<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peneliti Simulasikan Kematian Bintang, Hasilnya Malah Kepompong Raksasa</title><description>Kepompong ini merupakan gas yang dimuntahkan dari bintang yang sekarat.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/56/2827395/peneliti-simulasikan-kematian-bintang-hasilnya-malah-kepompong-raksasa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/56/2827395/peneliti-simulasikan-kematian-bintang-hasilnya-malah-kepompong-raksasa"/><item><title>Peneliti Simulasikan Kematian Bintang, Hasilnya Malah Kepompong Raksasa</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/56/2827395/peneliti-simulasikan-kematian-bintang-hasilnya-malah-kepompong-raksasa</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/56/2827395/peneliti-simulasikan-kematian-bintang-hasilnya-malah-kepompong-raksasa</guid><pubDate>Kamis 08 Juni 2023 15:44 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/08/56/2827395/peneliti-simulasikan-kematian-bintang-hasilnya-malah-kepompong-raksasa-G18IswwPLl.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kepompong Bintang Sekarat. (Foto: Northwestern University)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/08/56/2827395/peneliti-simulasikan-kematian-bintang-hasilnya-malah-kepompong-raksasa-G18IswwPLl.jpg</image><title>Kepompong Bintang Sekarat. (Foto: Northwestern University)</title></images><description>PROYEK-PROYEK seperti Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (lebih dikenal sebagai LIGO) telah mendeteksi hampir 100 tabrakan antara lubang hitam (dan terkadang bintang neutron). Tabrakan ini pun mengguncang jalinan kosmos dan mengirimkan gelombang tak kasat mata yang beriak melalui ruang angkasa.
Tetapi penelitian baru menunjukkan bahwa LIGO kemungkinan akan menemukan jenis goncangan lain di luar angkasa yang bentuknya seperti kepompong. Kepompong ini merupakan gas yang dimuntahkan dari bintang yang sekarat.
Para peneliti di Universitas Northwestern menggunakan simulasi komputer mutakhir dari bintang masif untuk menunjukkan bagaimana kepompong ini dapat menghasilkan gelombang gravitasi yang tidak mungkin dihindari. Penelitian ini pun telah dipresentasikan minggu ini pada pertemuan ke-242 American Astronomical Society.

BACA JUGA:
Sederet Alasan Pengguna Andorid Mulai Pindah ke iPhone, Harga Bukan Faktor Utama

Saat sebuah bintang mencapai masa hidup mereka, maka mereka runtuh menjadi lubang hitam, mengeluarkan semburan besar partikel yang bergerak sangat cepat pada saat bersamaan. Tim astronom pun mensimulasikan tahap akhir kehidupan bintang ini, dan melihat bahwa ada gelombang gravitasi dalam bintang tersebut.
&quot;Ketika saya menghitung gelombang gravitasi dari sekitar lubang hitam, saya menemukan sumber lain yang mengganggu perhitungan saya, kepompong,&quot; kata ketua peneliti Ore Gottlieb, seorang astronom di Pusat Eksplorasi dan Penelitian Interdisipliner di Astrofisika Northwestern, seperti dilansir dari Live Science.

