<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tahukah Kamu Ikuti Challange di Instagram Bisa Sebabkan Kena Hack Loh</title><description>Penipu juga kerap menyelundup di antara tantangan-tantangan yang beredar di media sosial.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/54/2827215/tahukah-kamu-ikuti-challange-di-instagram-bisa-sebabkan-kena-hack-loh</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/54/2827215/tahukah-kamu-ikuti-challange-di-instagram-bisa-sebabkan-kena-hack-loh"/><item><title>Tahukah Kamu Ikuti Challange di Instagram Bisa Sebabkan Kena Hack Loh</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/54/2827215/tahukah-kamu-ikuti-challange-di-instagram-bisa-sebabkan-kena-hack-loh</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/08/54/2827215/tahukah-kamu-ikuti-challange-di-instagram-bisa-sebabkan-kena-hack-loh</guid><pubDate>Kamis 08 Juni 2023 12:13 WIB</pubDate><dc:creator>Martin Bagya Kertiyasa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/08/54/2827215/tahukah-kamu-ikuti-challange-di-instagram-bisa-sebabkan-kena-hack-loh-XpTb9GONDs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Hacker. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/08/54/2827215/tahukah-kamu-ikuti-challange-di-instagram-bisa-sebabkan-kena-hack-loh-XpTb9GONDs.jpg</image><title>Ilustrasi Hacker. (Foto: Freepik)</title></images><description>BELAKANGAN ini penipuan di dunia digital memang semakin berkembang dengan berbagai metode dan cara. Tidak lagi memanfaatkan email, bahkan mereka menggunakan aplikasi perpesan pribadi seperti WhatsApp untuk melancarkan aksi kejahatannnya.

Apalagi kini semua serba elektronik, baik belanja, transportasi bahkan penilangan. Mereka pun memanfaatkan celah ini untuk mengirimkan malware berbahaya yang digunakan untuk membajak handphone kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu waspada, apalagi dengan kontak yang belum dikenal.

Pengamat budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan mengingatkan, para penipu di ruang digital kerap memanfaatkan kenyamanan dan kelengahan calon korban untuk mendapatkan tujuan mereka.

BACA JUGA:
Hacker Vs Cracker, Siapa yang Lebih Jahat?


&quot;Namanya social engineering. Kenyamanan kita, rasa ingin tahu kita, kelengahan kita, itu semua dimanfaatkan oleh para penipu tadi,&quot; kata Firman seperti dilansir dari Antara.

Menurut Firman, teknologi digital sebenarnya masih jauh dari kata aman sebab banyak orang terpedaya karena social engineering atau rekayasa sosial, di mana penipu melakukan manipulasi yang memanfaatkan sisi psikologis calon korban untuk mendapatkan akses kepada data atau informasi.

Misalnya, penipu mengirimkan pesan yang berisi bahwa calon korban akan menerima kado menjelang hari ulang tahun dan meminta calon korban untuk mengonfirmasi lokasinya.

BACA JUGA:
Perang Hacker Indonesia Vs India Berlanjut, Kini Situs Pemerintah India yang Dibobol


Untuk itu, Firman pun menyarankan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan tidak hanya mengandalkan sisi emosional, tapi juga harus rasional. Jika tidak, maka penipu akan mudah membobol data dan informasi pribadi, bahkan rekening. &quot;Kita perlu pikir, benar enggak kita ulang tahun? Lalu, ada orang yang bilang mau ngasih hadiah enggak?&quot; imbuhnya.

Tidak hanya di aplikasi perpesanan, masyarakat juga harus lebih berhati-hati ketika berselancar di media sosial. Sebab, penipu juga kerap menyelundup di antara tantangan-tantangan yang beredar di media sosial.&quot;Contohnya seperti di Instagram ada tantangan seperti apa fotomu  ketika masih SD? Lalu semua orang menampilkan (fotonya). Ini  dimanfaatkan (oleh penipu), diselipkanlah tantangan seperti apa tanda  tanganmu, apa nama orang tuamu sebelum menikah, dan sebagainya,&quot; ujar  Firman.

Selain masyarakat, Firman mengatakan kewaspadaan juga harus  ditingkatkan oleh para lembaga. Pasalnya, banyak penipu yang mengaku  sebagai lembaga tertentu saat melancarkan aksinya.

&quot;Misalnya kepolisian. Mereka kirim pesan 'Anda ditilang, ini ada  bukti gambar foto penilangan Anda, tolong dibuka aplikasinya,'. Nah  instansi itu perlu mengumumkan bahwa tidak pernah mengeluarkan  penilangan atau undangan pakai APK,&quot; kata Firman.

