak-artificial-intelligence-untuk-kesehatan-mental-lPnd1danQ1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dampak AI untuk kesehatan mental: (Doc. istock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/07/56/2896874/ini-dampak-artificial-intelligence-untuk-kesehatan-mental-lPnd1danQ1.jpg</image><title>Dampak AI untuk kesehatan mental: (Doc. istock)</title></images><description>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wNy8yLzE3MTgwNy81L3g4b24xbmg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sebuah studi yang dilakukan oleh para mahasiswa Health Science and Technology (HST) belum lama ini, menunjukkan sesuatu yang menakjubkan.
Studi ini menilai Chatbot Artificial Intelligence (AI) dianggap dapat mempengaruhi interaksi manusia dan dapat memupuk kesehatan mental dengan sikap empati, netral atau bahkan manipulatif, dengan mempengaruhi persepsi.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bukan Hanya Tekanan Mental, Ganjar Sebut Mahasiswa Harus Siap Hadapi Tantangan Dunia

Dilansir dari laman Harvard MIT Health Science and Technology (HST), Sabtu (7/10/2023), bahkan penggunanya AI dapat membentuk cara mereka berkomunikasi meskipun hanya berbicara dengan chatbot.&amp;nbsp;
Selain itu para peneliti juga menjelaskan, para pengguna AI tidak hanya dapat mengubah kesehatan mental seseorang, tetapi juga mengubah perilaku mereka.
Ini karena AI dapat merespons pengguna ketika orang tersebut mengubah perilakunya, maka AI juga akan berubah.
Dalam studi ini, peneliti berupaya menentukan seberapa besar empati dan efektivitas yang dilihat seseorang terhadap AI berdasarkan persepsi subjektif mereka, dan seberapa besar berdasarkan teknologi itu sendiri.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Tips Psikolog Untuk Memulihkan Mental Korban Bullying&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;

Para peneliti itu merancang sebuah penelitian dimana manusia berinteraksi dengan rekannya melalui percakapan kesehatan mental AI selama 30 menit, &quot;dan hasilnya pada kelompok pertama diberitahu bahwa agen AI tersebut tidak memiliki motif apapun, akan tetapi pada kelompok kedua menunjukkan AI memiliki niat yang baik dan kepedulian terhadap kesejahteraan penggunanya, sedangkan pada kelompok ketiga AI memiliki niat jahat dan akan mencoba menipu pengguna,&quot; tulis keterangan hasil studi tersbut.
Hasilnya paska survei, menunjukkan hanya 44 Persen diantara mereka yang mempunyai perspektif negatif, sementara 88 Persen dari mereka menilai positif, dan 79 Persen dari mereka juga berada di kelompok netral.
Untuk itu, di masa depan para peneliti masih ingin melihat bagaimana interaksi yang dilakukan pengguna AI terhadap lawan bicaranya.

BACA JUGA:


Kasus Perundungan Meningkat, KPAI: Mengganggu Fisik dan Mental Anak&amp;nbsp;
Sehingga dengan apa yang telah mereka pelajari, para peneliti dapat meningkatkan aplikasi AI sebagai perawatan kesehatan mental yang baik, dan bermanfaat.
Selain itu, diperlukannya studi jangka panjang untuk melihat bagaimana model pengguna AI untuk terapi kesehatan mental seiring dengan berjalannnya waktu.</description><content:encoded>&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wNy8yLzE3MTgwNy81L3g4b24xbmg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sebuah studi yang dilakukan oleh para mahasiswa Health Science and Technology (HST) belum lama ini, menunjukkan sesuatu yang menakjubkan.
Studi ini menilai Chatbot Artificial Intelligence (AI) dianggap dapat mempengaruhi interaksi manusia dan dapat memupuk kesehatan mental dengan sikap empati, netral atau bahkan manipulatif, dengan mempengaruhi persepsi.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Bukan Hanya Tekanan Mental, Ganjar Sebut Mahasiswa Harus Siap Hadapi Tantangan Dunia

Dilansir dari laman Harvard MIT Health Science and Technology (HST), Sabtu (7/10/2023), bahkan penggunanya AI dapat membentuk cara mereka berkomunikasi meskipun hanya berbicara dengan chatbot.&amp;nbsp;
Selain itu para peneliti juga menjelaskan, para pengguna AI tidak hanya dapat mengubah kesehatan mental seseorang, tetapi juga mengubah perilaku mereka.
Ini karena AI dapat merespons pengguna ketika orang tersebut mengubah perilakunya, maka AI juga akan berubah.
Dalam studi ini, peneliti berupaya menentukan seberapa besar empati dan efektivitas yang dilihat seseorang terhadap AI berdasarkan persepsi subjektif mereka, dan seberapa besar berdasarkan teknologi itu sendiri.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Tips Psikolog Untuk Memulihkan Mental Korban Bullying&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;

Para peneliti itu merancang sebuah penelitian dimana manusia berinteraksi dengan rekannya melalui percakapan kesehatan mental AI selama 30 menit, &quot;dan hasilnya pada kelompok pertama diberitahu bahwa agen AI tersebut tidak memiliki motif apapun, akan tetapi pada kelompok kedua menunjukkan AI memiliki niat yang baik dan kepedulian terhadap kesejahteraan penggunanya, sedangkan pada kelompok ketiga AI memiliki niat jahat dan akan mencoba menipu pengguna,&quot; tulis keterangan hasil studi tersbut.
Hasilnya paska survei, menunjukkan hanya 44 Persen diantara mereka yang mempunyai perspektif negatif, sementara 88 Persen dari mereka menilai positif, dan 79 Persen dari mereka juga berada di kelompok netral.
Untuk itu, di masa depan para peneliti masih ingin melihat bagaimana interaksi yang dilakukan pengguna AI terhadap lawan bicaranya.

BACA JUGA:


Kasus Perundungan Meningkat, KPAI: Mengganggu Fisik dan Mental Anak&amp;nbsp;
Sehingga dengan apa yang telah mereka pelajari, para peneliti dapat meningkatkan aplikasi AI sebagai perawatan kesehatan mental yang baik, dan bermanfaat.
Selain itu, diperlukannya studi jangka panjang untuk melihat bagaimana model pengguna AI untuk terapi kesehatan mental seiring dengan berjalannnya waktu.</content:encoded></item></channel></rss>
