<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>20 Persen Ponsel yang Beredar di 2023 Belum Adopsi Fast Charging</title><description>Angka rata-rata itu naik 10W dalam periode yang sama di Q1 2022.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/24/57/2851292/20-persen-ponsel-yang-beredar-di-2023-belum-adopsi-fast-charging</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/24/57/2851292/20-persen-ponsel-yang-beredar-di-2023-belum-adopsi-fast-charging"/><item><title>20 Persen Ponsel yang Beredar di 2023 Belum Adopsi Fast Charging</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/24/57/2851292/20-persen-ponsel-yang-beredar-di-2023-belum-adopsi-fast-charging</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/24/57/2851292/20-persen-ponsel-yang-beredar-di-2023-belum-adopsi-fast-charging</guid><pubDate>Senin 24 Juli 2023 15:16 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/24/57/2851292/20-persen-ponsel-yang-beredar-di-2023-belum-adopsi-fast-charging-DKBIGxOxCV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Fast Charging. (Foto: Trusted Reviews)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/24/57/2851292/20-persen-ponsel-yang-beredar-di-2023-belum-adopsi-fast-charging-DKBIGxOxCV.jpg</image><title>Fast Charging. (Foto: Trusted Reviews)</title></images><description>SMARTPHONE merupakan gadget  yang kerap dibawa kemana saja, dan kerap menyimpan banyak informasi. Memang, ponsel ini sudah seperti asisten pribadi yang tidak bisa dilepaskan.

Bahkan, ketinggalan handphone akan membuat seseorang lebih panik ketimbang ketinggalan dompet. Tidak heran, jika saat ini ponsel didisain dengan baterai yang besar sehingga bisa lebih tahan lama. Tapi seiring dengan besarnya baterai, maka diperlukan tenaga yang besar juga untuk mengisi daya.

Perusahaan riset teknologi Counterpoint melaporkan 80 persen smartphone yang beredar di Q1 2023 rupanya telah mengadopsi dan menggunakan teknologi &quot;fast charging&quot; atau pengisian daya cepat dengan kecepatan pengisian rata-rata sebesar 34 W.

Dalam laporan Gizmochina, angka rata-rata itu naik 10W dalam periode yang sama di Q1 2022. Data itu juga menguatkan perkembangan teknologi pengisian daya cepat meningkat dengan stabil.

BACA JUGA:
Setelah Diamond, Youtuber Butuh Berapa Subscriber untuk Dapat Play Button Lagi?


Terlihat dari data Q1 2018 yang mengungkap ponsel pintar memiliki rata-rata pengisian daya cepat yaitu 18W, lalu di 2022 meningkat menjadi 30W dan kini di 2023 pada periode yang sama ponsel-ponsel telah mengadopsi pengisian daya cepat dengan rata-rata 34W.

Peningkatan kecepatan pengisian daya ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya permintaan konsumen untuk masa pakai baterai yang lebih lama. Hal itu juga disebabkan karena adopsi jaringan 5G yang semakin meningkat dan juga terdapat pembaruan lainnya dari sisi teknologi kamera, layar, dan prosesor.

Dalam hal kompetisi di pasar, para produsen ponsel pintar asal China terbilang memimpin perkembangan teknologi pengisian daya cepat. Banyak ponsel pintar dari Negeri Tirai Bambu itu yang menawarkan pengisian daya cepat dengan rata-rata lebih dari 50W.

BACA JUGA:
Elon Musk Ganti Logo Twitter dari Burung Biru Jadi Huruf X


Merek-merek ini memanfaatkan pengisian cepat sebagai proposisi penjualan yang unik untuk menarik pelanggan. Misalnya, Realme dan Xiaomi sama-sama menawarkan perangkat yang memiliki daya pengisian daya di atas 200W.

Baru-baru ini bahkan Xiaomi dan OPPO unjuk kebolehan bagaimana ponsel pintar yang dilengkapi kemampuan pengisian cepat 300W hanya butuh hitungan menit untuk mencapai daya 100 persen.

Sebaliknya, perusahaan pemimpin pasar global seperti Apple dan Samsung telah mengadopsi pendekatan yang lebih hati-hati untuk adopsi teknologi pengisian cepat dengan memprioritaskan keamanan baterai dan performa secara keseluruhan.Misalnya, pembaruan iOS 13 Apple memperkenalkan fitur pengisian daya  baterai yang dioptimalkan yang memperlambat laju penuaan baterai dengan  mengurangi waktu yang dihabiskan iPhone untuk terisi penuh.

Selanjutnya dari Android, Google juga meluncurkan fitur Baterai  Adaptif agar dapat mempelajari rutinitas pengisian harian pengguna  sehingga dapat memperlambat pengurasan baterai.

BACA JUGA:
Cara Mudah Memblokir Situs Yandex di Handphone 


Samsung bahkan dilaporkan sedang mengerjakan teknologi baterai baru  yang terinspirasi oleh teknologi kendaraan listrik. Teknologi baterai  baru diharapkan dapat meningkatkan masa pakai baterai seri Galaxy S24  mendatang.

Laporan tersebut juga menyoroti perubahan perilaku pengguna, yang  menyatakan bahwa hampir setengah dari semua pengguna ponsel cerdas di  dunia menghabiskan setidaknya lima jam setiap hari di perangkat mereka.  Tujuannya untuk beragam aktivitas seperti interaksi sosial, menjelajah  web, streaming konten, dan bermain game.