&quot;Jadi stakeholder ini perlu juga melindungi masyarakat dengan mengomunikasikan hal semacam itu,&quot; lanjut dia.

Begitu juga dengan para penyedia layanan keuangan. Menurutnya,  penyedia layanan keuangan juga harus menyadari bahwa penipu tidak hanya  mengandalkan kelemahan teknologi tapi juga social engineering.

&quot;Sistem keamanannya perlu dijamin oleh bank. Pihak bank juga perlu  mendalami aspek sosial dari teknologi tersebut, kira-kira kelemahan  (teknologi) ini ketika dibobol menggunakan aspek sosial seperti apa,&quot;  tuturnya.
</description><content:encoded>BELAKANGAN ini penipuan di dunia digital memang semakin berkembang dengan berbagai metode dan cara. Tidak lagi memanfaatkan email, bahkan mereka menggunakan aplikasi perpesan pribadi seperti WhatsApp untuk melancarkan aksi kejahatannnya.

Apalagi kini semua serba elektronik, baik belanja, transportasi bahkan penilangan. Mereka pun memanfaatkan celah ini untuk mengirimkan malware berbahaya yang digunakan untuk membajak handphone kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu waspada, apalagi dengan kontak yang belum dikenal.

Pengamat budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan mengingatkan, para penipu di ruang digital kerap memanfaatkan kenyamanan dan kelengahan calon korban untuk mendapatkan tujuan mereka.

BACA JUGA:
Hacker Vs Cracker, Siapa yang Lebih Jahat?


&quot;Namanya social engineering. Kenyamanan kita, rasa ingin tahu kita, kelengahan kita, itu semua dimanfaatkan oleh para penipu tadi,&quot; kata Firman seperti dilansir dari Antara.

Menurut Firman, teknologi digital sebenarnya masih jauh dari kata aman sebab banyak orang terpedaya karena social engineering atau rekayasa sosial, di mana penipu melakukan manipulasi yang memanfaatkan sisi psikologis calon korban untuk mendapatkan akses kepada data atau informasi.

Misalnya, penipu mengirimkan pesan yang berisi bahwa calon korban akan menerima kado menjelang hari ulang tahun dan meminta calon korban untuk mengonfirmasi lokasinya.

BACA JUGA:
Perang Hacker Indonesia Vs India Berlanjut, Kini Situs Pemerintah India yang Dibobol


Untuk itu, Firman pun menyarankan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dengan tidak hanya mengandalkan sisi emosional, tapi juga harus rasional. Jika tidak, maka penipu akan mudah membobol data dan informasi pribadi, bahkan rekening. &quot;Kita perlu pikir, benar enggak kita ulang tahun? Lalu, ada orang yang bilang mau ngasih hadiah enggak?&quot; imbuhnya.

Tidak hanya di aplikasi perpesanan, masyarakat juga harus lebih berhati-hati ketika berselancar di media sosial. Sebab, penipu juga kerap menyelundup di antara tantangan-tantangan yang beredar di media sosial.&quot;Contohnya seperti di Instagram ada tantangan seperti apa fotomu  ketika masih SD? Lalu semua orang menampilkan (fotonya). Ini  dimanfaatkan (oleh penipu), diselipkanlah tantangan seperti apa tanda  tanganmu, apa nama orang tuamu sebelum menikah, dan sebagainya,&quot; ujar  Firman.

Selain masyarakat, Firman mengatakan kewaspadaan juga harus  ditingkatkan oleh para lembaga. Pasalnya, banyak penipu yang mengaku  sebagai lembaga tertentu saat melancarkan aksinya.

&quot;Misalnya kepolisian. Mereka kirim pesan 'Anda ditilang, ini ada  bukti gambar foto penilangan Anda, tolong dibuka aplikasinya,'. Nah  instansi itu perlu mengumumkan bahwa tidak pernah mengeluarkan  penilangan atau undangan pakai APK,&quot; kata Firman.

&quot;Jadi stakeholder ini perlu juga melindungi masyarakat dengan mengomunikasikan hal semacam itu,&quot; lanjut dia.

Begitu juga dengan para penyedia layanan keuangan. Menurutnya,  penyedia layanan keuangan juga harus menyadari bahwa penipu tidak hanya  mengandalkan kelemahan teknologi tapi juga social engineering.

&quot;Sistem keamanannya perlu dijamin oleh bank. Pihak bank juga perlu  mendalami aspek sosial dari teknologi tersebut, kira-kira kelemahan  (teknologi) ini ketika dibobol menggunakan aspek sosial seperti apa,&quot;  tuturnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
