<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Studi Mengatakan Setengah Populasi Dunia Alami Gangguan Mental di Usia 75 Tahun   </title><description>Sebuah penelitian menembukan bahwa setengah populasi dunia mengalami gangguan mental pada usia 75 tahun.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/08/03/56/2856954/studi-mengatakan-setengah-populasi-dunia-alami-gangguan-mental-di-usia-75-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/08/03/56/2856954/studi-mengatakan-setengah-populasi-dunia-alami-gangguan-mental-di-usia-75-tahun"/><item><title>Studi Mengatakan Setengah Populasi Dunia Alami Gangguan Mental di Usia 75 Tahun   </title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/08/03/56/2856954/studi-mengatakan-setengah-populasi-dunia-alami-gangguan-mental-di-usia-75-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/08/03/56/2856954/studi-mengatakan-setengah-populasi-dunia-alami-gangguan-mental-di-usia-75-tahun</guid><pubDate>Kamis 03 Agustus 2023 21:16 WIB</pubDate><dc:creator>Saliki Dwi Saputra </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/03/56/2856954/studi-mengatakan-setengah-populasi-dunia-alami-gangguan-mental-di-usia-75-tahun-Y8sxZ2x28P.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi depresi (Foto: Unsplash)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/03/56/2856954/studi-mengatakan-setengah-populasi-dunia-alami-gangguan-mental-di-usia-75-tahun-Y8sxZ2x28P.jpg</image><title>Ilustrasi depresi (Foto: Unsplash)</title></images><description>SEBUAH penelitian dari The Lancet menembukan bahwa setengah populasi dunia mengalami gangguan mental pada usia 75 tahun.&amp;nbsp;
Penelitian yang dilakukan dengan University of Queensland (UQ) dan Harvard Medical School itu menemukan bahwa depresi dan kecemasan adalah dua gangguan paling umum yang mempengaruhi 150.000 orang dewasa di 29 negara pada medio 2001 hingga 2022.

BACA JUGA:
Peneliti Uji Coba Tanam Chip AI di Otak Orang Lumpuh, Hasilnya Menggembirakan&amp;nbsp;

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengungkapkan bahwa ada hampir satu miliar orang yang pernah hidup dengan gangguan mental, dan statistik tersebut semakin memburuk sejak pandemi COVID-19 di mana ada 25 persen peningkatan kasus depresi dan kecemasan selama tahun pertama pandemi pada 2019.
Dari penelitian tersebut para wanita umumnya mengalami tiga gangguan mental yang paling umum termasuk depresi, fobia, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), sedangkan tiga gangguan paling umum pada pria adalah penyalahgunaan alkohol, depresi, dan semacam fobia spesifik.

BACA JUGA:
Penelitian Terbaru Sebut Madu dari Semut Ampuh Membunuh Bakteri dan Jamur

Bagi remaja, studi terbaru menyebutkan bahwa usia 15 adalah usia puncak dimulainya gangguan mental. Hal-hal seperti kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan zat menjadi masalah paling banyak di kalangan anak muda.Ironisnya, dari remaja yang mengalami gangguan jiwa setengahnya akan terkena pada usia 19 tahun.Melihat hal ini profesor John McGrath dari University of Queensland menyarankan pentingnya mengatasi kesehatan mental sejak remaja. Pasalnya tidak ada yang mengetahui kapan masa-masa kritis kehidupan seseorang.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Mahasiswa Unej Meneliti Aerogel Rami untuk Atasi Tumpahan Minyak di Laut&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Hal ini memberi perhatian khusus pada kebutuhan untuk memahami mengapa gangguan mental terus berkembang, sehingga layanan kesehatan mental bisa dikhususkan kepada generasi muda,&amp;rdquo; kata profesor John McGrath dikutip dari Mashable, Kamis (3/8/2023).
&quot;Layanan kesehatan harus dapat mendeteksi dan mengobati gangguan mental yang umum dengan segera, dan dioptimalkan agar sesuai dengan pasien di bagian kritis kehidupan mereka.&quot; tutupnya.</description><content:encoded>SEBUAH penelitian dari The Lancet menembukan bahwa setengah populasi dunia mengalami gangguan mental pada usia 75 tahun.&amp;nbsp;
Penelitian yang dilakukan dengan University of Queensland (UQ) dan Harvard Medical School itu menemukan bahwa depresi dan kecemasan adalah dua gangguan paling umum yang mempengaruhi 150.000 orang dewasa di 29 negara pada medio 2001 hingga 2022.

BACA JUGA:
Peneliti Uji Coba Tanam Chip AI di Otak Orang Lumpuh, Hasilnya Menggembirakan&amp;nbsp;

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengungkapkan bahwa ada hampir satu miliar orang yang pernah hidup dengan gangguan mental, dan statistik tersebut semakin memburuk sejak pandemi COVID-19 di mana ada 25 persen peningkatan kasus depresi dan kecemasan selama tahun pertama pandemi pada 2019.
Dari penelitian tersebut para wanita umumnya mengalami tiga gangguan mental yang paling umum termasuk depresi, fobia, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD), sedangkan tiga gangguan paling umum pada pria adalah penyalahgunaan alkohol, depresi, dan semacam fobia spesifik.

BACA JUGA:
Penelitian Terbaru Sebut Madu dari Semut Ampuh Membunuh Bakteri dan Jamur

Bagi remaja, studi terbaru menyebutkan bahwa usia 15 adalah usia puncak dimulainya gangguan mental. Hal-hal seperti kecemasan, depresi, dan penyalahgunaan zat menjadi masalah paling banyak di kalangan anak muda.Ironisnya, dari remaja yang mengalami gangguan jiwa setengahnya akan terkena pada usia 19 tahun.Melihat hal ini profesor John McGrath dari University of Queensland menyarankan pentingnya mengatasi kesehatan mental sejak remaja. Pasalnya tidak ada yang mengetahui kapan masa-masa kritis kehidupan seseorang.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Mahasiswa Unej Meneliti Aerogel Rami untuk Atasi Tumpahan Minyak di Laut&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&amp;ldquo;Hal ini memberi perhatian khusus pada kebutuhan untuk memahami mengapa gangguan mental terus berkembang, sehingga layanan kesehatan mental bisa dikhususkan kepada generasi muda,&amp;rdquo; kata profesor John McGrath dikutip dari Mashable, Kamis (3/8/2023).
&quot;Layanan kesehatan harus dapat mendeteksi dan mengobati gangguan mental yang umum dengan segera, dan dioptimalkan agar sesuai dengan pasien di bagian kritis kehidupan mereka.&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
