<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peneliti Ungkap Bulu Dinosaurus Punya Mirip dengan Burung Zaman Sekarang</title><description>Penelitian yang dilakukan dengan sinar-X mengungkapkan adanya kemiripan antara bulu dinosaurus dengan bulu burung saat in</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/01/56/2892615/peneliti-ungkap-bulu-dinosaurus-punya-mirip-dengan-burung-zaman-sekarang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/01/56/2892615/peneliti-ungkap-bulu-dinosaurus-punya-mirip-dengan-burung-zaman-sekarang"/><item><title>Peneliti Ungkap Bulu Dinosaurus Punya Mirip dengan Burung Zaman Sekarang</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/01/56/2892615/peneliti-ungkap-bulu-dinosaurus-punya-mirip-dengan-burung-zaman-sekarang</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/10/01/56/2892615/peneliti-ungkap-bulu-dinosaurus-punya-mirip-dengan-burung-zaman-sekarang</guid><pubDate>Minggu 01 Oktober 2023 12:12 WIB</pubDate><dc:creator>Redaksi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/01/56/2892615/peneliti-ungkap-bulu-dinosaurus-punya-mirip-dengan-burung-zaman-sekarang-1J9tlDq59Q.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Bulu dinosaurus yang ditangkap oleh Sinar X (Foto: Tiffany Slater)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/01/56/2892615/peneliti-ungkap-bulu-dinosaurus-punya-mirip-dengan-burung-zaman-sekarang-1J9tlDq59Q.jpeg</image><title>Bulu dinosaurus yang ditangkap oleh Sinar X (Foto: Tiffany Slater)</title></images><description>PENELITIAN yang dilakukan dengan sinar-X mengungkapkan adanya kemiripan antara bulu dinosaurus dengan bulu burung saat ini. Temuan tersebut juga menemukan adanya komposisi protein yang serupa di antara dua jenis hewan tersebut dengan mengacu pada evolusi bulu selama ratusan juta tahun.
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan 21 September di jurnal Nature Ecology and Evolution, para ahli paleontologi meneliti tiga bulu hewan purba. Di antaranya adalah Sinornithosaurus dari China, yang merupakan dinosaurus non-burung berumur 125 juta tahun.

BACA JUGA:
Dinosaurus Ini Ngumpet dari Ahli Paleontologi Eropa, Hingga Kini Masih Terus Dicari

Kemudian Confuciusornis, burung purba berumur 125 juta tahun yang juga berasal dari China. Dan spesies belum teridentifikasi yang hidup di daerah Formasi Sungai Hijau di Wyoming pada 50 juta tahun lalu.
Bulu-bulu hewan yang telah punah tersebut diperiksa menggunakan sinar X dan sinar inframerah. Peneliti menemukan bukti adanya protein beta kornea (CBP), yang sebelumnya dikenal sebagai beta-keratin, yaitu protein yang diperlukan untuk memperkuat bulu untuk terbang. Tim peneliti multinasional ini kemudian menemukan bahwa bulu burung modern, termasuk bulu burung zebra finch (Taeniopygia), memiliki komposisi kimia yang sama.
Dikutip dari Live Science, Minggu (1/10/2023), Tiffany Slater, seorang peneliti pascadoktoral paleobiologi di University College Cork, Irlandia mengatakan bahwa protein beta tersebut juga ada pada bulu burung modern.

BACA JUGA:
Pondasi Kayu Bangunan Manusia Purba Ditemukan, Berusia Hampir 500 Ribu Tahun

Menurut penelitian sebelumnya, bulu hewan purba sebagian besar terdiri dari protein alfa yang lebih lemah daripada CBP dan memiliki komposisi protein yang sama sekali berbeda. Menurut sebuah pernyataan, hasil penelitian baru ini mengungkapkan bahwa CBP juga berubah menjadi protein alfa selama proses fosilisasi.
&quot;Bulu-bulu dinosaurus yang kami analisis menunjukkan bahwa sebagian besar terdiri dari protein beta,&quot; kata Slater.&quot;Jadi, laporan awal bahwa bulu-bulu purba sebagian besar terdiri dari protein alfa kemungkinan besar merupakan artefak fosil,&quot; tambahnya.

BACA JUGA:
Kerangka Dinosaurus Ini akan Dilelang, Diprediksi Tembus Rp20 Miliar!

