<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penjualan Motor Listrik Seret, Standarisasi Baterai Menghambat?</title><description>Penjualan motor listrik belum mengalami peningkatan signifikan, terlebih telah diberlakukan subsidi Rp7 juta.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/09/15/53/2883692/penjualan-motor-listrik-seret-standarisasi-baterai-menghambat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/09/15/53/2883692/penjualan-motor-listrik-seret-standarisasi-baterai-menghambat"/><item><title>Penjualan Motor Listrik Seret, Standarisasi Baterai Menghambat?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/09/15/53/2883692/penjualan-motor-listrik-seret-standarisasi-baterai-menghambat</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/09/15/53/2883692/penjualan-motor-listrik-seret-standarisasi-baterai-menghambat</guid><pubDate>Jum'at 15 September 2023 17:11 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Fadli Ramadan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/15/53/2883692/penjualan-motor-listrik-seret-standarisasi-baterai-menghambat-6gQ2DqOdJL.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi motor listrik. (Doc. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/15/53/2883692/penjualan-motor-listrik-seret-standarisasi-baterai-menghambat-6gQ2DqOdJL.jpeg</image><title>Ilustrasi motor listrik. (Doc. Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMi8xLzE3MDUyOC81L3g4bzBzYmM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Penjualan motor listrik belum mengalami peningkatan signifikan, terlebih telah diberlakukan subsidi Rp7 juta.
Dan salah satu tantangan yang dihadapi, dan dinlai menghambat adalah jenis baterai yang digunakan setiap produsen berbeda.

BACA JUGA:
Rekomendasi Motor Listrik Subsidi Rp10 Jutaan, Jarak Tempuh Ada yang Capai 130 Km

Standarisasi baterai merupakan salah satu cara untuk memberikan kemudahan dalam penggunaan motor listrik. Apabila jenis baterai seragam, maka sistem tukar baterai akan menjadi lebih mudah yang bakal mempersingkat waktu pengisian baterai.
Namun, saat ini masih ada kendala dalam upaya penyeragaman baterai motor listrik di Indonesia. Pasalnya, masing-masing produsen menganggap produk buatan mereka menjadi yang terbaik, sehingga tidak ingin bergabung dengan produsen lainnya.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Wilson Teoh. Padahal, menurutnya, dengan standarisasi baterai akan membantu industri otomotif motor listrik akan berkembang lebih cepat.

BACA JUGA:
Soal Standarisasi Baterai Kendaraan Listrik, Begini Tantangannya

&amp;ldquo;Terkait standarisasi baterai, Aismoli berperan penting untuk menjembatani. Karena bicara terkait dengan standarisasi baterai untuk roda dua pasti berhubungan dengan battery swap terlebih dahulu,&amp;rdquo; kata Wilson kepada wartawan di Jakarta, belum lama ini.Wilson mengatakan saat ini sudah ada tiga pemain yang aktif dalam hal battery swap, yakni OICA, Swap, dan SGB. Namun, Wilson menegaskan bahwa standarisasi baterai motor listrik memang sangat sulit, dan belum ada yang berhasil melakukannya.
Ini menimbulkan keraguan tersendiri bagi para produsen apakah Indonesia dapat melakukan hal tersebut. Terlebih, peredaran sepeda motor listrik di Indonesia belum begitu masif.

BACA JUGA:
Ini Pelat dan Jenis Mobil Dinas TNI AD

&amp;ldquo;Standarisasi baterai ini memang masih banyak kendala. Belum ada pemain global yang berhasil melakukan standarisasi baterai. Dunia pun juga belum (melakukan standarisasi baterai),&amp;rdquo; ujar Wilson.
Berdasarkan hasil diskusi terbaru, Wilson mengungkapkan bahwa standarisasi baterai dikeluhkan produsen akan merusak inovasi. Pasalnya, mereka harus menyesuaikan baterai yang sudah ada sehingga menghambat pengembangan.
&amp;ldquo;Kendala kedua dianggap standarisasi baterai ini merusak inovasi, jadinya kita merasa dibatasi dengan ketentuan-ketentuan yang sudah dilakukan. Misalnya colokannya harus demikian, dimensinya harus demikian, dan sebagainya,&amp;rdquo; ucapnya.
Oleh sebab itu, Wilson merasa pemerintah harus bekerja keras untuk meyakinkan produsen mengenai standarisasi baterai. Pasalnya, di sisi lain hal ini dapat membantu meningkatkan perkembangan di industri motor listrik.

