<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kenapa Jembatan Semanggi Dibuat? Begini Penjelasan Sainsnya</title><description>Jembatan ini pun menggunakan ilmu ukur yang sederhana.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835481/kenapa-jembatan-semanggi-dibuat-begini-penjelasan-sainsnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835481/kenapa-jembatan-semanggi-dibuat-begini-penjelasan-sainsnya"/><item><title>Kenapa Jembatan Semanggi Dibuat? Begini Penjelasan Sainsnya</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835481/kenapa-jembatan-semanggi-dibuat-begini-penjelasan-sainsnya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/22/54/2835481/kenapa-jembatan-semanggi-dibuat-begini-penjelasan-sainsnya</guid><pubDate>Jum'at 23 Juni 2023 06:07 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/22/54/2835481/kenapa-jembatan-semanggi-dibuat-begini-penjelasan-sainsnya-br8JtdODAH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jembatan Semanggi. (Foto: ANT)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/22/54/2835481/kenapa-jembatan-semanggi-dibuat-begini-penjelasan-sainsnya-br8JtdODAH.jpg</image><title>Jembatan Semanggi. (Foto: ANT)</title></images><description>PERNAHKAH terpikir kenapa jembatan Semanggi, yang kini sudah dinamakan Simpang Susun Semanggi, dibuat melengkung-melengkung, bukan perempatan dengan lampu lalu lintas? Sebenarnya pertanyaan tersebut bisa dijawab secara sains.

Berbeda dengan lampu lalu lintas, Jembatan semanggi memungkinkan orang belok ke kanan tanpa memotong arus pemakai jalan dari arah lain. Jembatan ini pun menggunakan ilmu ukur yang sederhana.

Dalam buku karangan Robert L Wolke, ketika jalan raya dan jalan bebas hambatan mulai dibuat, para insinyur harus mencari cara untuk mengalirkan lalu lintas dari jalan raya yang satu ke jalan raya yang bersilangan, tanpa menghentikan lalu lintas yang berlawanan menggunakan lampu lalu lintas.

BACA JUGA:
Penjelasan Ilmiah Kapal Tak Tenggelam Meskipun dari Besi


Dahulu, Presiden Soekarno berencana membangun stadion olahraga di kawasan Senayan. Namun Ir. Sutami yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum mengusulkan untuk membangun jembatan. Menurut Ir. Sutami, jembatan bisa mengatasi kemungkinan adanya kemacetan lalu lintas.

Karena di Indonesia kendaraan berjalan di sebelah kiri, belok kiri bukan masalah. Kita tinggal masuk ke jalur kiri dan luar menuju jalan lainnya.

Tapi, tidak demikian halnya dengan belok kanan, karena untuk ini orang harus memotong arus lalu lintas dari arah depan. Bukan hanya kemacetan, risiko tabrakan di persimpangan pun sangat besar.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?


Oleh karena itu, dibuatlah jembatan semanggi. Melalui rancangan seperti ini kita dapat berbelok 90 derajat ke kanan dengan cara berputar 270 derajat ke kiri.

&quot;Coba bayangkan sebuah lingkaran penuh adalah 360 derajat; maka berputar 360 derajat sama dengan kembali ke arah semula. Jika dua buah jalan raya bersilangan saling tegak lurus, belok kanan berarti berputar 90 derajat ke kanan,&quot; jelas dia.Akan tetapi, kita akan mendapatkan hasil yang sama dengan berputar  tiga kali ke kiri, masing-masing sebanyak 90 derajat. Ini sama dengan  ketika kita ingin belok kanan di jalanan perkotaan tetapi menjumpai  tanda &quot;Dilarang Belok Kanan.&quot; Apa yang kita perbuat? Biasanya, di  persimpangan berikutnya kita boleh belok kiri tiga kali sampai masuk ke  jalan yang dikehendaki.

Inilah yang terjadi pada jembatan semanggi, rancangannya membuat kita  berputar 270 derajat mengitari tiga perempat sebuah lingkaran, sampai  menyilang entah ke atas atau ke bawah arus lalu lintas yang berlawanan  sesuai keperluan.

