<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tahukah Kamu Apa yang Terjadi ketika Kita Menabrak Awan Tapi Tak Naik Pesawat?</title><description>Apa yang akan terjadi jika manusia menabrak awan secara langsung?</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/56/2845516/tahukah-kamu-apa-yang-terjadi-ketika-kita-menabrak-awan-tapi-tak-naik-pesawat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/56/2845516/tahukah-kamu-apa-yang-terjadi-ketika-kita-menabrak-awan-tapi-tak-naik-pesawat"/><item><title>Tahukah Kamu Apa yang Terjadi ketika Kita Menabrak Awan Tapi Tak Naik Pesawat?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/56/2845516/tahukah-kamu-apa-yang-terjadi-ketika-kita-menabrak-awan-tapi-tak-naik-pesawat</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/56/2845516/tahukah-kamu-apa-yang-terjadi-ketika-kita-menabrak-awan-tapi-tak-naik-pesawat</guid><pubDate>Kamis 13 Juli 2023 06:07 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/13/56/2845516/tahukah-kamu-apa-yang-terjadi-ketika-kita-menabrak-awan-tapi-tak-naik-pesawat-ruwGpVIjKd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Apa Jadinya kalau Kita Nabrak Awan. (Foto: Microdec)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/13/56/2845516/tahukah-kamu-apa-yang-terjadi-ketika-kita-menabrak-awan-tapi-tak-naik-pesawat-ruwGpVIjKd.jpg</image><title>Apa Jadinya kalau Kita Nabrak Awan. (Foto: Microdec)</title></images><description>KETIKA pesawat menabrak awan memang akan terjadi turbulensi yang cukup besar, sehingga membuat pesawat bergetar. Tapi, apa yang akan terjadi jika manusia menabrak awan secara langsung?

Menurut catatan, pengalaman manusia yang menabrak awan akan bervariasi tergantung pada jenis awan, alat pelindung, dan kondisi cuaca. Yang jelas efek paling ringan adalah basah kuyup hingga paling parah tidak sadarkan diri.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Tak Bisa Menengok ke Atas?


Ini karena kemungkinan besar manusia hanya terjun dari ketinggian 4.000 meter sehingga hanya akan menabrak awan stratus dan cumulus dari ketinggian 1.980 meter, yang mana kedua jenis awan sebagian besar terdiri dari molekul air.

Ryan Katchmar, seorang instruktur terjun payung yang berbasis di Utah dengan lebih dari 10.000 lompatan, menekankan bahwa meski rasa penasaran begitu besar, manusia sejatinya tidak boleh menabrak awan secara sengaja.

BACA JUGA:
Deretan Kode Rahasia Meteran Listrik PLN yang Kamu Wajib Tahu, Cuma untuk Versi Token Ya


Pasalnya selain basah, menabrak awan juga akan mengganggu visibilitas saat terjun sehingga tidak ada cara untuk melacak potensi bahaya, sebagaimana dihimpun dari Live Science.

&quot;Rasanya seperti kamu pergi ke ruangan putih lalu keluar. Tapi jika itu awan gelap, tebal atau padat, itu akan terasa seperti benturan kecepatan, dan kamu akan keluar dengan kondisi basah kuyup,&quot; jelas Katchtmar.Katchmar juga mengungkap bahwa ia pernah mengalami kondisi dingin  yang tak terduga, seperti hujan es yang keluar dari kacamatanya. Untuk  alasan ini, ia sering kali menutupi dirinya saat menabrak awan untuk  menghindari cedera.

Kasus terjun payung yang paling ekstrem dalam cuaca buruk melibatkan  badai petir. Di dalam awan badai, udara hangat dapat naik dengan  kecepatan lebih dari 100 mph (160 km/jam), tetapi pada ketinggian  tinggi, partikel tersebut merasakan tarikan gravitasi dan turun sebagai  hujan atau hujan es.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Jalannya Mundur?


Hanya dua orang yang diketahui selamat dari perjalanan seperti itu  melalui awan yang membawa badai petir. Pada tahun 1959, Letnan Kolonel  AS William Henry Rankin dalam cuaca buruk menghabiskan 40 menit  berputar-putar di dalam awan badai.

Beberapa dekade kemudian, pada tahun 2007, paraglider Jerman Ewa  Wi&amp;#347;nierska secara tidak sengaja terhisap petir saat berlatih untuk  kejuaraan dunia paralayang. Dia kehilangan kesadaran karena kekurangan  oksigen dan mendarat beberapa jam kemudian sekitar 37 mil (60 km)  jauhnya.
</description><content:encoded>KETIKA pesawat menabrak awan memang akan terjadi turbulensi yang cukup besar, sehingga membuat pesawat bergetar. Tapi, apa yang akan terjadi jika manusia menabrak awan secara langsung?

Menurut catatan, pengalaman manusia yang menabrak awan akan bervariasi tergantung pada jenis awan, alat pelindung, dan kondisi cuaca. Yang jelas efek paling ringan adalah basah kuyup hingga paling parah tidak sadarkan diri.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Tak Bisa Menengok ke Atas?


Ini karena kemungkinan besar manusia hanya terjun dari ketinggian 4.000 meter sehingga hanya akan menabrak awan stratus dan cumulus dari ketinggian 1.980 meter, yang mana kedua jenis awan sebagian besar terdiri dari molekul air.

Ryan Katchmar, seorang instruktur terjun payung yang berbasis di Utah dengan lebih dari 10.000 lompatan, menekankan bahwa meski rasa penasaran begitu besar, manusia sejatinya tidak boleh menabrak awan secara sengaja.

BACA JUGA:
Deretan Kode Rahasia Meteran Listrik PLN yang Kamu Wajib Tahu, Cuma untuk Versi Token Ya


Pasalnya selain basah, menabrak awan juga akan mengganggu visibilitas saat terjun sehingga tidak ada cara untuk melacak potensi bahaya, sebagaimana dihimpun dari Live Science.

&quot;Rasanya seperti kamu pergi ke ruangan putih lalu keluar. Tapi jika itu awan gelap, tebal atau padat, itu akan terasa seperti benturan kecepatan, dan kamu akan keluar dengan kondisi basah kuyup,&quot; jelas Katchtmar.Katchmar juga mengungkap bahwa ia pernah mengalami kondisi dingin  yang tak terduga, seperti hujan es yang keluar dari kacamatanya. Untuk  alasan ini, ia sering kali menutupi dirinya saat menabrak awan untuk  menghindari cedera.

Kasus terjun payung yang paling ekstrem dalam cuaca buruk melibatkan  badai petir. Di dalam awan badai, udara hangat dapat naik dengan  kecepatan lebih dari 100 mph (160 km/jam), tetapi pada ketinggian  tinggi, partikel tersebut merasakan tarikan gravitasi dan turun sebagai  hujan atau hujan es.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Jalannya Mundur?


Hanya dua orang yang diketahui selamat dari perjalanan seperti itu  melalui awan yang membawa badai petir. Pada tahun 1959, Letnan Kolonel  AS William Henry Rankin dalam cuaca buruk menghabiskan 40 menit  berputar-putar di dalam awan badai.

Beberapa dekade kemudian, pada tahun 2007, paraglider Jerman Ewa  Wi&amp;#347;nierska secara tidak sengaja terhisap petir saat berlatih untuk  kejuaraan dunia paralayang. Dia kehilangan kesadaran karena kekurangan  oksigen dan mendarat beberapa jam kemudian sekitar 37 mil (60 km)  jauhnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