BACA JUGA:
Toyota Resmikan GR Garage Pertama di Indonesia, Bidik Motorsport Enthusiast

&amp;ldquo;kita bisa mengadopsi multi standar. Jadi standarnya itu bisa bermacam-macam, tidak satu. Saat ini Badan Standardisasi Nasional (BSN) sudah menentukan 11 macam standar baterai. Jadi APM bisa memilih minimal satu standar saat masuk ke Indonesia,&amp;rdquo; ungkapnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMi8xLzE3MDUyOC81L3g4bzBzYmM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Penjualan motor listrik belum mengalami peningkatan signifikan, terlebih telah diberlakukan subsidi Rp7 juta.
Dan salah satu tantangan yang dihadapi, dan dinlai menghambat adalah jenis baterai yang digunakan setiap produsen berbeda.

BACA JUGA:
Rekomendasi Motor Listrik Subsidi Rp10 Jutaan, Jarak Tempuh Ada yang Capai 130 Km

Standarisasi baterai merupakan salah satu cara untuk memberikan kemudahan dalam penggunaan motor listrik. Apabila jenis baterai seragam, maka sistem tukar baterai akan menjadi lebih mudah yang bakal mempersingkat waktu pengisian baterai.
Namun, saat ini masih ada kendala dalam upaya penyeragaman baterai motor listrik di Indonesia. Pasalnya, masing-masing produsen menganggap produk buatan mereka menjadi yang terbaik, sehingga tidak ingin bergabung dengan produsen lainnya.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Wilson Teoh. Padahal, menurutnya, dengan standarisasi baterai akan membantu industri otomotif motor listrik akan berkembang lebih cepat.

BACA JUGA:
Soal Standarisasi Baterai Kendaraan Listrik, Begini Tantangannya

&amp;ldquo;Terkait standarisasi baterai, Aismoli berperan penting untuk menjembatani. Karena bicara terkait dengan standarisasi baterai untuk roda dua pasti berhubungan dengan battery swap terlebih dahulu,&amp;rdquo; kata Wilson kepada wartawan di Jakarta, belum lama ini.Wilson mengatakan saat ini sudah ada tiga pemain yang aktif dalam hal battery swap, yakni OICA, Swap, dan SGB. Namun, Wilson menegaskan bahwa standarisasi baterai motor listrik memang sangat sulit, dan belum ada yang berhasil melakukannya.
Ini menimbulkan keraguan tersendiri bagi para produsen apakah Indonesia dapat melakukan hal tersebut. Terlebih, peredaran sepeda motor listrik di Indonesia belum begitu masif.

BACA JUGA:
Ini Pelat dan Jenis Mobil Dinas TNI AD

&amp;ldquo;Standarisasi baterai ini memang masih banyak kendala. Belum ada pemain global yang berhasil melakukan standarisasi baterai. Dunia pun juga belum (melakukan standarisasi baterai),&amp;rdquo; ujar Wilson.
Berdasarkan hasil diskusi terbaru, Wilson mengungkapkan bahwa standarisasi baterai dikeluhkan produsen akan merusak inovasi. Pasalnya, mereka harus menyesuaikan baterai yang sudah ada sehingga menghambat pengembangan.
&amp;ldquo;Kendala kedua dianggap standarisasi baterai ini merusak inovasi, jadinya kita merasa dibatasi dengan ketentuan-ketentuan yang sudah dilakukan. Misalnya colokannya harus demikian, dimensinya harus demikian, dan sebagainya,&amp;rdquo; ucapnya.
Oleh sebab itu, Wilson merasa pemerintah harus bekerja keras untuk meyakinkan produsen mengenai standarisasi baterai. Pasalnya, di sisi lain hal ini dapat membantu meningkatkan perkembangan di industri motor listrik.

BACA JUGA:
Toyota Resmikan GR Garage Pertama di Indonesia, Bidik Motorsport Enthusiast

&amp;ldquo;kita bisa mengadopsi multi standar. Jadi standarnya itu bisa bermacam-macam, tidak satu. Saat ini Badan Standardisasi Nasional (BSN) sudah menentukan 11 macam standar baterai. Jadi APM bisa memilih minimal satu standar saat masuk ke Indonesia,&amp;rdquo; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
