<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>NASA Gelar Pertemuan Publik Pertama Bahas Keberadaan UFO, Apa Hasilnya?</title><description>Dalam pertemuan publik tersebut, NASA mengkaji data terkait Unidentified Anomalous Fenomena (UAP).</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/03/56/2824615/nasa-gelar-pertemuan-publik-pertama-bahas-keberadaan-ufo-apa-hasilnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/03/56/2824615/nasa-gelar-pertemuan-publik-pertama-bahas-keberadaan-ufo-apa-hasilnya"/><item><title>NASA Gelar Pertemuan Publik Pertama Bahas Keberadaan UFO, Apa Hasilnya?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/03/56/2824615/nasa-gelar-pertemuan-publik-pertama-bahas-keberadaan-ufo-apa-hasilnya</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/06/03/56/2824615/nasa-gelar-pertemuan-publik-pertama-bahas-keberadaan-ufo-apa-hasilnya</guid><pubDate>Minggu 04 Juni 2023 06:07 WIB</pubDate><dc:creator>Raden Yusuf</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/06/03/56/2824615/nasa-gelar-pertemuan-publik-pertama-bahas-keberadaan-ufo-apa-hasilnya-8DDgvmsTBJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pertemuan NASA. (Foto: NASA TV)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/06/03/56/2824615/nasa-gelar-pertemuan-publik-pertama-bahas-keberadaan-ufo-apa-hasilnya-8DDgvmsTBJ.jpg</image><title>Pertemuan NASA. (Foto: NASA TV)</title></images><description>BADAN Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) akhirnya membuka pertemuan umum untuk membahas seputar anomai luar angkasa. Salah satu yang menjadi pokok bahasan tentu saja keberadaan UFO, apalagi baru-baru ini NASA memperlihatkan UFO terbang di wilayah Timur Tengah.

Dalam pertemuan publik tersebut, NASA mengkaji data terkait Unidentified Anomalous Fenomena (UAP). Istilah ini digunakan mencakup objek atau kejadian di langit, bawah air, atau di ruang angkasa yang tidak bisa segera diidentifikasi.

Guna mempelajari keberadaan UFO, NASA memang menggelontorkan dana sekira USD100.000 atau sekitar Rp1,5 miliar untuk pertemuan publik tersebut. Adapun mereka yang ikut bergabung, yakni mantan astronot Scott Kelly, dan 15 peneliti lainnya dari berbagai bidang. Seperti bidan astronomi, oseanografi, hingga jurnalistik.

BACA JUGA:
NASA Berhasil Rekam Detik-Detik UFO Muncul di Timur Tengah


Selama telekonferensi pasca-pertemuan, ahli astrofisika David Spergel selaku ketua kelompok studi dan mantan anggota Dewan Penasihat NASA, membandingkan studi UAP dengan semburan radio cepat (FRB), semburan gelombang radio yang kuat dari galaksi jauh yang awalnya diperkirakan menjadi anomali.

&quot;Kadang-kadang anomali sangat menarik dan menunjukkan fenomena fisik baru. Dan saya pikir ada sejumlah pelajaran menarik yang dipelajari di sana,&quot; kata Spergel seperti yang dikutip dari Space.com.

BACA JUGA:
Tumbuhan Apa yang Pertama Kali Ada di Muka Bumi?


Lebih lanjut Spergel menjelaskan bahwa untuk melakukan pengamatan khusus, para peneliti harus mencari tempat khusus dan mengoptimalkan strategi pengamatan. &quot;Anda harus memutuskan mencari cara di mana Anda dapat melakukan pengamatan khusus dan mengoptimalkan strategi pengamatan Anda untuk dapat melakukan itu,&quot; tambah Spergel.

Spergel juga menyoroti soal upaya pengumpulan data saat ini terkait UAP. Menurutnya upaya tersebut tidak sistematis dan terfragmentasi di berbagai lembaga, dan kerap kali menggunakan instrumen yang tidak dikalibrasi untuk pengumpulan data ilmiah.Menurutnya, ketika ada klaim yang memperlihatkan bukti kecerdasan  non-manusia, maka harus didukung dengan bukti yang luar biasa, dan  pihaknya belum melihat hal itu. &quot;Saya pikir itu penting untuk  diperjelas,&quot; tegas Spergel.

Selama pidato pembukaan dalam audiensi tersebut, anggota tim studi  independen UAP menjelaskan bahwa hambatan terbesar dalam memahami  fenomena tak dikenal ialah kurangnya data.

