<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Eksploitasi Air Tanah Sudah Sebabkan Poros Rotasi Bumi Bergeser 80 Cm</title><description>Penggunaan air tanah dalam dua dekade membuat poros Bumi bergeser.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834569/eksploitasi-air-tanah-sudah-sebabkan-poros-rotasi-bumi-bergeser-80-cm</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834569/eksploitasi-air-tanah-sudah-sebabkan-poros-rotasi-bumi-bergeser-80-cm"/><item><title>Eksploitasi Air Tanah Sudah Sebabkan Poros Rotasi Bumi Bergeser 80 Cm</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834569/eksploitasi-air-tanah-sudah-sebabkan-poros-rotasi-bumi-bergeser-80-cm</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/21/56/2834569/eksploitasi-air-tanah-sudah-sebabkan-poros-rotasi-bumi-bergeser-80-cm</guid><pubDate>Rabu 21 Juni 2023 12:13 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/21/56/2834569/eksploitasi-air-tanah-sudah-sebabkan-poros-rotasi-bumi-bergeser-80-cm-edBvEaKYf8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Poros Bumi Bergeser. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/21/56/2834569/eksploitasi-air-tanah-sudah-sebabkan-poros-rotasi-bumi-bergeser-80-cm-edBvEaKYf8.jpg</image><title>Ilustrasi Poros Bumi Bergeser. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>PENGGUNAAN air tanah di seluruh dunia yang masif membuat kekhawatiran akan habisnya stok air di dunia. Jakarta sendiri, sudah membatasi penggunaan air tanah pada 2021 dan akan berlaku pada Agustus 2023.
Selain kekhawtiran akan stok air bersih, ternyata penggunaan air tanah berlebihan membuat dampak lain ke bumi kita loh. Pasalnya, dengan penggunaan air tanah dalam dua dekade membuat poros Bumi bergeser.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?

Sebuah penelitian menyebut, kutub rotasi Bumi, titik di mana planet berputar, bergeser dengan perubahan distribusi massa di seluruh dunia, bergoyang dalam proses yang disebut gerakan kutub. Para ilmuwan menyebut, perubahan distribusi air akibat perubahan iklim dapat berkontribusi pada gerakan kutub.
Para peneliti menyebut air yang sudah keluar dari dalam tanah sekira 2.150 gigaton air, atau setara dengan Danau Victoria di Afrika, dari lapisan bawah tanah batuan jenuh air yang dikenal sebagai akuifer. Akibatnya, terjadi pergeseran yang cukup signifikan ke arah timur sebesar 31 inci (80 sentimeter) di kutub rotasi Bumi antara tahun 1993 dan 2010.

Itu karena air tanah yang digunakan untuk irigasi dan aktivitas manusia lainnya akhirnya berakhir di lautan, dan didistribusikan kembali dari tempat air itu dibawa ke bagian lain dunia.
&quot;Kutub rotasi bumi sebenarnya banyak berubah. Studi kami menunjukkan bahwa di antara penyebab terkait iklim, redistribusi air tanah sebenarnya memiliki dampak terbesar pada rotasi kutub,&quot; kata pemimpin penelitian Ki-Weon Seo, seorang ahli geofisika di Universitas Nasional Seoul di Korea Selatan, seperti dilansir dari LiveScience.

BACA JUGA:
Setelah Kuadriliun, Kuintiliun dan Sextillion, Berapa Bilangan Paling Besar yang Ada di Dunia?

Terlebih lagi, ekstraksi air tanah yang berakhir di lautan mungkin telah mendorong kenaikan permukaan laut global sekitar 0,25 inci (6,24 milimeter). &amp;ldquo;Penipisan air tanah merupakan kontributor signifikan terhadap kenaikan permukaan air laut,&amp;rdquo; tulis para peneliti dalam jurnal Geophysical Research Letters.
Secara global, sekira 70% air yang dipompa dari tanah digunakan untuk irigasi, tetapi hanya setengahnya yang mengalir kembali untuk mengisi akuifer dan sumber air tawar lainnya. Separuh lainnya menguap dan berakhir di lautan melalui curah hujan.Nah, guna menentukan berapa banyak penipisan air tanah dan kenaikan  permukaan laut yang dihasilkan berkontribusi pada penyimpangan kutub,  ahli geofisika membangun model yang memperhitungkan pergeseran massa air  yang terkait dengan lapisan es yang menipis, pencairan gletser, dan  penyimpanan air di reservoir.
Ketika mereka mengecualikan redistribusi air tanah dari model,  hasilnya tidak cocok dengan pergeseran kutub yang diamati ke arah timur  dan sebaliknya, kemiringan jauh lebih ke arah barat.

BACA JUGA:
Mengenal Valentina V Tereshkova, Astronot Perempuan Pertama asal Rusia

Tapi, ketika mereka menambahkan 2.150 gigaton air dari akuifer ke  dalam model, hasilnya sesuai dengan catatan pengamatan, yakni Bumi  bergerak ke arah timur. &quot;Ini adalah kontribusi yang bagus dan tentunya  dokumentasi penting,&quot; kata Surendra Adhikari, seorang ilmuwan riset di  Jet Propulsion Laboratory NASA dan salah satu penulis studi tahun 2016  di jurnal Science Advances yang meneliti dampak redistribusi air pada  pergeseran kutub.
&quot;Mereka menghitung peran pemompaan air tanah pada gerakan kutub, dan itu cukup signifikan,&quot; jelas Adhikari.