BACA JUGA:
7 Hewan yang Hidup Lebih dari 200 Tahun, Hydra Bahkan Bisa Abadi


Sebuah jembatan semanggi atau highway interchange adalah sebuah  jembatan layang dengan rancangan berdaun empat, bukan dua atau tiga,  karena ada empat arah arus lalu lintas yang berbeda-misalnya arah utara,  timur, selatan, dan barat-dan masing-masing harus bisa belok kanan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;

Jembatan ini dinamakan &quot;Semanggi&quot; karena bentuknya yang menyerupai  daun semanggi dan juga wilayah pembangunannya dahulu merupakan daerah  rawa yang dipenuhi semanggi. Proyek ini mulai dibangun pada tahun 1961,  pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dan Menteri Pekerjaan Umum pada  saat itu, yakni Ir. Sutami.
</description><content:encoded>PERNAHKAH terpikir kenapa jembatan Semanggi, yang kini sudah dinamakan Simpang Susun Semanggi, dibuat melengkung-melengkung, bukan perempatan dengan lampu lalu lintas? Sebenarnya pertanyaan tersebut bisa dijawab secara sains.

Berbeda dengan lampu lalu lintas, Jembatan semanggi memungkinkan orang belok ke kanan tanpa memotong arus pemakai jalan dari arah lain. Jembatan ini pun menggunakan ilmu ukur yang sederhana.

Dalam buku karangan Robert L Wolke, ketika jalan raya dan jalan bebas hambatan mulai dibuat, para insinyur harus mencari cara untuk mengalirkan lalu lintas dari jalan raya yang satu ke jalan raya yang bersilangan, tanpa menghentikan lalu lintas yang berlawanan menggunakan lampu lalu lintas.

BACA JUGA:
Penjelasan Ilmiah Kapal Tak Tenggelam Meskipun dari Besi


Dahulu, Presiden Soekarno berencana membangun stadion olahraga di kawasan Senayan. Namun Ir. Sutami yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum mengusulkan untuk membangun jembatan. Menurut Ir. Sutami, jembatan bisa mengatasi kemungkinan adanya kemacetan lalu lintas.

Karena di Indonesia kendaraan berjalan di sebelah kiri, belok kiri bukan masalah. Kita tinggal masuk ke jalur kiri dan luar menuju jalan lainnya.

Tapi, tidak demikian halnya dengan belok kanan, karena untuk ini orang harus memotong arus lalu lintas dari arah depan. Bukan hanya kemacetan, risiko tabrakan di persimpangan pun sangat besar.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?


Oleh karena itu, dibuatlah jembatan semanggi. Melalui rancangan seperti ini kita dapat berbelok 90 derajat ke kanan dengan cara berputar 270 derajat ke kiri.

&quot;Coba bayangkan sebuah lingkaran penuh adalah 360 derajat; maka berputar 360 derajat sama dengan kembali ke arah semula. Jika dua buah jalan raya bersilangan saling tegak lurus, belok kanan berarti berputar 90 derajat ke kanan,&quot; jelas dia.Akan tetapi, kita akan mendapatkan hasil yang sama dengan berputar  tiga kali ke kiri, masing-masing sebanyak 90 derajat. Ini sama dengan  ketika kita ingin belok kanan di jalanan perkotaan tetapi menjumpai  tanda &quot;Dilarang Belok Kanan.&quot; Apa yang kita perbuat? Biasanya, di  persimpangan berikutnya kita boleh belok kiri tiga kali sampai masuk ke  jalan yang dikehendaki.

Inilah yang terjadi pada jembatan semanggi, rancangannya membuat kita  berputar 270 derajat mengitari tiga perempat sebuah lingkaran, sampai  menyilang entah ke atas atau ke bawah arus lalu lintas yang berlawanan  sesuai keperluan.

BACA JUGA:
7 Hewan yang Hidup Lebih dari 200 Tahun, Hydra Bahkan Bisa Abadi


Sebuah jembatan semanggi atau highway interchange adalah sebuah  jembatan layang dengan rancangan berdaun empat, bukan dua atau tiga,  karena ada empat arah arus lalu lintas yang berbeda-misalnya arah utara,  timur, selatan, dan barat-dan masing-masing harus bisa belok kanan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;

Jembatan ini dinamakan &quot;Semanggi&quot; karena bentuknya yang menyerupai  daun semanggi dan juga wilayah pembangunannya dahulu merupakan daerah  rawa yang dipenuhi semanggi. Proyek ini mulai dibangun pada tahun 1961,  pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dan Menteri Pekerjaan Umum pada  saat itu, yakni Ir. Sutami.
</content:encoded></item></channel></rss>