BACA JUGA:
7 Hewan yang Berhasil Dikloning, Ada Domba hingga Serigala

Kepompong tersebut merupakan gumpalan gas yang bergolak, terbentuk ketika lapisan luar bintang yang runtuh berinteraksi dengan tekanan bertenaga tinggi yang dilepaskan dari dalam. Untuk menghasilkan gelombang gravitasi, bintang tersebut membutuhkan sesuatu yang masif yang bergerak secara asimetris, seperti bahan kepompong yang bergolak.
&quot;Sebuah tekanan mulai jauh di dalam bintang dan kemudian keluar untuk melarikan diri. Ini seperti ketika Anda mengebor lubang ke dinding. Mata bor yang berputar mengenai dinding dan puing-puing tumpah keluar dari dinding,&quot; jelasnya.&quot;Mata bor memberikan energi material. Demikian pula, jet menembus  bintang, menyebabkan material bintang menjadi panas. dan tumpah keluar.  Puing-puing ini membentuk lapisan panas dari kepompong,&quot; tambah dia.
Menurut perhitungan Gottlieb, riak yang dibuat oleh kepompong akan  mudah dideteksi oleh LIGO selama rangkaian pengamatan berikutnya.  Ditambah lagi, kepompong memancarkan cahaya, sehingga para astronom  dapat memperoleh informasi tentang gelombang gravitasi dan teleskop pada  saat yang sama.
Jika LIGO benar-benar melihat kepompong dalam waktu dekat, itu pasti  akan menjadi tampilan baru yang menarik dalam akhir hidup mereka. Ini  juga bisa menjadi pertama kalinya LIGO berhasil mendeteksi gelombang  gravitasi dari individu, bukan dari interaksi antara dua objek biner  yang mengorbit satu sama lain.
&quot;Sampai hari ini, LIGO hanya mendeteksi gelombang gravitasi dari  sistem biner, tetapi suatu hari LIGO akan mendeteksi sumber gelombang  gravitasi non-biner pertama. Kepompong adalah salah satu tempat pertama  yang harus kita cari untuk jenis sumber ini,&quot; kata Gottlieb.</description><content:encoded>PROYEK-PROYEK seperti Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (lebih dikenal sebagai LIGO) telah mendeteksi hampir 100 tabrakan antara lubang hitam (dan terkadang bintang neutron). Tabrakan ini pun mengguncang jalinan kosmos dan mengirimkan gelombang tak kasat mata yang beriak melalui ruang angkasa.
Tetapi penelitian baru menunjukkan bahwa LIGO kemungkinan akan menemukan jenis goncangan lain di luar angkasa yang bentuknya seperti kepompong. Kepompong ini merupakan gas yang dimuntahkan dari bintang yang sekarat.
Para peneliti di Universitas Northwestern menggunakan simulasi komputer mutakhir dari bintang masif untuk menunjukkan bagaimana kepompong ini dapat menghasilkan gelombang gravitasi yang tidak mungkin dihindari. Penelitian ini pun telah dipresentasikan minggu ini pada pertemuan ke-242 American Astronomical Society.

BACA JUGA:
Sederet Alasan Pengguna Andorid Mulai Pindah ke iPhone, Harga Bukan Faktor Utama

Saat sebuah bintang mencapai masa hidup mereka, maka mereka runtuh menjadi lubang hitam, mengeluarkan semburan besar partikel yang bergerak sangat cepat pada saat bersamaan. Tim astronom pun mensimulasikan tahap akhir kehidupan bintang ini, dan melihat bahwa ada gelombang gravitasi dalam bintang tersebut.
&quot;Ketika saya menghitung gelombang gravitasi dari sekitar lubang hitam, saya menemukan sumber lain yang mengganggu perhitungan saya, kepompong,&quot; kata ketua peneliti Ore Gottlieb, seorang astronom di Pusat Eksplorasi dan Penelitian Interdisipliner di Astrofisika Northwestern, seperti dilansir dari Live Science.

BACA JUGA:
7 Hewan yang Berhasil Dikloning, Ada Domba hingga Serigala

Kepompong tersebut merupakan gumpalan gas yang bergolak, terbentuk ketika lapisan luar bintang yang runtuh berinteraksi dengan tekanan bertenaga tinggi yang dilepaskan dari dalam. Untuk menghasilkan gelombang gravitasi, bintang tersebut membutuhkan sesuatu yang masif yang bergerak secara asimetris, seperti bahan kepompong yang bergolak.
&quot;Sebuah tekanan mulai jauh di dalam bintang dan kemudian keluar untuk melarikan diri. Ini seperti ketika Anda mengebor lubang ke dinding. Mata bor yang berputar mengenai dinding dan puing-puing tumpah keluar dari dinding,&quot; jelasnya.&quot;Mata bor memberikan energi material. Demikian pula, jet menembus  bintang, menyebabkan material bintang menjadi panas. dan tumpah keluar.  Puing-puing ini membentuk lapisan panas dari kepompong,&quot; tambah dia.
Menurut perhitungan Gottlieb, riak yang dibuat oleh kepompong akan  mudah dideteksi oleh LIGO selama rangkaian pengamatan berikutnya.  Ditambah lagi, kepompong memancarkan cahaya, sehingga para astronom  dapat memperoleh informasi tentang gelombang gravitasi dan teleskop pada  saat yang sama.
Jika LIGO benar-benar melihat kepompong dalam waktu dekat, itu pasti  akan menjadi tampilan baru yang menarik dalam akhir hidup mereka. Ini  juga bisa menjadi pertama kalinya LIGO berhasil mendeteksi gelombang  gravitasi dari individu, bukan dari interaksi antara dua objek biner  yang mengorbit satu sama lain.
&quot;Sampai hari ini, LIGO hanya mendeteksi gelombang gravitasi dari  sistem biner, tetapi suatu hari LIGO akan mendeteksi sumber gelombang  gravitasi non-biner pertama. Kepompong adalah salah satu tempat pertama  yang harus kita cari untuk jenis sumber ini,&quot; kata Gottlieb.</content:encoded></item></channel></rss>