Terkait UAP, Daniel Evans yang merupakan asisten deputi administrator  asosiasi untuk penelitian dalam Direktorat Misi Sains NASA mencatat,  bahwa karena minat publik terhadap UAP Sangat tinggi, NASA bertanggung  jawab untuk memberikan topik tersebut dengan pengawasan ilmiah yang  ketat.

&quot;Pengawasan ilmiah yang ketat itu sangat penting, karena itu kita  harus memperluas pemahaman kita tentang dunia sekitar,&quot; jelas Evans.

Tidak sampai disitu, Evans juga mengatakan bahwa penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang apa yang  ada di udara dan membuat langit lebih aman.

&quot;Adalah kewajiban bangsa ini untuk menentukan apakah fenomena ini  berpotensi menimbulkan risiko bagi keselamatan wilayah udara,&quot; tegasnya.
</description><content:encoded>BADAN Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) akhirnya membuka pertemuan umum untuk membahas seputar anomai luar angkasa. Salah satu yang menjadi pokok bahasan tentu saja keberadaan UFO, apalagi baru-baru ini NASA memperlihatkan UFO terbang di wilayah Timur Tengah.

Dalam pertemuan publik tersebut, NASA mengkaji data terkait Unidentified Anomalous Fenomena (UAP). Istilah ini digunakan mencakup objek atau kejadian di langit, bawah air, atau di ruang angkasa yang tidak bisa segera diidentifikasi.

Guna mempelajari keberadaan UFO, NASA memang menggelontorkan dana sekira USD100.000 atau sekitar Rp1,5 miliar untuk pertemuan publik tersebut. Adapun mereka yang ikut bergabung, yakni mantan astronot Scott Kelly, dan 15 peneliti lainnya dari berbagai bidang. Seperti bidan astronomi, oseanografi, hingga jurnalistik.

BACA JUGA:
NASA Berhasil Rekam Detik-Detik UFO Muncul di Timur Tengah


Selama telekonferensi pasca-pertemuan, ahli astrofisika David Spergel selaku ketua kelompok studi dan mantan anggota Dewan Penasihat NASA, membandingkan studi UAP dengan semburan radio cepat (FRB), semburan gelombang radio yang kuat dari galaksi jauh yang awalnya diperkirakan menjadi anomali.

&quot;Kadang-kadang anomali sangat menarik dan menunjukkan fenomena fisik baru. Dan saya pikir ada sejumlah pelajaran menarik yang dipelajari di sana,&quot; kata Spergel seperti yang dikutip dari Space.com.

BACA JUGA:
Tumbuhan Apa yang Pertama Kali Ada di Muka Bumi?


Lebih lanjut Spergel menjelaskan bahwa untuk melakukan pengamatan khusus, para peneliti harus mencari tempat khusus dan mengoptimalkan strategi pengamatan. &quot;Anda harus memutuskan mencari cara di mana Anda dapat melakukan pengamatan khusus dan mengoptimalkan strategi pengamatan Anda untuk dapat melakukan itu,&quot; tambah Spergel.

Spergel juga menyoroti soal upaya pengumpulan data saat ini terkait UAP. Menurutnya upaya tersebut tidak sistematis dan terfragmentasi di berbagai lembaga, dan kerap kali menggunakan instrumen yang tidak dikalibrasi untuk pengumpulan data ilmiah.Menurutnya, ketika ada klaim yang memperlihatkan bukti kecerdasan  non-manusia, maka harus didukung dengan bukti yang luar biasa, dan  pihaknya belum melihat hal itu. &quot;Saya pikir itu penting untuk  diperjelas,&quot; tegas Spergel.

Selama pidato pembukaan dalam audiensi tersebut, anggota tim studi  independen UAP menjelaskan bahwa hambatan terbesar dalam memahami  fenomena tak dikenal ialah kurangnya data.

Terkait UAP, Daniel Evans yang merupakan asisten deputi administrator  asosiasi untuk penelitian dalam Direktorat Misi Sains NASA mencatat,  bahwa karena minat publik terhadap UAP Sangat tinggi, NASA bertanggung  jawab untuk memberikan topik tersebut dengan pengawasan ilmiah yang  ketat.

&quot;Pengawasan ilmiah yang ketat itu sangat penting, karena itu kita  harus memperluas pemahaman kita tentang dunia sekitar,&quot; jelas Evans.

Tidak sampai disitu, Evans juga mengatakan bahwa penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang apa yang  ada di udara dan membuat langit lebih aman.

&quot;Adalah kewajiban bangsa ini untuk menentukan apakah fenomena ini  berpotensi menimbulkan risiko bagi keselamatan wilayah udara,&quot; tegasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
