<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jepang Bakal Bawa Matahari Buatan ke Luar Angkasa di 2025</title><description>Jepang membuat terobosan saat para ilmuwan JAXA berhasil memancarkan daya 1,8 kilowatt.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/29/56/2821889/jepang-bakal-bawa-matahari-buatan-ke-luar-angkasa-di-2025</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/29/56/2821889/jepang-bakal-bawa-matahari-buatan-ke-luar-angkasa-di-2025"/><item><title>Jepang Bakal Bawa Matahari Buatan ke Luar Angkasa di 2025</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/29/56/2821889/jepang-bakal-bawa-matahari-buatan-ke-luar-angkasa-di-2025</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/29/56/2821889/jepang-bakal-bawa-matahari-buatan-ke-luar-angkasa-di-2025</guid><pubDate>Senin 29 Mei 2023 16:22 WIB</pubDate><dc:creator>Raden Yusuf</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/29/56/2821889/jepang-bakal-bawa-matahari-buatan-ke-luar-angkasa-di-2025-EfFBixqvz6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Matahari Buatan Jepang. (Foto: NHK)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/29/56/2821889/jepang-bakal-bawa-matahari-buatan-ke-luar-angkasa-di-2025-EfFBixqvz6.jpg</image><title>Matahari Buatan Jepang. (Foto: NHK)</title></images><description>MATAHARI memang menjadi salah satu sumber energi yang tidak akan habis sampai beribu tahun ke depan. Tapi, saat ini pemanfaatan energi matahari memang masih sangat minim.

Selain itu, salah satu kelemahan tenaga matahari adalah hanya bisa didapatkan selama setengah hari. Oleh karena itu, banyak yang memilih menyimpan energi matahari tersebut dalam bentuk baterai setelah disimpan lewat solar cell.

BACA JUGA:
Teleskop Terbesar di Dunia Berhasil Tangkap Gambar Matahari dalam Siklus Puncaknya


Bahkan, Jepang pun mengambil langkah lebih jauh dengan membuat matahari buatan. Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) atau badan luar angkasa Jepang, dikabarkan telah menghabiskan puluhan tahun untuk mencoba membuat sebuah alat yang memancarkan energi matahari dari luar angkasa.

Negara tersebut membuat terobosan energi matahari berbasis luar angkasa sejak tahun 2015 lalu. Pada tahun 2015, Jepang membuat terobosan saat para ilmuwan JAXA berhasil memancarkan daya 1,8 kilowatt, energi yang cukup untuk menyalakan ketel listrik lebih dari 50 meter ke penerima nirkabel.

BACA JUGA:
Ilmuwan Akhirnya Berhasil Translate Bahasa Simpanse


Seperti yang dilansir dari laman engadget, setelah JAXA membuat alat canggih tersebut, kabarnya Jepang akan membawa teknologi tersebut selangkah lebih dekat dengan kenyataan. Mengenai langkah tersebut, Nikkei melaporkan bahwa kemitraan publik-swasta Jepang akan mencoba memancarkan energi matahari dari luar angkasa paling cepat tahun 2025.

Proyek yang cukup mengejutkan tersebut dipimpin oleh Naoki Shinohara, seorang profesor Universitas Kyoto yang sudah mengerjakan energi matahari berbasis ruang angkasa sejak 2009 lalu. Naoki akan mencoba untuk menyebarkan serangkaian satelit kecil pada orbit, kemudian akan mencoba memancarkan energi matahari yang dikumpulkan oleh array ke stasiun penerima berbasis darat, yang jaraknya mencapai ratusan mil.Sebagai informasi, menggunakan panel surya orbital serta gelombang  mikro untuk mengirimkan energi Bumi, pertama kali diusulkan pada tahun  1968 lalu. Sejak saat itu, sejumlah negara termasuk China dan Amerika  Serikat menghabiskan waktu dan uang untuk mengejar ide tersebut.

