<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dunia Catat Rekor Hari Terpanas Global, Heat Dome Dituding Jadi Penyebab Utamanya</title><description>Udara itu semakin memanas saat dikompresi, dan kita mulai merasa jauh lebih panas.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/05/56/2841672/dunia-catat-rekor-hari-terpanas-global-heat-dome-dituding-jadi-penyebab-utamanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/05/56/2841672/dunia-catat-rekor-hari-terpanas-global-heat-dome-dituding-jadi-penyebab-utamanya"/><item><title>Dunia Catat Rekor Hari Terpanas Global, Heat Dome Dituding Jadi Penyebab Utamanya</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/05/56/2841672/dunia-catat-rekor-hari-terpanas-global-heat-dome-dituding-jadi-penyebab-utamanya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/07/05/56/2841672/dunia-catat-rekor-hari-terpanas-global-heat-dome-dituding-jadi-penyebab-utamanya</guid><pubDate>Rabu 05 Juli 2023 18:19 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/07/05/56/2841672/dunia-catat-rekor-hari-terpanas-global-heat-dome-dituding-jadi-penyebab-utamanya-zByxj0DOHU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cuaca Panas Ekstrem. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/07/05/56/2841672/dunia-catat-rekor-hari-terpanas-global-heat-dome-dituding-jadi-penyebab-utamanya-zByxj0DOHU.jpg</image><title>Cuaca Panas Ekstrem. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>PUSAT Prediksi Lingkungan Nasional Amerika Serikat (AS) mencatatkan suhu global rata-rata pada pada 3 Juli silam mencapai 17,01 derajat Celcius. Ini merupakan suhu terpanas, melampaui rekor Agustus 2016 sebesar 16,92C saat gelombang panas melanda di seluruh dunia.

AS bagian selatan telah menderita di bawah kubah panas yang hebat dalam beberapa minggu terakhir. Di China, gelombang panas terus berlanjut, dengan suhu di atas 35C. Afrika Utara telah melihat suhu mendekati 50C.

Bahkan di Antartika, yang saat ini mengalami musim dingin, mencatat suhu yang sangat tinggi. Basis Penelitian Vernadsky Ukraina di Kepulauan Argentina di benua putih itu baru-baru ini memecahkan rekor suhu bulan Juli dengan 8,7C.

BACA JUGA:
AI Google Akhirnya Jawab Perdebatan: Mana yang Lebih Baik, Android atau iPhone?


Lantas, kenapa gelombang panas ini bisa terjadi? Gelombang panas dimulai ketika tekanan tinggi di atmosfer bergerak masuk dan mendorong udara hangat ke tanah. Udara itu semakin memanas saat dikompresi, dan kita mulai merasa jauh lebih panas.

Sistem tekanan tinggi yang menekan tanah mengembang secara vertikal, memaksa sistem cuaca lain untuk mengubah arah. Bahkan meminimalkan tutupan angin dan awan, membuat udara lebih gerah. Ini juga mengapa gelombang panas ada di suatu area selama beberapa hari atau lebih dan membentuk kubah panas atau heat dome.

BACA JUGA:
Apakah Semut Akan Mati Jika Jatuh dari Gedung Bertingkat?


Saat tanah menghangat, ia kehilangan kelembapan, yang membuatnya lebih mudah untuk menjadi lebih panas. Dan di daerah yang dilanda kekeringan, sering kali ada banyak panas untuk dijebak oleh sistem tekanan tinggi.

Saat panas yang terperangkap itu terus menghangat, maka udara tersebut akan berada seperti di tutup panci dan inilah yang menjadi awal kubah panas. Pada musim panas 2021, ada banyak panas untuk sistem tekanan tinggi terperangkap, yang menyebabkan suhu berada pada tiga digit di akhir Juni dan awal Juli yang menewaskan ratusan orang di Oregon, Washington, dan British Columbia.Melanir NY Times, tim peneliti pun menyebut, peristiwa cuaca yang  mematikan itu tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim. Kita telah  lama mengetahui bahwa dunia telah menghangat lebih dari 1 derajat  Celcius (sekitar 1,8 derajat Fahrenheit) sejak tahun 1900, dan laju  pemanasan telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir.

Penyebab utama pemanasan global saat ini adalah manusia yang membakar  bahan bakar fosil. Ribuan ilmuwan, yang telah mempelajari penyebabnya  selama beberapa dekade, telah mencapai konsensus yang luar biasa ini.  Secara global pada tahun 2022, manusia mengeluarkan sekira 36,8 miliar  metrik ton karbon dioksida yang menghangatkan planet dengan membakar  batu bara, gas alam, dan minyak untuk energi.

BACA JUGA:
Virgin Galactic Sukses Luncurkan Penerbangan Komersial ke Luar Angkasa Pertama


Ini pun berkontribusi pada peristiwa cuaca ekstrem dan membantu  membuat periode panas ekstrem menjadi lebih sering, lebih lama, dan  lebih intens. Selain itu, kembalinya pola iklim alami musim panas ini  yang dikenal sebagai El Ni&amp;ntilde;o membawa peluang peningkatan suhu yang lebih  panas dari biasanya di akhir tahun ini dan di tahun 2024.

