<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>5 Langkah untuk Pastikan AI Tak Jadi Boomerang bagi Masyarakat</title><description>Indonesia perlu mempertimbangkan sikap dan kebijakan terkait AI dengan beberapa pendekatan yang penting.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835549/5-langkah-untuk-pastikan-ai-tak-jadi-boomerang-bagi-masyarakat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835549/5-langkah-untuk-pastikan-ai-tak-jadi-boomerang-bagi-masyarakat"/><item><title>5 Langkah untuk Pastikan AI Tak Jadi Boomerang bagi Masyarakat</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835549/5-langkah-untuk-pastikan-ai-tak-jadi-boomerang-bagi-masyarakat</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835549/5-langkah-untuk-pastikan-ai-tak-jadi-boomerang-bagi-masyarakat</guid><pubDate>Jum'at 23 Juni 2023 11:12 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/22/54/2835549/5-langkah-untuk-pastikan-ai-tak-jadi-boomerang-bagi-masyarakat-LoDCwDsUuM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi AI. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/22/54/2835549/5-langkah-untuk-pastikan-ai-tak-jadi-boomerang-bagi-masyarakat-LoDCwDsUuM.jpg</image><title>Ilustrasi AI. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>HYPE terkait Artificial Intelligence (AI) memang tengah meningkat dalam beberapa bulan terakhir ini. Tapi setiap teknologi pasti memiliki sisi negatif dan positif, oleh karena itu perlu adanya pengaturan agar sisi negatif AI tidak meluas.

Head of Education Ecosystem di perusahaan telekomunikasi milik negara (BUMN) PT Telkom Indonesia Sri Savitri mengatakan, Indonesia perlu mempertimbangkan sikap dan kebijakan terkait AI dengan beberapa pendekatan yang penting.

&quot;Yang pertama adalah bagaimana kita membangun kesadaran dan edukasi tentang AI,&quot; ujar Sri seperti dilansir dari Antara.

BACA JUGA:
Kuat Terbang Sampai Puluhan Tahun, Sebenarnya Apa Bahan Bakar Satelit?


Sri menjelaskan, kesadaran dan edukasi harus ditingkatkan agar masyarakat memahami potensi risiko, dan manfaat dari AI. Kegiatan seperti kampanye, lokakarya, seminar, hingga program pendidikan dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tersebut.

Langkah kedua, kata dia, perlu ditetapkan kerangka kerja etika yang jelas. Indonesia telah menyadari pentingnya kerangka kerja etika dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI. Kerangka kerja ini dinilai akan menjadi pedoman dalam memastikan pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Langkah ketiga adalah riset dan pendidikan. Sri mengatakan pemerintah telah menginvestasikan sumber daya dalam program-program pendidikan dan riset yang berfokus pada AI, termasuk inisiatif seperti yang dilakukan oleh Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA).

BACA JUGA:
Setelah Kuadriliun, Kuintiliun dan Sextillion, Berapa Bilangan Paling Besar yang Ada di Dunia?


Selain itu, pemerintah juga terus meningkatkan edukasi di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) yang dinilai akan menyediakan banyak peluang untuk penelitian AI.

&quot;Tentunya kita penting untuk mendorong riset dan inovasi yang berkelanjutan di dalam AI dengan fokus pada penanganan potensi risiko dan pengembangan solusi untuk memitigasinya,&quot; kata dia.Langkah keempat, lanjut Sri, adalah aspek tata kelola data. Indonesia  perlu memastikan bahwa data yang dikelola telah sesuai dengan kebijakan  dan aturan yang berlaku untuk mendukung penggunaan AI yang bertanggung  jawab dan aman.

Menurut Sri, penting untuk menetapkan tata kelola data yang kuat  dengan memastikan mekanisme pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan  data yang bertanggung jawab.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?


Langkah kelima dan terakhir adalah kolaborasi dan kemitraan.  Indonesia didorong untuk aktif terlibat dalam organisasi internasional,  bekerja sama dengan pemimpin industri dan institusi riset untuk berbagi  pengetahuan dan praktik terbaik. Melalui kolaborasi ini, Indonesia dapat  berkontribusi dalam pengembangan standar global yang berkaitan dengan  AI.

