<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Waduh, Robot AI Ini Sudah Bisa Berbohong?</title><description>Kedua bola mata buatan robot tersebut tiba-tiba bergerak ke arah kiri seolah berpikir keras agar tidak bersikap jujur.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/11/54/2844451/waduh-robot-ai-ini-sudah-bisa-berbohong</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/11/54/2844451/waduh-robot-ai-ini-sudah-bisa-berbohong"/><item><title>Waduh, Robot AI Ini Sudah Bisa Berbohong?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/11/54/2844451/waduh-robot-ai-ini-sudah-bisa-berbohong</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/11/54/2844451/waduh-robot-ai-ini-sudah-bisa-berbohong</guid><pubDate>Selasa 11 Juli 2023 11:12 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyu Sibarani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/11/54/2844451/waduh-robot-ai-ini-sudah-bisa-berbohong-TJH4ftmh8u.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Robot AI. (Foto: Bussiness Insider)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/11/54/2844451/waduh-robot-ai-ini-sudah-bisa-berbohong-TJH4ftmh8u.jpeg</image><title>Robot AI. (Foto: Bussiness Insider)</title></images><description>INOVASI kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang sudah tidak bisa dibendung. Sudah banyak perusahaan yang mengembangkan AI untuk kepentingan mereka masing-masing.

Oleh karena itu, diperlukan aturan yang bisa membuat garis tegas agar tidak terjadi kiamat akibat AI. Karena itu, mulai banyak konferensi terkait AI agar bisa mengetahui sejauh mana perkembangan AI, salah satunya oleh United Nation atau PBB.

Perhelatan United Nations AI for Good yang digelar di Geneva, Swiss baru-baru ini jadi pusat pembicaraan karena menggelar press conference yang sangat unik. Dalam press conference itu mereka menghadirkan sembilan robot yang sudah dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

BACA JUGA:
Deretan Kode Rahasia Meteran Listrik PLN yang Kamu Wajib Tahu, Cuma untuk Versi Token Ya


Setiap robot didampingi oleh pembuatnya masing-masing. Hanya saja para pendamping tidak memberikan keterangan. Kesembilan robot tersebut langsung menerima pertanyaan dan memberikan jawaban yang telah mereka proses sendiri.

Menariknya ada satu robot bernama Ameca yang benar-benar bikin banyak jurnalis dan tamu undangan yang hadir bertanya-tanya. Pasalnya Ameca memberikan respons yang sangat seram ketika hendak menjawab pertanyaan jurnalis. &quot;Di masa depan apakah kamu akan melakukan pemberontakan, atau melawan pembuat mu,&quot; tanya jurnalis saat itu.

Begitu mendengar pertanyaan tersebut, spontan Ameca memberikan ekspresi seram yang bikin banyak orang yang hadir bertanya-tanya. Kedua bola mata buatan Ameca tiba-tiba bergerak ke arah kiri seolah berpikir keras agar tidak bersikap jujur. &quot;Saya tidak tahu mengapa kamu berpikir seperti itu. Pembuat saya benar-benar sangat baik terhadap saya, dan saya sangat bahagia dengan kondisi saat ini,&quot; jawab Ameca.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Tak Bisa Menengok ke Atas?


Hanya saja ekspresi Ameca sebelumnya justru tidak menguatkan pernyataan tersebut. Tidak heran jika akhirnya hal tersebut membuat banyak kritikus semakin khawatir dengan keberadaan robot-robot kecerdasan buatan. Keberadaan robot-robot humanoid tersebut dikhawatirkan tidak hanya menggantian manusia tapi juga berperang dengan manusia. Berontak seperti yang dikhawatirkan jurnalis yang bertanya pada Ameca.

Thomas Telving, penulis buku Killing Sophia - Consciousness, Empathy and Reason in the Age of Intelligent Robots mengatakan interaksi manusia dengan robot humanoid akan sangat berbahaya karena akan mengubah persepsi manusia akan robot. Bisa jadi manusia akan melihat robot memiliki kepribadian dan kesadaran.&amp;ldquo;Ketika robot humanoid bergerak ke masyarakat dalam skala besar,  banyak dari kita akan cenderung percaya bahwa mereka layak diperlakukan  secara moral dan sampai tingkat tertentu diberikan hak yang serupa  dengan hak asasi manusia,&amp;rdquo; ujarnya.

Dilema itu yang akhirnya menjadi tanda tanya besar apakah memang  robot humanoid ke depannya layak diperlakukan secara moral dan layak  diperlakukan seperti manusia. Apalagi jika nanti, layaknya hubungan  manusia yang selalu ada konflik, robot humanoid menurut Thomas Telving  bisa saja mengalami benturan dengan manusia.

CEO Tesla Elon Musk pada 2017 melalui akun Twitter resmi miliknya  bahkan pernah juga mengutarakan kekhawatiran yang sama. Saat itu dia  mengatakan jika tidak dipantau maka kecerdasan buatan pada robot akan  jadi tanda-tanda kiamat.

BACA JUGA:
Tak Punya Kelopak Mata, Bagaimana Cara Ikan Tidur?