BACA JUGA:
7 Hewan yang Hidup Lebih dari 200 Tahun, Hydra Bahkan Bisa Abadi

Perubahan yang tidak dapat diabaikan lainnya dalam distribusi air dan  massa, yakni peran dalam gerakan kutub antara 1993 dan 2010 termasuk  pergeseran tingkat danau alami, konveksi mantel, dan gempa bumi. Namun,  ini sulit untuk diukur lantaran tidak ada database global saat ini.
Pergeseran kutub yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir,  mungkin tidak mempengaruhi lamanya hari atau musim, tapi ini  menggambarkan seberapa banyak air yang telah dipompa manusia dari tanah.  &quot;Saya khawatir dan terkejut,&quot; kata Seo dalam pernyataannya.</description><content:encoded>PENGGUNAAN air tanah di seluruh dunia yang masif membuat kekhawatiran akan habisnya stok air di dunia. Jakarta sendiri, sudah membatasi penggunaan air tanah pada 2021 dan akan berlaku pada Agustus 2023.
Selain kekhawtiran akan stok air bersih, ternyata penggunaan air tanah berlebihan membuat dampak lain ke bumi kita loh. Pasalnya, dengan penggunaan air tanah dalam dua dekade membuat poros Bumi bergeser.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu Kenapa Kecoak Lebih Menyeramkan saat Terbang?

Sebuah penelitian menyebut, kutub rotasi Bumi, titik di mana planet berputar, bergeser dengan perubahan distribusi massa di seluruh dunia, bergoyang dalam proses yang disebut gerakan kutub. Para ilmuwan menyebut, perubahan distribusi air akibat perubahan iklim dapat berkontribusi pada gerakan kutub.
Para peneliti menyebut air yang sudah keluar dari dalam tanah sekira 2.150 gigaton air, atau setara dengan Danau Victoria di Afrika, dari lapisan bawah tanah batuan jenuh air yang dikenal sebagai akuifer. Akibatnya, terjadi pergeseran yang cukup signifikan ke arah timur sebesar 31 inci (80 sentimeter) di kutub rotasi Bumi antara tahun 1993 dan 2010.

Itu karena air tanah yang digunakan untuk irigasi dan aktivitas manusia lainnya akhirnya berakhir di lautan, dan didistribusikan kembali dari tempat air itu dibawa ke bagian lain dunia.
&quot;Kutub rotasi bumi sebenarnya banyak berubah. Studi kami menunjukkan bahwa di antara penyebab terkait iklim, redistribusi air tanah sebenarnya memiliki dampak terbesar pada rotasi kutub,&quot; kata pemimpin penelitian Ki-Weon Seo, seorang ahli geofisika di Universitas Nasional Seoul di Korea Selatan, seperti dilansir dari LiveScience.

BACA JUGA:
Setelah Kuadriliun, Kuintiliun dan Sextillion, Berapa Bilangan Paling Besar yang Ada di Dunia?

Terlebih lagi, ekstraksi air tanah yang berakhir di lautan mungkin telah mendorong kenaikan permukaan laut global sekitar 0,25 inci (6,24 milimeter). &amp;ldquo;Penipisan air tanah merupakan kontributor signifikan terhadap kenaikan permukaan air laut,&amp;rdquo; tulis para peneliti dalam jurnal Geophysical Research Letters.
Secara global, sekira 70% air yang dipompa dari tanah digunakan untuk irigasi, tetapi hanya setengahnya yang mengalir kembali untuk mengisi akuifer dan sumber air tawar lainnya. Separuh lainnya menguap dan berakhir di lautan melalui curah hujan.Nah, guna menentukan berapa banyak penipisan air tanah dan kenaikan  permukaan laut yang dihasilkan berkontribusi pada penyimpangan kutub,  ahli geofisika membangun model yang memperhitungkan pergeseran massa air  yang terkait dengan lapisan es yang menipis, pencairan gletser, dan  penyimpanan air di reservoir.
Ketika mereka mengecualikan redistribusi air tanah dari model,  hasilnya tidak cocok dengan pergeseran kutub yang diamati ke arah timur  dan sebaliknya, kemiringan jauh lebih ke arah barat.

BACA JUGA:
Mengenal Valentina V Tereshkova, Astronot Perempuan Pertama asal Rusia

Tapi, ketika mereka menambahkan 2.150 gigaton air dari akuifer ke  dalam model, hasilnya sesuai dengan catatan pengamatan, yakni Bumi  bergerak ke arah timur. &quot;Ini adalah kontribusi yang bagus dan tentunya  dokumentasi penting,&quot; kata Surendra Adhikari, seorang ilmuwan riset di  Jet Propulsion Laboratory NASA dan salah satu penulis studi tahun 2016  di jurnal Science Advances yang meneliti dampak redistribusi air pada  pergeseran kutub.
&quot;Mereka menghitung peran pemompaan air tanah pada gerakan kutub, dan itu cukup signifikan,&quot; jelas Adhikari.

BACA JUGA:
7 Hewan yang Hidup Lebih dari 200 Tahun, Hydra Bahkan Bisa Abadi

Perubahan yang tidak dapat diabaikan lainnya dalam distribusi air dan  massa, yakni peran dalam gerakan kutub antara 1993 dan 2010 termasuk  pergeseran tingkat danau alami, konveksi mantel, dan gempa bumi. Namun,  ini sulit untuk diukur lantaran tidak ada database global saat ini.
Pergeseran kutub yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir,  mungkin tidak mempengaruhi lamanya hari atau musim, tapi ini  menggambarkan seberapa banyak air yang telah dipompa manusia dari tanah.  &quot;Saya khawatir dan terkejut,&quot; kata Seo dalam pernyataannya.</content:encoded></item></channel></rss>
