<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>CEO OpenAI yang Buat ChatGPT Ancam Keluar dari Eropa, Ada Apa?</title><description>Salah satu kawasan yang bertindak cepat untuk membatasi AI ini adalah Eropa.</description><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/26/54/2820323/ceo-openai-yang-buat-chatgpt-ancam-keluar-dari-eropa-ada-apa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/26/54/2820323/ceo-openai-yang-buat-chatgpt-ancam-keluar-dari-eropa-ada-apa"/><item><title>CEO OpenAI yang Buat ChatGPT Ancam Keluar dari Eropa, Ada Apa?</title><link>https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/26/54/2820323/ceo-openai-yang-buat-chatgpt-ancam-keluar-dari-eropa-ada-apa</link><guid isPermaLink="false">https://ototekno.okezone.com/read/2023/05/26/54/2820323/ceo-openai-yang-buat-chatgpt-ancam-keluar-dari-eropa-ada-apa</guid><pubDate>Jum'at 26 Mei 2023 11:12 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/05/26/54/2820323/ceo-openai-ancam-keluar-dari-eropa-ada-apa-yrF9KkpeiB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ChatGPT. (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/05/26/54/2820323/ceo-openai-ancam-keluar-dari-eropa-ada-apa-yrF9KkpeiB.jpg</image><title>ChatGPT. (Foto: Freepik)</title></images><description>CHATBOT yang mengandalkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang tengah populer. Dimotori oleh OpenAI dengan ChatGPT mereka, chatbot AI pun semakin populer dan banyak dikembangkan.
Meski demikian, ketika ada teknologi yang berkembang maka ada juga kemungkinan untuk digunakan sebagai kejahatan digital. Oleh karena itu, perlu dibuat peraturan tentang AI yang dapat membatasi dan melindungi hak-hak masyarakat yang menggunakannya.

BACA JUGA:
Para Jomblo Wajib Tahu, 5 Warna Ini Bisa Bikin Kamu Dilirik Lawan Jenis Loh

Salah satu kawasan yang bertindak cepat untuk membatasi AI ini adalah Eropa. Meski demikian, dikhawatirkan bahwa regulasi yang diterapkan di Eropa terlalu ketat. CEO OpenAI Sam Altman pun mempertimbangkan keluar dari Eropa jika regulasi kecerdasan buatan di kawasan tersebut terlalu ketat.
OpenAI, penyedia ChatGPT, akan berusaha mematuhi regulasi yang berlaku di Eropa ketika aturan sudah diterapkan, seperti diberitakan laman Time dan Reuters, Kamis. Eropa sedang merancang regulasi untuk artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan, yang akan menjadi aturan pertama di dunia soal teknologi tersebut.

BACA JUGA:
Senggol Tiket Coldplay, Tiket DOTA 2 Bali Major Rp13 Juta Ludes dalam Hitungan Jam

&quot;Jika kami bisa mematuhi, kami akan patuhi. Jika tidak bisa, kami akan berhenti beroperasi. Kami akan mencoba, tapi, ada keterbatasan teknis soal apa yang mungkin dilakukan,&quot; kata Altman dalam sebuah acara di University College London seperti dilansir dari Antara.
OpenAI, kata Altman, sudah menyampaikan kritik mereka soal rancangan undan-undang AI Eropa, khususnya penyebutan teknologi AI generatif yang dimasukkan kategori &quot;risiko tinggi&quot; dalam RUU AI itu. Dalam RUU AI Eropa, perusahaan yang menyediakan teknologi &quot;risiko tinggi&quot; haru mematuhi persyaratan tambahan tentang keamanan.&quot;Draf RUU AI Eroa yang ada saat ini terlalu ketat, tapi, yang kami  dengar, RUU itu akan ditarik. Mereka masih membahasnya,&quot; kata Altman  kepada Reuters.
OpenAI berargumen sistem mereka secara umum tidak berisiko tinggi.  Meski mengkritik, Altman tidak berpendapat bahwa RUU itu sama sekali  tidak baik. Dia juga mengkhawatirkan berbagai risiko yang bisa  ditimbulkan oleh penggunaan AI generatif, misalnya disinformasi  menjelang Pemilu Amerika Serikat 2024.
Dia menilai langkah yang dilakukan oleh platform media sosial lebih  penting dibandingkan AI. Jika hoaks yang dihasilkan AI generatif tidak  disebarkan, masalah tidak begitu besar, menurut Altman.</description><content:encoded>CHATBOT yang mengandalkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang tengah populer. Dimotori oleh OpenAI dengan ChatGPT mereka, chatbot AI pun semakin populer dan banyak dikembangkan.
Meski demikian, ketika ada teknologi yang berkembang maka ada juga kemungkinan untuk digunakan sebagai kejahatan digital. Oleh karena itu, perlu dibuat peraturan tentang AI yang dapat membatasi dan melindungi hak-hak masyarakat yang menggunakannya.

BACA JUGA:
Para Jomblo Wajib Tahu, 5 Warna Ini Bisa Bikin Kamu Dilirik Lawan Jenis Loh

Salah satu kawasan yang bertindak cepat untuk membatasi AI ini adalah Eropa. Meski demikian, dikhawatirkan bahwa regulasi yang diterapkan di Eropa terlalu ketat. CEO OpenAI Sam Altman pun mempertimbangkan keluar dari Eropa jika regulasi kecerdasan buatan di kawasan tersebut terlalu ketat.
OpenAI, penyedia ChatGPT, akan berusaha mematuhi regulasi yang berlaku di Eropa ketika aturan sudah diterapkan, seperti diberitakan laman Time dan Reuters, Kamis. Eropa sedang merancang regulasi untuk artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan, yang akan menjadi aturan pertama di dunia soal teknologi tersebut.

BACA JUGA:
Senggol Tiket Coldplay, Tiket DOTA 2 Bali Major Rp13 Juta Ludes dalam Hitungan Jam

&quot;Jika kami bisa mematuhi, kami akan patuhi. Jika tidak bisa, kami akan berhenti beroperasi. Kami akan mencoba, tapi, ada keterbatasan teknis soal apa yang mungkin dilakukan,&quot; kata Altman dalam sebuah acara di University College London seperti dilansir dari Antara.
OpenAI, kata Altman, sudah menyampaikan kritik mereka soal rancangan undan-undang AI Eropa, khususnya penyebutan teknologi AI generatif yang dimasukkan kategori &quot;risiko tinggi&quot; dalam RUU AI itu. Dalam RUU AI Eropa, perusahaan yang menyediakan teknologi &quot;risiko tinggi&quot; haru mematuhi persyaratan tambahan tentang keamanan.&quot;Draf RUU AI Eroa yang ada saat ini terlalu ketat, tapi, yang kami  dengar, RUU itu akan ditarik. Mereka masih membahasnya,&quot; kata Altman  kepada Reuters.
OpenAI berargumen sistem mereka secara umum tidak berisiko tinggi.  Meski mengkritik, Altman tidak berpendapat bahwa RUU itu sama sekali  tidak baik. Dia juga mengkhawatirkan berbagai risiko yang bisa  ditimbulkan oleh penggunaan AI generatif, misalnya disinformasi  menjelang Pemilu Amerika Serikat 2024.
Dia menilai langkah yang dilakukan oleh platform media sosial lebih  penting dibandingkan AI. Jika hoaks yang dihasilkan AI generatif tidak  disebarkan, masalah tidak begitu besar, menurut Altman.</content:encoded></item></channel></rss>
