<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Badan Siber Ingatkan Adanya Upaya Brain Wash lewat Medsos Jelang Pilpres</title><description>Dengan begitu ada informasi pembanding sebelum akhirnya menyimpulkan atau mengambil sikap.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/54/2845835/badan-siber-ingatkan-adanya-upaya-brain-wash-lewat-medsos-jelang-pilpres</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/54/2845835/badan-siber-ingatkan-adanya-upaya-brain-wash-lewat-medsos-jelang-pilpres"/><item><title>Badan Siber Ingatkan Adanya Upaya Brain Wash lewat Medsos Jelang Pilpres</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/54/2845835/badan-siber-ingatkan-adanya-upaya-brain-wash-lewat-medsos-jelang-pilpres</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/13/54/2845835/badan-siber-ingatkan-adanya-upaya-brain-wash-lewat-medsos-jelang-pilpres</guid><pubDate>Kamis 13 Juli 2023 16:17 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/13/54/2845835/badan-siber-ingatkan-adanya-upaya-brain-wash-lewat-medsos-jelang-pilpres-zhi6AYEkrK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jubir BSSN. (Foto: MNC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/13/54/2845835/badan-siber-ingatkan-adanya-upaya-brain-wash-lewat-medsos-jelang-pilpres-zhi6AYEkrK.jpg</image><title>Jubir BSSN. (Foto: MNC)</title></images><description>BADAN Siber dan Sandi Negara (BSSN) mewanti-wanti bahaya brain wash di ruang digital menjelang Pilpres 2024 mendatang. Menurut BSSN, masifnya ancamam brain wash di media sosial bisa mengganggu kelancaran Pilpres.

Juru Bicara BSSN, Aryandi Putra mengatakan bahwa brain wash di media sosial bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat. Menurutnya jika ini terus dibiarkan, maka akan muncul polarisasi yang cukup dalam di tengah-tengah masyarakat.

BACA JUGA:
Deretan Kode Rahasia Meteran Listrik PLN yang Kamu Wajib Tahu, Cuma untuk Versi Token Ya


&quot;Informasi bakal banjir di media sosial. Ketika orang terpapar satu informasi saja tanpa melakukan perbandingan dengan informasi yang lain, maka dampak sosialnya adalah konflik horizontal di masyarakat,&quot; ungkap Aryandi.

Ia berharap masyarakat bisa mencari informasi dari segala sisi dan tak sungkan untuk berdiskusi paling tidak dengan keluarga. Dengan begitu ada informasi pembanding sebelum akhirnya menyimpulkan atau mengambil sikap.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Tak Bisa Menengok ke Atas?


&quot;Kita sebagai pengguna media sosial harus memiliki kebijaksanaan, rasa penasaran untuk mendapat informasi yang lebih akurat dan informasi pembanding. Jadi jangan hanya mrnelan mentah-mentah informasi yang kita terima,&quot; ujar Aryandi.

&quot;Kita cek informasi yang didapatkan, saring dulu sebelum sharing. Nah itu salah satu upaya agar kita mendapat informasi yang utuh dari media sosial agar tidak terjebak di dalam informasi yang sifatnya satu sisi,&quot; lanjutnya.Menanggapi konten media sosial yang cenderung menampilkan informasi  yang disukai para pengguna (filter bubble), Aryandi mengatakan bahwa  semua tergantung kepada pengguna. Menurutnya pengguna adalah raja dari  media sosial itu sendiri.

Ia menyebut pengguna berhak mendapat informasi apapun dan bisa  leluasa menentukan arah konten apapun sesuai dengan yang diinginkan.  Jadi tidak ada alasan pengguna tidak bisa merubah ketertarikan atau  mencari konten yang berbeda.

BACA JUGA:
Dapat Durian Runtuh, Pria Ini Temukan 700 Koin Langka Zaman Perang Saudara


&quot;Kalau bicara filter bubble itu kan sistem yang dibangun oleh media  sosial untuk memudahkan mencari konten sesuai dengan ketertarikan. Tapi  kita masih bisa merubah arah konten berbeda untuk melakukan  perbandingan,&quot; tambah Aryandi.

&quot;Semoga kesadaran literasi masyarakat di ruang digital terus  meningkat agar polarisasi biaa turun, tidak seperti yang terjadi di  tahun 2019 lalu,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>BADAN Siber dan Sandi Negara (BSSN) mewanti-wanti bahaya brain wash di ruang digital menjelang Pilpres 2024 mendatang. Menurut BSSN, masifnya ancamam brain wash di media sosial bisa mengganggu kelancaran Pilpres.

Juru Bicara BSSN, Aryandi Putra mengatakan bahwa brain wash di media sosial bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat. Menurutnya jika ini terus dibiarkan, maka akan muncul polarisasi yang cukup dalam di tengah-tengah masyarakat.

BACA JUGA:
Deretan Kode Rahasia Meteran Listrik PLN yang Kamu Wajib Tahu, Cuma untuk Versi Token Ya


&quot;Informasi bakal banjir di media sosial. Ketika orang terpapar satu informasi saja tanpa melakukan perbandingan dengan informasi yang lain, maka dampak sosialnya adalah konflik horizontal di masyarakat,&quot; ungkap Aryandi.

Ia berharap masyarakat bisa mencari informasi dari segala sisi dan tak sungkan untuk berdiskusi paling tidak dengan keluarga. Dengan begitu ada informasi pembanding sebelum akhirnya menyimpulkan atau mengambil sikap.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Tak Bisa Menengok ke Atas?


&quot;Kita sebagai pengguna media sosial harus memiliki kebijaksanaan, rasa penasaran untuk mendapat informasi yang lebih akurat dan informasi pembanding. Jadi jangan hanya mrnelan mentah-mentah informasi yang kita terima,&quot; ujar Aryandi.

&quot;Kita cek informasi yang didapatkan, saring dulu sebelum sharing. Nah itu salah satu upaya agar kita mendapat informasi yang utuh dari media sosial agar tidak terjebak di dalam informasi yang sifatnya satu sisi,&quot; lanjutnya.Menanggapi konten media sosial yang cenderung menampilkan informasi  yang disukai para pengguna (filter bubble), Aryandi mengatakan bahwa  semua tergantung kepada pengguna. Menurutnya pengguna adalah raja dari  media sosial itu sendiri.

Ia menyebut pengguna berhak mendapat informasi apapun dan bisa  leluasa menentukan arah konten apapun sesuai dengan yang diinginkan.  Jadi tidak ada alasan pengguna tidak bisa merubah ketertarikan atau  mencari konten yang berbeda.

BACA JUGA:
Dapat Durian Runtuh, Pria Ini Temukan 700 Koin Langka Zaman Perang Saudara


&quot;Kalau bicara filter bubble itu kan sistem yang dibangun oleh media  sosial untuk memudahkan mencari konten sesuai dengan ketertarikan. Tapi  kita masih bisa merubah arah konten berbeda untuk melakukan  perbandingan,&quot; tambah Aryandi.

&quot;Semoga kesadaran literasi masyarakat di ruang digital terus  meningkat agar polarisasi biaa turun, tidak seperti yang terjadi di  tahun 2019 lalu,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