Teknologi tersebut sangat menarik, lantaran susunan surya orbit  mewakili pasokan energi terbarukan yang berpotensi tidak terbatas. Di  luar angkasa sendiri, panel surya bisa mengumpulkan energi kapanpun  waktunya, dan dengan menggunakan gelombang mikro untuk memancarkan daya  yang dihasilkannya, awan pun tidak menjadi masalah.

Apabila nantinya Jepang sukses menyebarkan satu set susunan surya  orbit, teknologinya masih lebih dekat dengan fiksi ilmiah dibanding  fakta. Karena, memproduksi Array yang bisa menghasilkan 1 gigawatt atau  sekitar keluaran satu reaktor nuklir, akan menelan biaya sekitar USD 7  miliar atau sekitar Rp104 triliun dengan teknologi yang tersedia saat  ini.
</description><content:encoded>MATAHARI memang menjadi salah satu sumber energi yang tidak akan habis sampai beribu tahun ke depan. Tapi, saat ini pemanfaatan energi matahari memang masih sangat minim.

Selain itu, salah satu kelemahan tenaga matahari adalah hanya bisa didapatkan selama setengah hari. Oleh karena itu, banyak yang memilih menyimpan energi matahari tersebut dalam bentuk baterai setelah disimpan lewat solar cell.

BACA JUGA:
Teleskop Terbesar di Dunia Berhasil Tangkap Gambar Matahari dalam Siklus Puncaknya


Bahkan, Jepang pun mengambil langkah lebih jauh dengan membuat matahari buatan. Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) atau badan luar angkasa Jepang, dikabarkan telah menghabiskan puluhan tahun untuk mencoba membuat sebuah alat yang memancarkan energi matahari dari luar angkasa.

Negara tersebut membuat terobosan energi matahari berbasis luar angkasa sejak tahun 2015 lalu. Pada tahun 2015, Jepang membuat terobosan saat para ilmuwan JAXA berhasil memancarkan daya 1,8 kilowatt, energi yang cukup untuk menyalakan ketel listrik lebih dari 50 meter ke penerima nirkabel.

BACA JUGA:
Ilmuwan Akhirnya Berhasil Translate Bahasa Simpanse


Seperti yang dilansir dari laman engadget, setelah JAXA membuat alat canggih tersebut, kabarnya Jepang akan membawa teknologi tersebut selangkah lebih dekat dengan kenyataan. Mengenai langkah tersebut, Nikkei melaporkan bahwa kemitraan publik-swasta Jepang akan mencoba memancarkan energi matahari dari luar angkasa paling cepat tahun 2025.

Proyek yang cukup mengejutkan tersebut dipimpin oleh Naoki Shinohara, seorang profesor Universitas Kyoto yang sudah mengerjakan energi matahari berbasis ruang angkasa sejak 2009 lalu. Naoki akan mencoba untuk menyebarkan serangkaian satelit kecil pada orbit, kemudian akan mencoba memancarkan energi matahari yang dikumpulkan oleh array ke stasiun penerima berbasis darat, yang jaraknya mencapai ratusan mil.Sebagai informasi, menggunakan panel surya orbital serta gelombang  mikro untuk mengirimkan energi Bumi, pertama kali diusulkan pada tahun  1968 lalu. Sejak saat itu, sejumlah negara termasuk China dan Amerika  Serikat menghabiskan waktu dan uang untuk mengejar ide tersebut.

Teknologi tersebut sangat menarik, lantaran susunan surya orbit  mewakili pasokan energi terbarukan yang berpotensi tidak terbatas. Di  luar angkasa sendiri, panel surya bisa mengumpulkan energi kapanpun  waktunya, dan dengan menggunakan gelombang mikro untuk memancarkan daya  yang dihasilkannya, awan pun tidak menjadi masalah.

Apabila nantinya Jepang sukses menyebarkan satu set susunan surya  orbit, teknologinya masih lebih dekat dengan fiksi ilmiah dibanding  fakta. Karena, memproduksi Array yang bisa menghasilkan 1 gigawatt atau  sekitar keluaran satu reaktor nuklir, akan menelan biaya sekitar USD 7  miliar atau sekitar Rp104 triliun dengan teknologi yang tersedia saat  ini.
</content:encoded></item></channel></rss>