&quot;Dengan mengikuti langkah-langkah ini Indonesia dapat meletakkan  dasar untuk implementasi teknologi AI yang etis dan bermanfaat serta  memastikan bahwa teknologi tersebut selaras dengan nilai-nilai sosial,  selaras dengan nilai Pancasila dan menghormati hak asasi manusia serta  berkontribusi pada kesejahteraan umum secara keseluruhan,&quot; pungkas Sri.</description><content:encoded>HYPE terkait Artificial Intelligence (AI) memang tengah meningkat dalam beberapa bulan terakhir ini. Tapi setiap teknologi pasti memiliki sisi negatif dan positif, oleh karena itu perlu adanya pengaturan agar sisi negatif AI tidak meluas.

Head of Education Ecosystem di perusahaan telekomunikasi milik negara (BUMN) PT Telkom Indonesia Sri Savitri mengatakan, Indonesia perlu mempertimbangkan sikap dan kebijakan terkait AI dengan beberapa pendekatan yang penting.

&quot;Yang pertama adalah bagaimana kita membangun kesadaran dan edukasi tentang AI,&quot; ujar Sri seperti dilansir dari Antara.

BACA JUGA:
Kuat Terbang Sampai Puluhan Tahun, Sebenarnya Apa Bahan Bakar Satelit?


Sri menjelaskan, kesadaran dan edukasi harus ditingkatkan agar masyarakat memahami potensi risiko, dan manfaat dari AI. Kegiatan seperti kampanye, lokakarya, seminar, hingga program pendidikan dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tersebut.

Langkah kedua, kata dia, perlu ditetapkan kerangka kerja etika yang jelas. Indonesia telah menyadari pentingnya kerangka kerja etika dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI. Kerangka kerja ini dinilai akan menjadi pedoman dalam memastikan pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Langkah ketiga adalah riset dan pendidikan. Sri mengatakan pemerintah telah menginvestasikan sumber daya dalam program-program pendidikan dan riset yang berfokus pada AI, termasuk inisiatif seperti yang dilakukan oleh Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA).

BACA JUGA:
Setelah Kuadriliun, Kuintiliun dan Sextillion, Berapa Bilangan Paling Besar yang Ada di Dunia?


Selain itu, pemerintah juga terus meningkatkan edukasi di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) yang dinilai akan menyediakan banyak peluang untuk penelitian AI.

&quot;Tentunya kita penting untuk mendorong riset dan inovasi yang berkelanjutan di dalam AI dengan fokus pada penanganan potensi risiko dan pengembangan solusi untuk memitigasinya,&quot; kata dia.Langkah keempat, lanjut Sri, adalah aspek tata kelola data. Indonesia  perlu memastikan bahwa data yang dikelola telah sesuai dengan kebijakan  dan aturan yang berlaku untuk mendukung penggunaan AI yang bertanggung  jawab dan aman.

Menurut Sri, penting untuk menetapkan tata kelola data yang kuat  dengan memastikan mekanisme pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaan  data yang bertanggung jawab.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?


Langkah kelima dan terakhir adalah kolaborasi dan kemitraan.  Indonesia didorong untuk aktif terlibat dalam organisasi internasional,  bekerja sama dengan pemimpin industri dan institusi riset untuk berbagi  pengetahuan dan praktik terbaik. Melalui kolaborasi ini, Indonesia dapat  berkontribusi dalam pengembangan standar global yang berkaitan dengan  AI.

&quot;Dengan mengikuti langkah-langkah ini Indonesia dapat meletakkan  dasar untuk implementasi teknologi AI yang etis dan bermanfaat serta  memastikan bahwa teknologi tersebut selaras dengan nilai-nilai sosial,  selaras dengan nilai Pancasila dan menghormati hak asasi manusia serta  berkontribusi pada kesejahteraan umum secara keseluruhan,&quot; pungkas Sri.</content:encoded></item></channel></rss>
