<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Banyak Penipuan, Apakah Bisnis di Media Sosial Masih Tetap Laku?</title><description>Tidak semua penjual berniat menjajakan jualannya, ada juga yang motifnya memang menipu.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/12/54/2829217/banyak-penipuan-apakah-bisnis-di-media-sosial-masih-tetap-laku</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/12/54/2829217/banyak-penipuan-apakah-bisnis-di-media-sosial-masih-tetap-laku"/><item><title>Banyak Penipuan, Apakah Bisnis di Media Sosial Masih Tetap Laku?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/12/54/2829217/banyak-penipuan-apakah-bisnis-di-media-sosial-masih-tetap-laku</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/12/54/2829217/banyak-penipuan-apakah-bisnis-di-media-sosial-masih-tetap-laku</guid><pubDate>Senin 12 Juni 2023 12:13 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/12/54/2829217/banyak-penipuan-apakah-bisnis-di-media-sosial-masih-tetap-laku-VxwXelRrWG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Media Sosial. (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/12/54/2829217/banyak-penipuan-apakah-bisnis-di-media-sosial-masih-tetap-laku-VxwXelRrWG.jpg</image><title>Ilustrasi Media Sosial. (Foto: Shutterstock)</title></images><description>BERBURU tiket memang sudah tidak lagi dilakukan dengan cara mengatre di tiket box. Kini, beburu tiket pun dilakukan lewat online. Meskipun lebih praktis, tapi mereka yang berburu tiket ini memang jumlahnya luar biasa banyak.

Tidak bisa dipungkiri, hal ini pun tentu dimanfaatkan orang untuk mencari cuan. Banyak juga yang menawarkan jasa pembelian tiket, bahkan menjual kembali tiket yang sudah terbeli. Tapi hati-hati, sebab tidak semua penjual berniat menjajakan jualannya, ada juga yang motifnya memang menipu.

Seperti yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, dimana tiket Coldplay dan Timnas menjadi sasaran penipuan penjualan di media sosial. Pengamat budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, mengatakan pemanfaatan media sosial di kalangan masyarakat memiliki tujuan beragam dari wadah mengekspresikan diri hingga mendapatkan penghasilan.

BACA JUGA:
Kenapa Kucing Disebut Punya 9 Nyawa?


&quot;(Pemanfaatan media sosial) mulai dari tujuan untuk menampilkan dirinya, prestasinya, peristiwa yang dialami, untuk hal iseng, sampai untuk mencari penghasilan,&quot; kata Firman seperti dilansir dari Antara.

Firman menjelaskan salah satu faktor yang mendorong pengembangan media digital atau media sosial adalah untuk memenuhi kebutuhan bisnis.

&quot;Lahirnya media sosial sebetulnya justru karena adanya keinginan berinteraksi dalam hal jual beli, transaksi, dan sebagainya. Kemudian ternyata bermanfaat untuk komunikasi juga,&quot; kata Firman.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu, Nyamuk Lebih Suka Terbang di Atas Kepala Orang yang Pakai Minyak Rambut


Lebih lanjut dia menjelaskan media sosial lahir dari transisi bentuk komunikasi media digital generasi pertama, Web 1.0, yang bersifat satu arah menjadi Web 2.0 yang lebih interaktif sehingga memungkinkan para pelaku bisnis untuk menjalin interaksi dengan konsumen dalam proses jual beli.

Selama pandemi, lanjut Firman, banyak masyarakat Indonesia yang terbantu keadaan ekonominya berkat pemanfaatan media sosial untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti berdagang. &quot;Dalam kenyataannya ketika ekonomi hampir tidak bisa berjalan akibat pandemi, yang bisa berjalan akhirnya ekonomi berbasis digital termasuk media sosial,&quot; kata Firman.Hal penting yang harus diperhatikan masyarakat ketika menjalankan  bisnis yang memanfaatkan media sosial adalah membangun kepercayaan  konsumen. Meskipun bisnis tidak dilakukan secara tatap muka dengan  konsumen, para pelaku bisnis harus tetap menjaga kualitas produk yang  dijual serta tidak menipu konsumen.

&quot;Jual produk-produk yang berkualitas dan tidak ingkar janji. Walau  berbisnis tidak dilakukan dengan tatap muka, apa yang ditawarkan itu  memang benar-benar diwujudkan,&quot; kata Firman.

Selain itu menjaga komunikasi dengan konsumen agar tetap beretika  juga menjadi hal penting untuk membangun bisnis pada media digital.