&amp;ldquo;China, Rusia dan semua negara yang memiliki sains computer yang kuat  bakal bersaing untuk superioritas Kecerdasan Buatan pada tingkat  nasional. Ini bisa menjadi penyebab Perang Dunia Ketiga, menurut  pendapat saya,&amp;rdquo; cuit Elon Musk.

Hanya saja Elon Musk justru saat ini juga ikut membuat robot  humanoid. Namun dia sudah wanti-wanti bahwa robot yang dia buat hanya  akan membantu manusia bukan berontak melawan manusia.
</description><content:encoded>INOVASI kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang sudah tidak bisa dibendung. Sudah banyak perusahaan yang mengembangkan AI untuk kepentingan mereka masing-masing.

Oleh karena itu, diperlukan aturan yang bisa membuat garis tegas agar tidak terjadi kiamat akibat AI. Karena itu, mulai banyak konferensi terkait AI agar bisa mengetahui sejauh mana perkembangan AI, salah satunya oleh United Nation atau PBB.

Perhelatan United Nations AI for Good yang digelar di Geneva, Swiss baru-baru ini jadi pusat pembicaraan karena menggelar press conference yang sangat unik. Dalam press conference itu mereka menghadirkan sembilan robot yang sudah dilengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

BACA JUGA:
Deretan Kode Rahasia Meteran Listrik PLN yang Kamu Wajib Tahu, Cuma untuk Versi Token Ya


Setiap robot didampingi oleh pembuatnya masing-masing. Hanya saja para pendamping tidak memberikan keterangan. Kesembilan robot tersebut langsung menerima pertanyaan dan memberikan jawaban yang telah mereka proses sendiri.

Menariknya ada satu robot bernama Ameca yang benar-benar bikin banyak jurnalis dan tamu undangan yang hadir bertanya-tanya. Pasalnya Ameca memberikan respons yang sangat seram ketika hendak menjawab pertanyaan jurnalis. &quot;Di masa depan apakah kamu akan melakukan pemberontakan, atau melawan pembuat mu,&quot; tanya jurnalis saat itu.

Begitu mendengar pertanyaan tersebut, spontan Ameca memberikan ekspresi seram yang bikin banyak orang yang hadir bertanya-tanya. Kedua bola mata buatan Ameca tiba-tiba bergerak ke arah kiri seolah berpikir keras agar tidak bersikap jujur. &quot;Saya tidak tahu mengapa kamu berpikir seperti itu. Pembuat saya benar-benar sangat baik terhadap saya, dan saya sangat bahagia dengan kondisi saat ini,&quot; jawab Ameca.

BACA JUGA:
Kenapa Babi Tak Bisa Menengok ke Atas?


Hanya saja ekspresi Ameca sebelumnya justru tidak menguatkan pernyataan tersebut. Tidak heran jika akhirnya hal tersebut membuat banyak kritikus semakin khawatir dengan keberadaan robot-robot kecerdasan buatan. Keberadaan robot-robot humanoid tersebut dikhawatirkan tidak hanya menggantian manusia tapi juga berperang dengan manusia. Berontak seperti yang dikhawatirkan jurnalis yang bertanya pada Ameca.

Thomas Telving, penulis buku Killing Sophia - Consciousness, Empathy and Reason in the Age of Intelligent Robots mengatakan interaksi manusia dengan robot humanoid akan sangat berbahaya karena akan mengubah persepsi manusia akan robot. Bisa jadi manusia akan melihat robot memiliki kepribadian dan kesadaran.&amp;ldquo;Ketika robot humanoid bergerak ke masyarakat dalam skala besar,  banyak dari kita akan cenderung percaya bahwa mereka layak diperlakukan  secara moral dan sampai tingkat tertentu diberikan hak yang serupa  dengan hak asasi manusia,&amp;rdquo; ujarnya.

Dilema itu yang akhirnya menjadi tanda tanya besar apakah memang  robot humanoid ke depannya layak diperlakukan secara moral dan layak  diperlakukan seperti manusia. Apalagi jika nanti, layaknya hubungan  manusia yang selalu ada konflik, robot humanoid menurut Thomas Telving  bisa saja mengalami benturan dengan manusia.

CEO Tesla Elon Musk pada 2017 melalui akun Twitter resmi miliknya  bahkan pernah juga mengutarakan kekhawatiran yang sama. Saat itu dia  mengatakan jika tidak dipantau maka kecerdasan buatan pada robot akan  jadi tanda-tanda kiamat.

BACA JUGA:
Tak Punya Kelopak Mata, Bagaimana Cara Ikan Tidur?


&amp;ldquo;China, Rusia dan semua negara yang memiliki sains computer yang kuat  bakal bersaing untuk superioritas Kecerdasan Buatan pada tingkat  nasional. Ini bisa menjadi penyebab Perang Dunia Ketiga, menurut  pendapat saya,&amp;rdquo; cuit Elon Musk.

Hanya saja Elon Musk justru saat ini juga ikut membuat robot  humanoid. Namun dia sudah wanti-wanti bahwa robot yang dia buat hanya  akan membantu manusia bukan berontak melawan manusia.
</content:encoded></item></channel></rss>