Ilmuwan iklim Friederike Otto dari Institut Perubahan Iklim dan  Lingkungan Grantham di Imperial College London Inggris pun menyebut  cuaca panas ini telah menjadi sejarah baru. &quot;Tapi ini bukan tonggak  sejarah yang harus kita rayakan,&quot; kata mereka.

&quot;Ini adalah hukuman mati bagi manusia dan ekosistem,&quot; tambah mereka.
</description><content:encoded>PUSAT Prediksi Lingkungan Nasional Amerika Serikat (AS) mencatatkan suhu global rata-rata pada pada 3 Juli silam mencapai 17,01 derajat Celcius. Ini merupakan suhu terpanas, melampaui rekor Agustus 2016 sebesar 16,92C saat gelombang panas melanda di seluruh dunia.

AS bagian selatan telah menderita di bawah kubah panas yang hebat dalam beberapa minggu terakhir. Di China, gelombang panas terus berlanjut, dengan suhu di atas 35C. Afrika Utara telah melihat suhu mendekati 50C.

Bahkan di Antartika, yang saat ini mengalami musim dingin, mencatat suhu yang sangat tinggi. Basis Penelitian Vernadsky Ukraina di Kepulauan Argentina di benua putih itu baru-baru ini memecahkan rekor suhu bulan Juli dengan 8,7C.

BACA JUGA:
AI Google Akhirnya Jawab Perdebatan: Mana yang Lebih Baik, Android atau iPhone?


Lantas, kenapa gelombang panas ini bisa terjadi? Gelombang panas dimulai ketika tekanan tinggi di atmosfer bergerak masuk dan mendorong udara hangat ke tanah. Udara itu semakin memanas saat dikompresi, dan kita mulai merasa jauh lebih panas.

Sistem tekanan tinggi yang menekan tanah mengembang secara vertikal, memaksa sistem cuaca lain untuk mengubah arah. Bahkan meminimalkan tutupan angin dan awan, membuat udara lebih gerah. Ini juga mengapa gelombang panas ada di suatu area selama beberapa hari atau lebih dan membentuk kubah panas atau heat dome.

BACA JUGA:
Apakah Semut Akan Mati Jika Jatuh dari Gedung Bertingkat?


Saat tanah menghangat, ia kehilangan kelembapan, yang membuatnya lebih mudah untuk menjadi lebih panas. Dan di daerah yang dilanda kekeringan, sering kali ada banyak panas untuk dijebak oleh sistem tekanan tinggi.

Saat panas yang terperangkap itu terus menghangat, maka udara tersebut akan berada seperti di tutup panci dan inilah yang menjadi awal kubah panas. Pada musim panas 2021, ada banyak panas untuk sistem tekanan tinggi terperangkap, yang menyebabkan suhu berada pada tiga digit di akhir Juni dan awal Juli yang menewaskan ratusan orang di Oregon, Washington, dan British Columbia.Melanir NY Times, tim peneliti pun menyebut, peristiwa cuaca yang  mematikan itu tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim. Kita telah  lama mengetahui bahwa dunia telah menghangat lebih dari 1 derajat  Celcius (sekitar 1,8 derajat Fahrenheit) sejak tahun 1900, dan laju  pemanasan telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir.

Penyebab utama pemanasan global saat ini adalah manusia yang membakar  bahan bakar fosil. Ribuan ilmuwan, yang telah mempelajari penyebabnya  selama beberapa dekade, telah mencapai konsensus yang luar biasa ini.  Secara global pada tahun 2022, manusia mengeluarkan sekira 36,8 miliar  metrik ton karbon dioksida yang menghangatkan planet dengan membakar  batu bara, gas alam, dan minyak untuk energi.

BACA JUGA:
Virgin Galactic Sukses Luncurkan Penerbangan Komersial ke Luar Angkasa Pertama


Ini pun berkontribusi pada peristiwa cuaca ekstrem dan membantu  membuat periode panas ekstrem menjadi lebih sering, lebih lama, dan  lebih intens. Selain itu, kembalinya pola iklim alami musim panas ini  yang dikenal sebagai El Ni&amp;ntilde;o membawa peluang peningkatan suhu yang lebih  panas dari biasanya di akhir tahun ini dan di tahun 2024.

Ilmuwan iklim Friederike Otto dari Institut Perubahan Iklim dan  Lingkungan Grantham di Imperial College London Inggris pun menyebut  cuaca panas ini telah menjadi sejarah baru. &quot;Tapi ini bukan tonggak  sejarah yang harus kita rayakan,&quot; kata mereka.

&quot;Ini adalah hukuman mati bagi manusia dan ekosistem,&quot; tambah mereka.
</content:encoded></item></channel></rss>