Slater juga mengatakan bahwa, pengetahuan baru ini tidak hanya menunjukkan bahwa protein dapat bertahan dalam catatan fosil hingga 125 juta tahun, tetapi juga memberikan wawasan baru ke dalam evolusi bulu prasejarah dengan mendorong skala waktu lebih jauh dari apa yang telah peneliti duga.
Dia juga mengklaim bahwa kimiawi bulu modern jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya. Dalam penelitian yang telah dilakukan tersebut, tim membantu untuk menulis ulang cerita dengan menunjukkan bahwa komponen dasar yang diperlukan sebagai tenaga untuk terbang sudah ada setidaknya 125 juta tahun yang lalu. (Taja Aurora Bianca)</description><content:encoded>PENELITIAN yang dilakukan dengan sinar-X mengungkapkan adanya kemiripan antara bulu dinosaurus dengan bulu burung saat ini. Temuan tersebut juga menemukan adanya komposisi protein yang serupa di antara dua jenis hewan tersebut dengan mengacu pada evolusi bulu selama ratusan juta tahun.
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan 21 September di jurnal Nature Ecology and Evolution, para ahli paleontologi meneliti tiga bulu hewan purba. Di antaranya adalah Sinornithosaurus dari China, yang merupakan dinosaurus non-burung berumur 125 juta tahun.

BACA JUGA:
Dinosaurus Ini Ngumpet dari Ahli Paleontologi Eropa, Hingga Kini Masih Terus Dicari

Kemudian Confuciusornis, burung purba berumur 125 juta tahun yang juga berasal dari China. Dan spesies belum teridentifikasi yang hidup di daerah Formasi Sungai Hijau di Wyoming pada 50 juta tahun lalu.
Bulu-bulu hewan yang telah punah tersebut diperiksa menggunakan sinar X dan sinar inframerah. Peneliti menemukan bukti adanya protein beta kornea (CBP), yang sebelumnya dikenal sebagai beta-keratin, yaitu protein yang diperlukan untuk memperkuat bulu untuk terbang. Tim peneliti multinasional ini kemudian menemukan bahwa bulu burung modern, termasuk bulu burung zebra finch (Taeniopygia), memiliki komposisi kimia yang sama.
Dikutip dari Live Science, Minggu (1/10/2023), Tiffany Slater, seorang peneliti pascadoktoral paleobiologi di University College Cork, Irlandia mengatakan bahwa protein beta tersebut juga ada pada bulu burung modern.

BACA JUGA:
Pondasi Kayu Bangunan Manusia Purba Ditemukan, Berusia Hampir 500 Ribu Tahun

Menurut penelitian sebelumnya, bulu hewan purba sebagian besar terdiri dari protein alfa yang lebih lemah daripada CBP dan memiliki komposisi protein yang sama sekali berbeda. Menurut sebuah pernyataan, hasil penelitian baru ini mengungkapkan bahwa CBP juga berubah menjadi protein alfa selama proses fosilisasi.
&quot;Bulu-bulu dinosaurus yang kami analisis menunjukkan bahwa sebagian besar terdiri dari protein beta,&quot; kata Slater.&quot;Jadi, laporan awal bahwa bulu-bulu purba sebagian besar terdiri dari protein alfa kemungkinan besar merupakan artefak fosil,&quot; tambahnya.

BACA JUGA:
Kerangka Dinosaurus Ini akan Dilelang, Diprediksi Tembus Rp20 Miliar!

Slater juga mengatakan bahwa, pengetahuan baru ini tidak hanya menunjukkan bahwa protein dapat bertahan dalam catatan fosil hingga 125 juta tahun, tetapi juga memberikan wawasan baru ke dalam evolusi bulu prasejarah dengan mendorong skala waktu lebih jauh dari apa yang telah peneliti duga.
Dia juga mengklaim bahwa kimiawi bulu modern jauh lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya. Dalam penelitian yang telah dilakukan tersebut, tim membantu untuk menulis ulang cerita dengan menunjukkan bahwa komponen dasar yang diperlukan sebagai tenaga untuk terbang sudah ada setidaknya 125 juta tahun yang lalu. (Taja Aurora Bianca)</content:encoded></item></channel></rss>