BACA JUGA:
Senjata Kimia Pemusnah Massal Terakhir di Bumi Akhirnya Dimusnahkan, Ternyata Dimiliki Amerika


Temuan ini mengonfirmasi bahwa adanya tren peningkatan teknologi  pengisian cepat, didorong juga oleh permintaan konsumen yang meningkat  akan masa pakai baterai yang lebih lama untuk menunjang kenyamanan.

Karena industri smartphone tampaknya mempertahankan fokus pada tren  ini, konsumen dapat menantikan lebih banyak inovasi dan solusi dari  teknologi pengisian daya yang lebih cepat di masa mendatang.
</description><content:encoded>SMARTPHONE merupakan gadget  yang kerap dibawa kemana saja, dan kerap menyimpan banyak informasi. Memang, ponsel ini sudah seperti asisten pribadi yang tidak bisa dilepaskan.

Bahkan, ketinggalan handphone akan membuat seseorang lebih panik ketimbang ketinggalan dompet. Tidak heran, jika saat ini ponsel didisain dengan baterai yang besar sehingga bisa lebih tahan lama. Tapi seiring dengan besarnya baterai, maka diperlukan tenaga yang besar juga untuk mengisi daya.

Perusahaan riset teknologi Counterpoint melaporkan 80 persen smartphone yang beredar di Q1 2023 rupanya telah mengadopsi dan menggunakan teknologi &quot;fast charging&quot; atau pengisian daya cepat dengan kecepatan pengisian rata-rata sebesar 34 W.

Dalam laporan Gizmochina, angka rata-rata itu naik 10W dalam periode yang sama di Q1 2022. Data itu juga menguatkan perkembangan teknologi pengisian daya cepat meningkat dengan stabil.

BACA JUGA:
Setelah Diamond, Youtuber Butuh Berapa Subscriber untuk Dapat Play Button Lagi?


Terlihat dari data Q1 2018 yang mengungkap ponsel pintar memiliki rata-rata pengisian daya cepat yaitu 18W, lalu di 2022 meningkat menjadi 30W dan kini di 2023 pada periode yang sama ponsel-ponsel telah mengadopsi pengisian daya cepat dengan rata-rata 34W.

Peningkatan kecepatan pengisian daya ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya permintaan konsumen untuk masa pakai baterai yang lebih lama. Hal itu juga disebabkan karena adopsi jaringan 5G yang semakin meningkat dan juga terdapat pembaruan lainnya dari sisi teknologi kamera, layar, dan prosesor.

Dalam hal kompetisi di pasar, para produsen ponsel pintar asal China terbilang memimpin perkembangan teknologi pengisian daya cepat. Banyak ponsel pintar dari Negeri Tirai Bambu itu yang menawarkan pengisian daya cepat dengan rata-rata lebih dari 50W.

BACA JUGA:
Elon Musk Ganti Logo Twitter dari Burung Biru Jadi Huruf X


Merek-merek ini memanfaatkan pengisian cepat sebagai proposisi penjualan yang unik untuk menarik pelanggan. Misalnya, Realme dan Xiaomi sama-sama menawarkan perangkat yang memiliki daya pengisian daya di atas 200W.

Baru-baru ini bahkan Xiaomi dan OPPO unjuk kebolehan bagaimana ponsel pintar yang dilengkapi kemampuan pengisian cepat 300W hanya butuh hitungan menit untuk mencapai daya 100 persen.

Sebaliknya, perusahaan pemimpin pasar global seperti Apple dan Samsung telah mengadopsi pendekatan yang lebih hati-hati untuk adopsi teknologi pengisian cepat dengan memprioritaskan keamanan baterai dan performa secara keseluruhan.Misalnya, pembaruan iOS 13 Apple memperkenalkan fitur pengisian daya  baterai yang dioptimalkan yang memperlambat laju penuaan baterai dengan  mengurangi waktu yang dihabiskan iPhone untuk terisi penuh.

Selanjutnya dari Android, Google juga meluncurkan fitur Baterai  Adaptif agar dapat mempelajari rutinitas pengisian harian pengguna  sehingga dapat memperlambat pengurasan baterai.

BACA JUGA:
Cara Mudah Memblokir Situs Yandex di Handphone 


Samsung bahkan dilaporkan sedang mengerjakan teknologi baterai baru  yang terinspirasi oleh teknologi kendaraan listrik. Teknologi baterai  baru diharapkan dapat meningkatkan masa pakai baterai seri Galaxy S24  mendatang.

Laporan tersebut juga menyoroti perubahan perilaku pengguna, yang  menyatakan bahwa hampir setengah dari semua pengguna ponsel cerdas di  dunia menghabiskan setidaknya lima jam setiap hari di perangkat mereka.  Tujuannya untuk beragam aktivitas seperti interaksi sosial, menjelajah  web, streaming konten, dan bermain game.

BACA JUGA:
Senjata Kimia Pemusnah Massal Terakhir di Bumi Akhirnya Dimusnahkan, Ternyata Dimiliki Amerika


Temuan ini mengonfirmasi bahwa adanya tren peningkatan teknologi  pengisian cepat, didorong juga oleh permintaan konsumen yang meningkat  akan masa pakai baterai yang lebih lama untuk menunjang kenyamanan.

Karena industri smartphone tampaknya mempertahankan fokus pada tren  ini, konsumen dapat menantikan lebih banyak inovasi dan solusi dari  teknologi pengisian daya yang lebih cepat di masa mendatang.
</content:encoded></item></channel></rss>