Eksistensi peran media sosial sebagai media untuk kegiatan ekonomi  dipengaruhi oleh para pelaku di dalamnya. Jika pelaku bisnis dapat  menjalankan bisnisnya dengan jujur dan mementingkan kualitas maka media  sosial akan terus menjadi wadah untuk menggerakkan perekonomian  masyarakat.

&quot;Semakin banyak penipuan maka media sosial tidak bisa dipakai lagi  untuk berbisnis. Jadi eksistensi media sosial untuk berbisnis,  berdagang, berkomunikasi, dan sosialisasi bisa terjaga kalau kualitas  kontennya terjaga,&quot; kata Firman.
</description><content:encoded>BERBURU tiket memang sudah tidak lagi dilakukan dengan cara mengatre di tiket box. Kini, beburu tiket pun dilakukan lewat online. Meskipun lebih praktis, tapi mereka yang berburu tiket ini memang jumlahnya luar biasa banyak.

Tidak bisa dipungkiri, hal ini pun tentu dimanfaatkan orang untuk mencari cuan. Banyak juga yang menawarkan jasa pembelian tiket, bahkan menjual kembali tiket yang sudah terbeli. Tapi hati-hati, sebab tidak semua penjual berniat menjajakan jualannya, ada juga yang motifnya memang menipu.

Seperti yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, dimana tiket Coldplay dan Timnas menjadi sasaran penipuan penjualan di media sosial. Pengamat budaya dan komunikasi digital Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, mengatakan pemanfaatan media sosial di kalangan masyarakat memiliki tujuan beragam dari wadah mengekspresikan diri hingga mendapatkan penghasilan.

BACA JUGA:
Kenapa Kucing Disebut Punya 9 Nyawa?


&quot;(Pemanfaatan media sosial) mulai dari tujuan untuk menampilkan dirinya, prestasinya, peristiwa yang dialami, untuk hal iseng, sampai untuk mencari penghasilan,&quot; kata Firman seperti dilansir dari Antara.

Firman menjelaskan salah satu faktor yang mendorong pengembangan media digital atau media sosial adalah untuk memenuhi kebutuhan bisnis.

&quot;Lahirnya media sosial sebetulnya justru karena adanya keinginan berinteraksi dalam hal jual beli, transaksi, dan sebagainya. Kemudian ternyata bermanfaat untuk komunikasi juga,&quot; kata Firman.

BACA JUGA:
Tahukah Kamu, Nyamuk Lebih Suka Terbang di Atas Kepala Orang yang Pakai Minyak Rambut


Lebih lanjut dia menjelaskan media sosial lahir dari transisi bentuk komunikasi media digital generasi pertama, Web 1.0, yang bersifat satu arah menjadi Web 2.0 yang lebih interaktif sehingga memungkinkan para pelaku bisnis untuk menjalin interaksi dengan konsumen dalam proses jual beli.

Selama pandemi, lanjut Firman, banyak masyarakat Indonesia yang terbantu keadaan ekonominya berkat pemanfaatan media sosial untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti berdagang. &quot;Dalam kenyataannya ketika ekonomi hampir tidak bisa berjalan akibat pandemi, yang bisa berjalan akhirnya ekonomi berbasis digital termasuk media sosial,&quot; kata Firman.Hal penting yang harus diperhatikan masyarakat ketika menjalankan  bisnis yang memanfaatkan media sosial adalah membangun kepercayaan  konsumen. Meskipun bisnis tidak dilakukan secara tatap muka dengan  konsumen, para pelaku bisnis harus tetap menjaga kualitas produk yang  dijual serta tidak menipu konsumen.

&quot;Jual produk-produk yang berkualitas dan tidak ingkar janji. Walau  berbisnis tidak dilakukan dengan tatap muka, apa yang ditawarkan itu  memang benar-benar diwujudkan,&quot; kata Firman.

Selain itu menjaga komunikasi dengan konsumen agar tetap beretika  juga menjadi hal penting untuk membangun bisnis pada media digital.

Eksistensi peran media sosial sebagai media untuk kegiatan ekonomi  dipengaruhi oleh para pelaku di dalamnya. Jika pelaku bisnis dapat  menjalankan bisnisnya dengan jujur dan mementingkan kualitas maka media  sosial akan terus menjadi wadah untuk menggerakkan perekonomian  masyarakat.

&quot;Semakin banyak penipuan maka media sosial tidak bisa dipakai lagi  untuk berbisnis. Jadi eksistensi media sosial untuk berbisnis,  berdagang, berkomunikasi, dan sosialisasi bisa terjaga kalau kualitas  kontennya terjaga,&quot; kata Firman.
</content:encoded></item></channel></rss>
