<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kuat Terbang Sampai Puluhan Tahun, Sebenarnya Apa Bahan Bakar Satelit?</title><description>Satelit GOES-3 NOAA bahkan memiliki masa operasional selama lima dekade atau enam presiden AS berbeda.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834836/kuat-terbang-sampai-puluhan-tahun-sebenarnya-apa-bahan-bakar-satelit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834836/kuat-terbang-sampai-puluhan-tahun-sebenarnya-apa-bahan-bakar-satelit"/><item><title>Kuat Terbang Sampai Puluhan Tahun, Sebenarnya Apa Bahan Bakar Satelit?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834836/kuat-terbang-sampai-puluhan-tahun-sebenarnya-apa-bahan-bakar-satelit</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834836/kuat-terbang-sampai-puluhan-tahun-sebenarnya-apa-bahan-bakar-satelit</guid><pubDate>Kamis 22 Juni 2023 07:08 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/21/56/2834836/kuat-terbang-sampai-puluhan-tahun-sebenarnya-apa-bahan-bakar-satelit-Ejg7ILtHZI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Satelit. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/21/56/2834836/kuat-terbang-sampai-puluhan-tahun-sebenarnya-apa-bahan-bakar-satelit-Ejg7ILtHZI.jpg</image><title>Ilustrasi Satelit. (Foto: Freepik)</title></images><description>INDONESIA akhirnya memiliki satelit pribadi yang bernama Satelit Republik Indonesia (SATRIA)-1. Satelit ini pun meluncur pada akhir Minggu kemarin waktu setempat.

Meluncur dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat pada 18 Juni 2023, satelit ini menjadi satelit multifungsi terbesar di Asia dan nomor enam di dunia. Adapun kapasitas internet yang dimiliki yakni sebesar 150 Gbps.

BACA JUGA:
SATRIA-1 Jadi Awal Baru Era Internet di Indonesia


Dengan adanya satelit ini, diharapkan jangkauan layanan internet pemerintah di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar (3T) dapat terpenuhi. Adapun fokus layanannya di bidang pendidikan, kesehatan, pemerintah daerah, dan kepolisian.

Seperti diketahui bersama bahwa satelit bisa mengorbit di sekitar Bumi dalam waktu yang lama. Satelit GOES-3 NOAA bahkan memiliki masa operasional selama lima dekade atau enam presiden AS berbeda.

BACA JUGA:
Setelah Kuadriliun, Kuintiliun dan Sextillion, Berapa Bilangan Paling Besar yang Ada di Dunia?


Fakta ini mungkin menimbulkan tanda tanya apa sih sebenarnya bahan bakar satelit hingga membuatnya tetap berada di posisi selama bertahun-tahun. Nah untuk menemukan jawabannya, simak paparan berikut ini.

Sebagian besar satelit buatan menggunakan bahan bakar bernama monomethyhydrazine (MMH) dan nitrogen textroxide (N2O4). Ada juga satelit buatan yang menggunakan bahan bakar bernama Reaction Engine Assemblies.Sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, sebenarnya satelit hanya  membawa sedikit daya yang dicadangkan untuk mengubah orbit atau  menghindari tabrakan. Sisanya, mengandalkan faktor kecepatan dan  grafitasi.

Faktor kecepatan digunakan satelit untuk melakukan perjalanan dalam  garis lurus. Sementara tarikan gravitasi yang dimiliki Bumi digunakan  untuk membuatnya dapat berputar mengelilingi Bumi sebagai gaya  sentripetal.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?


Satelit dapat terus mengorbit di sekitar Bumi karena mereka terkunci  pada kecepatan yang cukup untuk mengalahkan tarikan gravitasi ke bawah.  Mereka dikirim dengan roket yang berkecepatan 25.039 mph untuk keluar  dari atmosfer.

Begitu roket mencapai lokasi yang ditentukan, roket akan menjatuhkan  satelit ke orbitnya. Kecepatan awal satelit yang dipertahankan saat  terlepas dari kendaraan peluncuran cukup untuk mempertahankan satelit di  orbit selama bertahun-tahun.
</description><content:encoded>INDONESIA akhirnya memiliki satelit pribadi yang bernama Satelit Republik Indonesia (SATRIA)-1. Satelit ini pun meluncur pada akhir Minggu kemarin waktu setempat.

Meluncur dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat pada 18 Juni 2023, satelit ini menjadi satelit multifungsi terbesar di Asia dan nomor enam di dunia. Adapun kapasitas internet yang dimiliki yakni sebesar 150 Gbps.

BACA JUGA:
SATRIA-1 Jadi Awal Baru Era Internet di Indonesia


Dengan adanya satelit ini, diharapkan jangkauan layanan internet pemerintah di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar (3T) dapat terpenuhi. Adapun fokus layanannya di bidang pendidikan, kesehatan, pemerintah daerah, dan kepolisian.

Seperti diketahui bersama bahwa satelit bisa mengorbit di sekitar Bumi dalam waktu yang lama. Satelit GOES-3 NOAA bahkan memiliki masa operasional selama lima dekade atau enam presiden AS berbeda.

BACA JUGA:
Setelah Kuadriliun, Kuintiliun dan Sextillion, Berapa Bilangan Paling Besar yang Ada di Dunia?


Fakta ini mungkin menimbulkan tanda tanya apa sih sebenarnya bahan bakar satelit hingga membuatnya tetap berada di posisi selama bertahun-tahun. Nah untuk menemukan jawabannya, simak paparan berikut ini.

Sebagian besar satelit buatan menggunakan bahan bakar bernama monomethyhydrazine (MMH) dan nitrogen textroxide (N2O4). Ada juga satelit buatan yang menggunakan bahan bakar bernama Reaction Engine Assemblies.Sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber, sebenarnya satelit hanya  membawa sedikit daya yang dicadangkan untuk mengubah orbit atau  menghindari tabrakan. Sisanya, mengandalkan faktor kecepatan dan  grafitasi.

Faktor kecepatan digunakan satelit untuk melakukan perjalanan dalam  garis lurus. Sementara tarikan gravitasi yang dimiliki Bumi digunakan  untuk membuatnya dapat berputar mengelilingi Bumi sebagai gaya  sentripetal.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?


Satelit dapat terus mengorbit di sekitar Bumi karena mereka terkunci  pada kecepatan yang cukup untuk mengalahkan tarikan gravitasi ke bawah.  Mereka dikirim dengan roket yang berkecepatan 25.039 mph untuk keluar  dari atmosfer.

Begitu roket mencapai lokasi yang ditentukan, roket akan menjatuhkan  satelit ke orbitnya. Kecepatan awal satelit yang dipertahankan saat  terlepas dari kendaraan peluncuran cukup untuk mempertahankan satelit di  orbit selama bertahun-tahun.
</content:encoded></item></channel></rss>
